Inilah Pesan-pesan Twitter yang Menolong Wartawan Jepang  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kosuke Tsuneoka (dailymail.co.uk + rawa.org)

    Kosuke Tsuneoka (dailymail.co.uk + rawa.org)

    TEMPO Interaktif, Jakarta - Seorang wartawan Jepang yang sempat diculik di Afghanistan berhasil menipu penculiknya dan memakai Twitter untuk mengirimkan kabar soal keadaannya. Beginilah pesan-pesan Twitter yang dikirimkannya ke akunnya.

    "Saya masih hidup, tapi dipenjara." Pesan ini dikirimkan pada Jumat pukul 1:15 petang waktu GMT.

    Beberapa menit kemudian pesan kedua muncul: "Ini adalah Archi di kunduz. Dalam penjara Komandan Lativ." Pesan ini berbicara tentang Distrik Dasht-e-Archi di Kunduz, dimana dia ditahan.

    Beberapa hari sebelum dibebaskan, Kosuke Tsuneoka, sang wartawan itu, ditemui seorang penculiknya yang baru saja membeli sebuah ponsel baru. Si penculik memintanya mengaktifkan dan mengatur isi ponsel tersebut.

    Si penculik muda itu rupanya tertarik mengakses Al-Jazeera di ponsel, namun Tsuneoka malah menceritakan soal Twitter. Si penculik pun tertarik dan memintanya menjelaskan bagaimana Twitter bekerja.

    “Begitulah bagaimana saya bisa mengirimkan pesan,” kata Tsuneoka dalam sebuah konferensi pers kemarin, sehari setelah dibebaskan dan pulang ke Jepang dengan selamat. “Saya yakin, mereka tak sadar sudah ditipu.”

    Tsuneoka diculik oleh kelompok yang menyebut dirinya Taliban sejak April di bagian selatan provinsi Kunduz dan Takhar. Wartawan freelance itu sudah sempat berpikir bahwa dirinya takkan bisa keluar dari sana hidup-hidup.

    Untunglah ada Twitter, meski bukan jejaring sosial itu yang menyelamatkannya. Tsuneoka sudah menjadi Islam pada 2000 dan itulah yang membuatnya dibebaskan.

    DEDDY SINAGA | BERBAGAI SUMBER


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sah Tidak Sah Bitcoin sebagai Alat Pembayaran yang di Indonesia

    Bitcoin menjadi perbincangan publik setelah Tesla, perusahaan milik Elon Musk, membeli aset uang kripto itu. Bagaimana keabsahan Bitcoin di Indonesia?