Facebook Gugat Spammer  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Facebook CEO, Mark Zuckerberg. AP Photo/Paul Sakuma

    Facebook CEO, Mark Zuckerberg. AP Photo/Paul Sakuma

    TEMPO Interaktif, California - Facebook mengajukan tiga gugatan antispam terhadap mereka yang dianggap menyalahgunakan situs jejaring sosial tersebut. Dalam pernyataan resminya, perusahaan yang dipimpin Mark Zuckerberg menggugat satu perusahaan dan dua orang yang terindikasi menyebarkan spam dengan menawarkan penipuan.

    "Pekan ini kami mengajukan tiga tuntutan hukum di pengadilan federal Amerika Serikat di San Jose, California," tulis Facebook. Mereka yang digugat adalah Steven Richter, Jason Swan, dan Max Bounty Inc. "Mereka kerap menawarkan sesuatu yang memikat tetapi tidak ada produk atau jasanya."

    Dalam tuntutannya, Swan yang berdomisili di Long Island, dituduh telah menjalankan lebih dari 27 profil palsu, 13 halaman palsu, dan 7 aplikasi yang menjadi bagian dari afiliasi pemasaran iklan. Adapun Richter, yang berdomisili sama dengan Swan dituduh menjalankan sekitar 40 profil palsu dan 43 halaman palsu.

    Sementara itu, Max Bounty Inc. yang berbasis di Kanada dianggap telah menyalahgunakan logo Facebook dalam surat penawaran yang menjanjikan hadiah gratis berupa iPad dan sebagainya. Mereka bertiga dijerat dengan Undang-undang Penipuan dan Penyalahgunaan Komputer (CAN-SPAM).

    Tahun lalu, Facebook diganjar US$ 711 juta atas putusan pengadilan yang menyatakan Sanford Wallace bersalah karena terbukti melakukan pencurian data pengguna Facebook. Wallace yang dijuluki "raja spam" itu dilarang menggunakan Facebook selamanya. Pada tahun yang sama, Facebook juga mendapat 'hadiah' US$ 873 juta terkait penyalahgunaan situs. Bila ditotal, sepanjang tahun 2008, Facebook meraup dana US$ 1,5 trilun sebagai ganti rugi atas penyalahgunaan situsnya.

    Cnet|Rini K


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sah Tidak Sah Bitcoin sebagai Alat Pembayaran yang di Indonesia

    Bitcoin menjadi perbincangan publik setelah Tesla, perusahaan milik Elon Musk, membeli aset uang kripto itu. Bagaimana keabsahan Bitcoin di Indonesia?