Jumo Menantang Facebook dan Twitter

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jumo

    Jumo

    TEMPO Interaktif, Jakarta - Namanya memang belum setenar Mark Zuckerberg. Sama-sama menjadi pendiri Facebook, Chris Hughes, 27 tahun, punya impian besar untuk mengubah dunia melalui situs jejaring sosial buatannya, Jumo. Situs ini dibuat pada Februari lalu serta mengusung misi untuk menghubungkan setiap individu dan kelompok yang memiliki kesamaan cita-cita.

    "Ini adalah cara baru untuk mencari tahu apa yang hendak diketahui kebanyakan orang," kata Hughes saat pengenalan Jumo di San Francisco, awal bulan lalu. Tak seperti Facebook dan Google, misalnya, yang memiliki kantor mewah di California, situs jejaring sosial nirlaba ini bermarkas di sebuah ruangan kecil di kawasan Spring Street, New York, Amerika Serikat.

    Bersama sembilan rekannya, Hughes mengelola situs itu dan masih membutuhkan tenaga baru. Tapi ada persyaratan khusus untuk dapat bergabung dengan tim tersebut. Pria yang pernah menjadi direktur kampanye online untuk Barack Obama pada 2008 ini mendambakan seseorang yang menghargai teknologi jaringan online dan, paling penting, ingin mengubah dunia.

    Kata "Jumo" diambil dari bahasa Afrika Barat Yoruba yang artinya datang bersama. Jejaring sosial ini terbuka untuk pribadi dan organisasi untuk saling mendukung dan mengikuti (follow) isu-isu tertentu sesuai dengan ketertarikan masing-masing. Namun, dalam aturan tertulisnya, Jumo tak menerima organisasi yang bekerja untuk mengubah undang-undang atau kampanye politik.

    Seperti media sosial pada umumnya, Jumo dapat digunakan untuk menyimpan dokumen, foto, dan video; menyediakan fitur profil pengguna; berbagi informasi di dinding; sekaligus diskusi yang sedang hangat diperbincangkan alias trending topic. Singkatnya, memadukan fungsi Facebook dan Twitter. Di dalamnya ada 3.500 organisasi untuk berbagai misi sosial di seluruh dunia, di antaranya bidang seni budaya, pendidikan, pelestarian alam, dan kesehatan.

    Untuk menggunakannya, pengunjung tinggal "mendatangi" alamat www.jumo.com, kemudian menghubungkan ke akun Facebook. Masukkan alamat e-mail dan kata sandi, lalu pilih isu yang hendak diikuti. Setiap anggota akan menerima informasi terbaru mengenai isu yang diminatinya tersebut.

    Salah satu bukti nyata Jumo telah "berguna" bagi kegiatan kemanusiaan adalah jejaring sosial itu mampu menggalang dana sebanyak US$ 3,5 juta dari pendiri eBay, Pierre Omidyar; Yayasan Knight; dan warga dunia. Sumbangan itu dikelola sebuah lembaga donor Network for Good untuk disalurkan kepada korban bencana gempa bumi di Haiti, awal tahun ini. "Banyak sekali yang peduli dan mau membantu," katanya.

    Hughes menambahkan, Jumo berbeda dengan Causes, sebuah aplikasi yang dibuat dua pengusaha di lingkaran pendiri Facebook, Sean Parker dan Joe Green. Selama empat tahun terakhir, Causes telah menjaring 119 juta anggota dan bekerja untuk menggalang dana melalui fitur Donate Now.

    Sayangnya, situs yang didominasi warna putih, hijau, dan hitam itu mengharuskan setiap penggunanya mendaftar dengan menggunakan akun Facebook mereka. Bagi yang tidak memiliki akun Facebook, hanya dapat menjelajahi Jumo tapi tidak dapat mem-follow isu dan organisasi yang mereka inginkan. Jumo juga hanya boleh digunakan bagi mereka yang telah berusia 13 tahun.


    Jumo | Mashable | Rini Kustiani


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Angin Prayitno Aji dan Tiga Perusahaan yang Diperiksa KPK dalam Kasus Suap Pajak

    Angin Prayitno Aji dan Dadan Ramdani ditetapkan KPK sebagai tersangka kasus suap pajak. Dari 165 perusahaan, 3 sedang diperiksa atas dugaan kasus itu.