Korban Sukhoi Hanya Bisa Diidentifikasi Lewat DNA

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah petugas memindahkan kantong jenazah ke 22 yang berisi potongan tubuh korban jatuhnya Sukhoi Superjet-100 dari ambulans yang yang selanjutnya dilakukan proses identifikasi oleh Disaster Victim Identification (DVI) di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Minggu (13/5). ANTARA/Zabur Karuru

    Sejumlah petugas memindahkan kantong jenazah ke 22 yang berisi potongan tubuh korban jatuhnya Sukhoi Superjet-100 dari ambulans yang yang selanjutnya dilakukan proses identifikasi oleh Disaster Victim Identification (DVI) di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Minggu (13/5). ANTARA/Zabur Karuru

    TEMPO.CO , Yogyakarta - Berdasarkan temuan jenazah penumpang pesawat Shukoi Superjet 100, kecil kemungkinan bisa melakukan identifikasi dengan gigi. Salah satu anggota tim antropolog forensik yang tergabung dalam Disaster Victim Identification Indonesia (DVI) menyatakan tidak ada kerangka kepala utuh pada jenazah korban jatuhnya pesawat Shukoi Superjet 100 di Gunung Salak. Kondisi jenazah hangus dan hancur akibat ledakan.

    Satu-satunya cara agar identitas jenasah akurat kebenarannya melalui tes DNA. “(Jenazah) Hangus, campur aduk, dan ada yang terburai. Kerangka kepala tidak ada yang utuh, pecah,” kata salah satu tim DVI dari Universitas Gadjah Mada, Rusyad Adi Suriyanto, kepada Tempo, Minggu, 13 Mei 2012. Meski kondisi jenazah hancur, jaringan lunak otot dan kulit masih ada.

    Antropolog forensik yang ahli di bagian gigi ini mengatakan identitas jenazah untuk mengetahui jenis kelamin, ras, tinggi badan, dan usia bisa dilihat melalui paha, bahu, tungkai, tulang kemaluan. Jika kerangka kepala utuh proses identifikasi bisa melalui gigi. Tak harus dengan DNA. “Tapi karena kerangka pecah, sulit,” katanya. Proses penyelesaian identifikasi DNA butuh waktu setidaknya dua minggu.

    Lantaran lamanya waktu identifikasi, dia minta pihak keluarga korban bersabar menunggu proses identifikasi ini. "Lebih baik identitas jenazah akurat ketimbang jenazah tertukar dengan orang lain,” ujarnya.

    Pakar antropologi ragawi Universitas Airlangga Profesor Josef Glinka SVD juga mengatakan satu-satunya pengenalan identitas korban pesawat Shukoi Superjet 100 yang jatuh di Gunung Salak melalui tes DNA. Ini lantaran kondisi jenazah hancur lebur.

    Ada tiga orang tim antropolog forensik dari Universitas Airlangga yang dikirim ke Jakarta. Keberadaan ahli antropolog forensik dalam kasus-kasus kecelakaan amat diperlukan untuk mengidentifikasi korban. Sesuai dengan cabang ilmunya, forensik antropologi terutama untuk menentukan identitas jasad berdasar bukti yang tersedia, yaitu menentukan jenis kelamin, perkiraan usia, bentuk tubuh, dan pertalian ras.

    Para antropolog forensik ini akan bekerja melalui ciri-ciri anatomi para korban untuk mengetahui jenis kelamin, ras, atau usia korban. Para korban yang berasal dari beberapa negara bisa diidentifikasi melalui lubang hidung. Ini jika masih ada kerangka utuh. Jika dia ras putih, media bolpoin bisa digunakan untuk mengetahui seseorang dalam ras tertentu. “Kalau bolpoin dimasukkan ke hidung ada halangan berarti dia ras putih, orang asing. Tapi kalau tidak ada halangan, maka dia ras Asia,” ujarnya.

    Identitas jenis kelamin para korban juga bisa dilihat dari lengan dan tungkai korban. Menurut dia, lengan perempuan tidak lurus, sebaliknya pria berlengan lurus. Adapun tungkai laki-laki berbentuk lurus, sedangkan perempuan agak lebar dan miring ke tengah.

    Pada Kamis, 10 Mei 2012, puing-puing pesawat ditemukan berceceran di sebuah tebing di Gunung Salak, Bogor. Pesawat ini diduga meledak setelah menabrak tebing Gunung Salak ketika terbang untuk uji coba pesawat, Rabu 9 Mei 2012.

    BERNADA RURIT

    Berita Terkait:
    Tim SAR Temukan ELT Bukan Kotak Hitam
    Kisah Pencarian Sukhoi Eko Sulistio
    Sukhoi Menabrak Setelah Menembus Kumulonimbus
    Sukhoi Superjet Sempat Memutari Gunung Salak
    ATC Membantah Terbang di Indonesia Seperti Neraka
    Sukhoi Jatuh, Kesalahan Pilot?
    Jibaku Eko Mencari Sukhoi
    Chappy: ATC Indonesia Sudah Ketinggalan
    Perempuan Cantik dan Perempuan Tua di Gunung Sala


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Enam Poin dalam Visi Indonesia, Jokowi tak Sebut HAM dan Hukum

    Presiden terpilih Joko Widodo menyampaikan sejumlah poin Visi Indonesia di SICC, 14 Juli 2019. Namun isi pidato itu tak menyebut soal hukum dan HAM.