Pilih Televisi Plasma, LCD atau LED?

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • menonton acara televisi. Tempo/Dinul Mubarok

    menonton acara televisi. Tempo/Dinul Mubarok

    TEMPO Interaktif, Jakarta - Dalam beberapa tahun terakhir perkembangan teknologi televisi kian cepat. Ada plasma, LCD dan LED yang tipis seperti kue leker. Sebagai konsumen, terkadang kita bingung perbedaan televisi yang makin lama makin tipis itu. 

    Menurut Manajer Produk Televisi PT Samsung Elektronik Indonesia Ubay Bayanudin, perbedaan jenis televisi itu terletak pada teknologi penghasil gambar. Televisi generasi lampau menghasilkan gambar dari lompatan elektronik di tabung katoda. Keuntungan televisi jenis ini cuma satu: harga yang murah. Ukuran 14 inci bisa dibawa pulang dengan uang Rp 500 ribuan.

    Kualitasnya dikangkangi televisi generasi berikut, yang mengganti tabung dengan lampu di latar untuk menghasilkan gambar. Televisi plasma menggunakan panel berpijar. Menurut Ubay, teknologi ini unggul dalam kontras gambar yang tinggi, setara dengan teknologi tercanggih televisi LED. Tapi pencahayaan kurang, sehingga gambar lebih teduh.

    Akibatnya televisi plasma terlihat kurang mentereng saat dipajang di toko, ketimbang saudara mudanya, LCD dan LED. "Tapi kalau di ruang keluarga home-theater, kurangnya pencahayaan tidak begitu terasa," ujarnya kepada Tempo, Selasa (28/9).

    Liquid Crystal Display menggunakan lampu florescent, semacam neon, yang berpendar. "Gambarnya jadi lebih terang, desain lebih tipis, dan konsumsi listrik lebih hemat," katanya.

    Nah, yang terkini adalah televisi LED. "Beda di lampu latar, LED menggunakan Light-emitting diode," ujar Ubay. Lampu ini sama seperti yang digunakan lampu lalu lintas dan layar televisi raksasa di iklan pinggir jalan, yang dapat bersinar terang saat matahari terik maupun gelap. Ketimbang LCD, LED memiliki area kontras yang lebih tinggi, spektrum warna yang lebih banyak, dan konsumsi listrik yang lebih hemat.

    Sebagai teknologi terkini, harga LED jauh melampaui televisi lainnya. Menurut Ubay, itu wajar mengingat skala ekonomis. "Setelah tercapai break even point, pasti produsen akan mengejar kuantitas dan menurunkan harga," katanya. Tren yang sama pernah terjadi saat ini pada televisi LCD, yang harganya menurun seiring munculnya teknologi LED yang lebih anyar.

    REZA M


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Angin Prayitno Aji dan Tiga Perusahaan yang Diperiksa KPK dalam Kasus Suap Pajak

    Angin Prayitno Aji dan Dadan Ramdani ditetapkan KPK sebagai tersangka kasus suap pajak. Dari 165 perusahaan, 3 sedang diperiksa atas dugaan kasus itu.