Ancaman Komputer pada 2011 Masuki Fase Ketiga  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • taranfx.com

    taranfx.com

    TEMPO Interaktif, Jakarta - Model ancaman di dunia maya pada 2011 diperkirakan akan lebih pelik dari tahun-tahun lalu. Malah, vendor sistem keamanan komputer, Symantec, memprediksi ancaman akan memasuki fase ketiga.

    Fase pertama adalah saat pembuat virus komputer lebih mencari ketenaran. Inilah masa terjadinya pengiriman e-mail secara massal dan virus ke dalam jaringan seperti LoveLetter, SQL Slammer, dan Melissa yang menerjang jutaan sistem dalam hitungan jam setelah dilepaskan.

    Fase kedua dinamai masa kejahatan dunia maya dimana virus dipakai untuk mencuri informasi rahasia, nomor kartu kredit, menjual produk antivirus baru, dan sebagainya. Virus telah menjadi model bisnis kejahatan yang sukses dengan omset miliaran dolar Amerika.

    Lalu kini kita akan memasuki fase ketiga, ketika virus dipakai untuk melakukan kegiatan mata-mata dan sabotase. Kasus yang populer adalah Stuxnet yang menyerang fasilitas nuklir di Iran.

    Menurut analisa Symantec, Stuxnet adalah tanda dan sebuah indikasi nyata bahwa dunia telah berubah dan ranah ancaman 2011 akan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Diperkirakan frekuensi serangan jenis ini akan meningkat.

    Symantec beranggapan bahwa Stuxnet mungkin hanya indikasi pertama yang kasat mata dari upaya-upaya disebut sebagai “perang dunia maya” yang telah terjadi selama beberapa waktu sekarang ini. Pada 2011, indikasi-indikasi yang lebih jelas mengenai upaya mengontrol perlombaan senjata digital yang saat ini berlangsung akan muncul ke permukaan.

    Selain itu, makin maraknya perangkat bergerak, yang mengaburkan batas antara penggunaan bisnis dan pribadi, diperkirakan akan melahirkan model ancaman baru. Perangkat bergerak akan menjadi sumber hilangnya data-data rahasia. Tak heran bila perusahaan pun akan membutuhkan model keamanan teknologi informasi yang baru.

    Terkait dengan perkembangan perangkat bergerak, perusahaan juga akan mendorong penggunaan teknologi enkripsi.

    DEDDY SINAGA


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sah Tidak Sah Bitcoin sebagai Alat Pembayaran yang di Indonesia

    Bitcoin menjadi perbincangan publik setelah Tesla, perusahaan milik Elon Musk, membeli aset uang kripto itu. Bagaimana keabsahan Bitcoin di Indonesia?