Guntur Tak Lagi Berpuasa  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta - Ketika lulus dari Teknik Elektro Universitas Gadjah Mada pada 2003, Guntur Sarwohadi mestinya bisa dengan leluasa mendapatkan pekerjaan dengan gaji menggiurkan. Tapi dia memilih jalan yang tidak gampang: membuat game.

    "Penasaran," kata Guntur, 30 tahun, beralasan. Ketika itu, baru segelintir orang di Indonesia yang menekuni pembuatan game. Guntur, yang semasa kuliah tidak mendapat pelajaran khusus membuat game, harus belajar keras. Game buatannya pun sempat ditolak publisher. Selama empat tahun, dia tak mendapat uang sama sekali dari game. "Dapat duitnya dari bekerja di tempat lain dan mengerjakan proyek."

    Baru pada 2007, duit mulai mengalir ke rekening Soybeansoft, studio game yang dia dirikan bersama seorang temannya di Yogyakarta. Dari satu game yang laris seperti Skyfyre, misalnya, dia bisa mendapatkan puluhan juta rupiah. Total sudah delapan game dihasilkan Soybeansoft. Guntur juga menerima pesanan pembuatan game yang nilainya berkisar US$ 5.000 atau sekitar Rp 45 juta per game.

    Sempat mengalami lesu darah, bisnis game kini berkembang pesat. Di Yogyakarta saja ada enam studio game yang aktif. Sebagian besar dari mereka memang masih sangat belia, tapi sudah menghasilkan duit ratusan juta rupiah. Di Agate Studio, Bandung, Arief Widhiyasa, 23 tahun, yang masih duduk di bangku kuliah Jurusan Teknik Informatika Institut Teknologi Bandung, dalam sebulan bisa menghasilkan hampir Rp 100 juta dari bisnis pembuatan game bersama teman-temannya. (Baca juga: Menyebarkan Candu Game Indonesia)

    Sebenarnya, usaha mereka meraup fulus beratus juta rupiah tak terjadi dalam semalam. Bisnis pembuatan game ini juga bukan semata merancang game, memajangnya di Apple Store atau Android Store, kemudian duit otomatis mengalir deras ke rekening, sementara pembuatnya tinggal ongkang-ongkang kaki di rumah.

    Kris "kerissakti" Antoni dan Sudarmin "S6N" Then harus rela "puasa" tiga bulan ketika mendirikan Toge Productions. "Tidak ada pemasukan sama sekali," kata Sudarmin dua pekan lalu. Padahal, sebelumnya, Kris Antoni dan Sudarmin Then memiliki penghasilan lumayan.

    Kris pernah bekerja di Matahari Studio, Jakarta. Sebelum tutup awal tahun lalu, Matahari merupakan studio game terbesar di negeri ini. Kliennya perusahaan game besar, seperti Electronic Arts dan Sony Computer Entertainment. Matahari adalah anak perusahaan Leisure and Allied Industries asal Australia. Sedangkan Sudarmin bekerja di Trippert Labs, studio asal Delaware, Amerika Serikat, dengan sistem kerja jarak jauh. Keduanya juga pernah bekerja di Altermyth Studio, developer game di Jakarta yang membuat permainan online Inspirit Arena.

    Untung, perhitungan mereka lumayan jitu. Hanya dalam setahun, setelah seri game Flash Infectonator dilansir, fulus mulai lancar mengalir. Seri Infectonator, terutama Infectonator! World Dominator, menjadi game terlaris di beberapa situs game, seperti Bubblebox dan Kongregate. Dari duit Infectonator, mereka mulai mengepakkan sayap usaha. Kris dan Sudarmin menyewa salah satu lantai rumah toko di kawasan Bumi Serpong Damai dan merekrut tenaga tambahan. (Baja juga: Seribu Satu Cara Mendulang Dolar dari Game)

    Lain lagi cerita Roy Winata dan Agustinus Feiry, pemilik studio game Global Dinamika Informatika Plus. Dari semula iseng membuat iWriteWords untuk Apple iPhone, Roy justru bisa meraup ratusan juta rupiah. Game ini juga mendapat penghargaan sebagai "2009 Best App Ever Awards Winner" di iTunes.

    Melihat hasil isengnya, Roy kemudian serius menekuni bisnis pembuatan game. Tujuh game sudah dilansir. Tapi hanya tiga game yang memberikan hasil. Sisanya malah jeblok. "Bahkan ada yang cuma mendapat satu juta rupiah," ujar Roy. Namun sebenarnya bagi mereka belum terang benar seperti apa selera pengguna iPhone ataupun iPad. (baca juga: Mereka Jagoan Kita)

    Menurut Roy, beberapa kali ulasan di media Amerika Serikat, seperti The New York Times, pun tidak serta-merta membuat game buatan mereka ramai diunduh. Lonjakan terjadi setelah game mereka dipasang di halaman depan situs Apple. "Akhirnya kami percaya, kalau tujuan dari awal mencari uang, hasilnya malah buruk," katanya.

    Nur Khoiri | Rudy Prasetyo | SP

    BERITA TERKAIT:

    Menyebarkan Candu Game Indonesia

    Seribu Satu Cara Mendulang Dolar dari Game

    Mereka Jagoan Kita

    Guntur Tak Lagi Berpuasa

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Unggah Sertifikat Vaksinasi Covid-19 ke Media Sosial

    Menkominfo Johnny G. Plate menjelaskan sejumlah bahaya bila penerima vaksin Sinovac mengunggah atau membagikan foto sertifikat vaksinasi Covid-19.