Cari Burung Pelatuk, Ilmuan AS Gunakan Satelit NASA  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Burung Pelatuk. Foto: wikipedia.org

    Burung Pelatuk. Foto: wikipedia.org

    TEMPO Interaktif, Amerika Serikat - Ingat tokoh kartun Woody Woodpecker? Burung berwarna biru yang hobinya mematuk-matuk pohon hingga berlubang? Ilmuan Amerika Serikat kini mengupayakan pencarian habitat burung tersebut, bukan dengan menjelajahi hutan, tapi dengan menggunakan satelit luar angkasa. Tentu yang dicari bukan si tokoh kartun, tapi burung pelatuk sebenarnya.

    Kelompok ilmuan dari Universitas Idaho tengah mengembangkan teknik pencarian burung pelatuk dengan teknologi satelit berkekuatan laser bikinan NASA bernama Icesat. Melalui satelit tersebut, ilmuan dapat memprediksi daerah yang kemungkinan dihuni si burung pelatuk.

    Lantas seberapa penting sebenarnya keberadaan burung pelatuk ini hingga harus dicari menggunakan satelit? Ilmuan AS percaya bahwa keberadaan burung pelatuk menjadi indikator yang menandakan keragaman jenis burung dalam suatu daerah.

    “Jika kita bisa memprediksi keberadaan burung pelatuk dari satelit, kita juga bisa menduga keragaman spesies burung lain, bahkan mamalia, juga reptil. Itu penting dalam perencanaan pengelolaan tanah dan keanekaragaman hayati,” kata Patrick Adam, anggota tim peneliti.

    Doktor Lee Vierling dari fakultas ekologi hutan dan biogeosains mengatakan bahwa “ada satu spesies yang hidupnya amat bergantung pada hutan yang padat, yakni burung pelatuk. Semakin lebat hutan, semakin baik kehidupan burung tersebut,” kata Lee.

    Sebelumnya, satelit Icesat digunakan NASA untuk mengukur ketinggian permukaan es di kutub utara dan selatan. Satelit Icesat juga terbukti ampuh mengukur kepadatan vegetasi di berbagai area di dunia.

    Satelit Icesat tak dibuat untuk melacak keberadaan burung pelatuk secara individual, namun satelit tersebut bisa menentukan karakteristik area hutan. Dari identifikasi karakteristik tersebut bisa diprediksi keberadaan habitat burung pelatuk.

    Kelompok ilmuan tersebut mengaku penelitiannya dipermudah dengan bantuan satelit Icesat. “Jauh lebih mudah menggunakan data satelit, walau penelitian penjelajahan lapangan tetap diperlukan. Tapi kita dipermudah sebab jangkauan satelit lebih global dan skalanya lebih besar,” kata Adam.

    Namun satelit Icesat sudah tak mengudara lagi sejak Agustus lalu. Namun keberadaan Icesat akan diganti dengan satelit lain di akhir tahun ini.

    BBC | ANANDA BADUDU
     


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sah Tidak Sah Bitcoin sebagai Alat Pembayaran yang di Indonesia

    Bitcoin menjadi perbincangan publik setelah Tesla, perusahaan milik Elon Musk, membeli aset uang kripto itu. Bagaimana keabsahan Bitcoin di Indonesia?