Duet Terakhir Garmin Asus

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta - Mulai tahun depan, kita takkan menemukan lagi telepon seluler pintar bermerek Garmin Asus. “Perkawinan” kedua perusahaan yang berbeda inti bisnis ini telah berakhir pada Oktober lalu.

    Meski telah berpisah, kedua perusahaan ini masih meluncurkan sepasang ponsel baru di Indonesia pada akhir Oktober lalu. Itulah Garmin Asus A10 dan A50. “Ini akan menjadi produk terakhir dengan brand itu,” kata Willy Halim, Country Manager Asus Indonesia, di Jakarta pada saat itu.

    Sebagaimana M10, ponsel Garmin Asus pertama yang masuk ke Indonesia, A10 dan A50 ditempatkan pada segmen ponsel pintar navigasi. Kita tahu, Garmin adalah salah satu pemain besar di bisnis perangkat global positioning system (GPS).

    Teknologi GPS inilah yang diboyong Garmin ke dalam A10 dan A50, sebagaimana M10. Peranti lunak navigasi yang ditanamkan di dalamnya adalah peranti lunak yang ada di perangkat GPS Garmin 1460.

    Piranti ini memungkinkan deteksi sinyal satelit hanya dalam waktu 32 detik. Idris Effendi, GM Mobile Business Unit PT Sistech Kharisma, distributor Garmin Asus, mengatakan perangkat lain membutuhkan waktu setidaknya lima menit.

    Pengguna bisa dipandu dalam bernavigasi dengan suara. Selain itu, ada fitur teks ke suara sehingga takkan menyulitkan saat memakainya sembari menyetir kendaraan.

    Navigasi dari Garmin juga menyediakan dua fitur baru, yaitu Junction View dan Pedestrian. Saat tiba di sebuah persimpangan, Junction View akan menampilkan peta di layar ponsel dalam wujud tiga dimensi. Adapun Pedestrian akan memandu pengguna saat berjalan kaki.

    Dengan peranti lunak dari Garmin, pengguna ponsel ini bisa bernavigasi tanpa perlu mengeluarkan ongkos data. Ini berbeda bila pengguna memanfaatkan Google Maps, yang ada di kedua ponsel tersebut.

    Selaku ponsel pengusung Android, fitur-fitur Google sudah pasti dicantelkan ke dalam A10 dan A50. Versi Androidnya adalah Eclair alias 2.1, yang bisa ditingkatkan ke versi 2.2 alias Froyo bila tersedia.

    Kedua ponsel Garmin Asus ini memiliki memori internal sebesar 4 gigabita. Sebanyak 512 megabita di antaranya didedikasikan untuk aplikasi. Dengan alokasi khusus ini, kinerja ponsel bisa dipertahankan dan ia sanggup menampung sampai 400 aplikasi dari toko daring Android Market.

    Garmin Asus A10 dan A50 memiliki perbedaan teknis yang membuat banderolnya berselisih sedikit. A10 dibanderol Rp 3,799 juta, sedangkan A50 adalah Rp 3,499 juta.

    A10 memakai layar 3,5 inci, yang lebih lebar 0,2 inci ketimbang A50. Resolusi kameranya pun begitu. A10 memakai kamera 5 megapiksel, sedangkan A50 masih 3,2 megapiksel. Namun keduanya sudah mendukung autofocus dan geotag untuk menandai lokasi sebuah foto lalu bernavigasi ke lokasi tersebut.

    Keduanya juga bekerja di jaringan 3G. Prosesornya adalah Qualcomm 7227 600 MHz. Seandainya memakai Snapdragon (Seperti kebanyakan ponsel Android 2,1) dengan kecepatan 1 GHz tentu akan menjadi poin menarik dari kedua ponsel ini.

    Idris Effendi mengatakan, meskipun Garmin dan Asus tak lagi memajang merek tersebut, layanan purnajual tak berubah sama sekali. Sayang, ia enggan mengungkapkan bagaimana hasil yang dicapai model Garmin Asus sebelumnya di Indonesia dalam angka. “Pokoknya bagus,” katanya.

    DEDDY SINAGA
     


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.