Rumor Gunung Piramida Sadahurip Libatkan Istana

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ahli Geologi Sujatmiko membeberkan kesimpulan tentang kontroversi piramida di Gunung Sadahurip Garut dan Gunung Lalakon di Bandung Selatan, bersama sejumlah pakar geologi dan arkeologi di Musium Geologi, Bandung, Jawa Barat, Jumat (3/2). TEMPO/Prima Mulia

    Ahli Geologi Sujatmiko membeberkan kesimpulan tentang kontroversi piramida di Gunung Sadahurip Garut dan Gunung Lalakon di Bandung Selatan, bersama sejumlah pakar geologi dan arkeologi di Musium Geologi, Bandung, Jawa Barat, Jumat (3/2). TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Bandung - Kalangan Istana Negara serius mendalami rumor keberadaan piramida di dalam Gunung Lalakon dan Gunung Sadahurip di Jawa Barat. Pihak pendukung dan pembantah isu diagendakan untuk bertemu di Sekretariat Negara pada Senin pekan depan, 7 Februari 2012.

    Pengurus Ikatan Ahli Geologi Indonesia, Sujatmiko, mengatakan mereka diminta memaparkan hasil temuannya di lapangan. Ia sendiri membantah adanya piramida tersebut berdasarkan kajian geologi. "Kontroversi yang timbul telah meresahkan banyak kalangan," ujarnya di Auditorium Museum Geologi Bandung, Jumat, 3 Februari 2012.

    Rumor gunung piramida berembus sejak 2011. Menurut Sujatmiko, awalnya Yayasan Turangga Seta yang melakukan pembuktian berdasarkan bisikan gaib atau wangsit dari leluhur.

    Untuk menguatkan asumsi itu, mereka mengajak para ahli kebumian ternama dari Bandung untuk mengadakan riset geolistrik. Selanjutnya, klaim yang menduga kuat adanya piramida dalam gunung tersebut diklaim sebagai temuan Tim Bencana Katastropik Purba.

    Tim itu, kata Sujatmiko, bentukan Staf khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana. Dari riset di lapangan, tim itu mengaku telah menemukan piramida sekaligus pintu masuknya. Bangunan seperti di Mesir itu diyakini sengaja ditimbun manusia zaman dulu di Soreang dan Garut.

    Sementara itu, peneliti gunung api dari Pusat Survei Geologi, Sutikno Bronto, mempertanyakan kerja tim tersebut pada gunung berbentuk piramida. Sebab, dari asal kata katastropik, penelitian lebih cocok ke gunung purba berkawah luas, yang panjangnya tiga hingga belasan kilometer dan sangat berbahaya jika meletus. "Misalnya Gunung Krakatau atau Danau Toba," katanya.

    ANWAR SISWADI

    Berita Terkait
    Ahli: Tak Ada Emas di 'Piramida' Gunung Sadahurip
    Rumor Gunung Piramida Sadahurip Libatkan Istana
    Benarkah Ada Piramida di Gunung Sadahurip dan Lalakon?
    Tim Bahas Piramida Dibentuk Staf Khusus SBY


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.