Rabu, 21 Februari 2018

Mimpi Nobel Andi Arief untuk Gunung Padang  

Oleh :

Tempo.co

Senin, 27 Agustus 2012 05:19 WIB
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mimpi Nobel Andi Arief untuk Gunung Padang  

    Situs Gunung Padang di Desa Karyamukti Kecamatan Campaka Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, digali dan dipetak-petak oleh Tim Terpadu Penelitian Mandiri Gunung Padang bentukan Stak Khusus Kepresidenan, Andi Arief. TEMPO/Deden Abdul Aziz

    TEMPO.CO, Jakarta - Staf Khusus Presiden membuat penelitian situs Gunung Padang jadi heboh. Pekerjaan mereka dituding hanya proyek cari duit. Hal itu terungkap dalam laporan utama majalah Tempo edisi 27 Agustus 2012 berjudul "Mencari Terang di Gunung Padang".

    Dalam laporan itu ditulis bahwa Andi Arief kerap kedatangan orang-orang dari perkumpulan tarekat. Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana Alam ini pun makin yakin di bawah bukit itu ada peninggalan masa lalu yang sangat maju. "Penerawangan ahli tarekat juga begitu," katanya tiga pekan lalu.

    Ukuran kemajuan adalah dugaan di bawah bukit setinggi 894 meter dari permukaan laut itu ada "unsur logam". Logam itu dicurigai mendekam di pusat gunung setelah tim yang dibentuk Andi Arief, yang beranggotakan arkeolog dan geolog muda, memindainya. Radar bumi itu menangkap benda-benda yang tergolong pengantar setrum.

    Andi berasumsi lebih jauh. Menurut aktivis mahasiswa 1998 yang pernah diculik tentara ini, logam tersebut mungkin emas yang tersimpan di kuil peninggalan sebuah peradaban di tatar Sunda 10.900 tahun lalu. Jika benar, kata dia, "Bisa dimanfaatkan negara sebagai sumber daya alam."

    Ia merujuk pada cadangan emas di Gunung Grasberg, Papua. Saat gunung itu diteliti dan ditemukan geolog Belanda, Jean-Jacques Dozy, pada 1936, tak ada yang percaya di sana tersimpan logam mulia. Laporannya di jurnal ilmiah bahkan dicampakkan. Mata dunia terbuka setelah geolog PT Freeport McMoran membuktikannya 30 tahun kemudian. Papua kini jadi tambang emas yang tak impas-impas.

    Kalau pun bukan emas, kata Andi Arief, logam di perut Gunung Padang itu telah menunjukkan pada tahun 8000 sebelum Masehi peradaban di Cianjur sudah sangat maju. Pada masa itu, belum ada peradaban lain di dunia yang menghargai dan menggunakan logam untuk kehidupan sehari-hari.

    Temuan sementara tim yang dipimpin Danny Hilman Natawidjaja, geolog di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, itu menunjukkan bahwa Gunung Padang adalah selimut yang menutupi sebuah bangunan tempat pemujaan purba berupa punden berundak. Punden itu terkubur akibat suatu bencana besar yang melumat penduduknya.

    Jika semua asumsi itu terbukti, Andi yakin temuan Gunung Padang tak hanya akan mengguncang dunia arkeologi, tapi juga sejarah umat manusia. "Ganjarannya hadiah Nobel," ujarnya. Karena itu, tim mengebornya untuk membuktikan asumsi tersebut. Dua sampel yang diambil dari kedalaman dua meter lalu diuji laboratorium Badan Tenaga Nuklir Nasional, yang menunjukkan umur karbon itu 4.700 dan 10.900 tahun.

    Jika kelak penelitian ini berbuah Nobel, kata Andi Arief, "Pemerintah mesti mengganti biayanya berlipat-lipat."

    BAGJA HIDAYAT | UNTUNG WIDYANTO


    Bagaimana mimpi mendapat hadiah nobel lewat Gunung Padang ini? Simak laporan Majalah Tempo edisi 27 Agustus 2012.

    BAGJA HIDAYAT, UNTUNG WIDYANTO

    Baca juga:
    Berita Terkait Gunung Piramida

    Arkeolog: Gunung Padang Bukan Piramida
    Arkeolog: Interpretasi Gunung Padang Kudu Sesuai Bukti
    Punden Berundak Gunung Padang Setara Machu Pichu?

    Area Situs Megalitikum Gunung Padang Diduga Meluas

    Situs Gunung Padang Dikenalkan ke Dunia
    Foto-foto Benarkah ada Piramida di Gunung Sadahurip?


     

     

    Selengkapnya
    Grafis

    NAM Air Tepat Waktu, Maskapai dengan OTP Terbaik di Asia Pasifik

    Kementerian Perhubungan mengumumkan bahwa NAM Air dan empat maskapai lain memiliki OTP rata-rata di atas standar Asosiasi Maskapai Asia Pasifik.