Rabu, 14 November 2018

Ilmuwan Indonesia Berhasil Tembus Jurnal Nature

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dwi Nailul Izzah (16) salah seorang siswa peneliti karya ilmiah Limbah Peternakan Sapi (LPS)-Air Freshener, yang meraih juara pertama tingkat nasional pada ajang Indonesian Science Project Olympiade (ISPO) 2013, memasukan cairan kotoran sapi saat proses penyulingan kotoran sapi menjadi pengharum ruagan alternatif ramah lingkungan di Laboratorium SMA Muhammadiyah Babat, Lamongan, Jatim, Senin (11/3). ANTARA/Syaiful Arif

    Dwi Nailul Izzah (16) salah seorang siswa peneliti karya ilmiah Limbah Peternakan Sapi (LPS)-Air Freshener, yang meraih juara pertama tingkat nasional pada ajang Indonesian Science Project Olympiade (ISPO) 2013, memasukan cairan kotoran sapi saat proses penyulingan kotoran sapi menjadi pengharum ruagan alternatif ramah lingkungan di Laboratorium SMA Muhammadiyah Babat, Lamongan, Jatim, Senin (11/3). ANTARA/Syaiful Arif

    TEMPO.CO, JakartaAda kabar menggembirakan bagi dunia ilmu pengetahuan Indonesia. Taruna Ikrar, seorang ilmuwan asal Makassar, berhasil menorehkan karya penelitiannya dalam Nature, jurnal ilmiah internasional yang terbit berkala tiap pekan.

    Penelitian berjudul "A disinhibitory microcircuit initiates critical period plasticity in visual cortex" merupakan hasil penelitian Ikrar bersama Kuhlman S.J., Olivas N.D., Tring E., Xu X., dan Trachtenberg J.T.

    "Akhirnya karya kami diterima dan diterbitkan di Nature. Salah satu mimpi saya sebagai ilmuwan terwujud," kata Ikrar, Kamis, 4 Juli 2013.

    Penelitian ini menjelaskan bagaimana sebuah mikrosirkuit disinhibitor berpengaruh terhadap dimulainya periode kritis plastisitas pada korteks visual, bagian belakang otak yang bertanggung jawab terhadap fungsi penglihatan. Plastisitas berkaitan dengan perubahan jalur saraf dan sinapsis yang disebabkan faktor lingkungan.

    Menurut Ikrar, tidak sembarang ilmuwan bisa menerbitkan karyanya dalam jurnal Nature. Nature merupakan jurnal ilmiah internasional nomor wahid yang mencakup semua jenis bidang ilmu. "Jurnal ini tempatnya para penerima Nobel," ujarnya.

    Ikrar juga menjadi dokter pertama dari Indonesia yang bisa menerbitkan karya ilmiahnya di Nature. "Kami sangat gembira bisa tembus ke Nature," kata dia.

    Dr. Taruna Ikrar, M. Pharm., MD., PhD. lahir di Makassar, 44 tahun silam. Ia adalah seorang dokter sekaligus ilmuwan yang menekuni bidang farmasi, jantung, dan saraf. Di dunia internasional, Ikrar dikenal sebagai salah satu peneliti yang mempopulerkan sistem AlstR (allatostatin receptor).

    Sistem AlstR dimanfaatkan untuk menyembuhkan kejang pada penderita epilepsi. Caranya dengan mengontrol sinkronisasi fungsi saraf inhibitory dan excitatory menggunakan aktivasi genetik yang bekerja spesifik pada reseptor allatostatin.

    Temuan ini, yang diterbitkan dalam jurnal Journal Frontiers of Neural Circuit tahun 2012, merupakan bagian dari teknik terapi gen yang sebetulnya sudah ditemukan oleh Ikrar beberapa tahun sebelumnya.

    Ikrar mengawali kuliah kedokteran di Universitas Hasanuddin. Ia lantas meraih gelar master farmasi di Universitas Indonesia. Studi doktoral di bidang ilmu penyakit jantung ia tamatkan di Universitas Niigata, Jepang. 

    Seakan tak capek menuntut ilmu, pria dua anak ini melanjutkan program post-doctoral bidang neurosains di School of Medicine, University of California, Amerika Serikat.

    Ikrar merupakan pemegang paten metode pemetaan otak manusia sejak 2009. Metode ini berhasil menggambarkan dinamika yang terjadi pada otak manusia secara rinci.

    Doktor yang memiliki lebih dari 40 publikasi di jurnal internasional ini pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia periode 2000-2003. Kini Ikrar sibuk menjadi dokter spesialis saraf dan staf akademik di University of California, School of Medicine, Irvine, Amerika Serikat.

    MAHARDIKA SATRIA HADI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lion Air JT - 610, Kecelakaan Pesawat Nomor 100 di Indonesia

    Jatuhnya Lion Air nomor registrasi PK - LQP rute penerbangan JT - 610 merupakan kecelakaan pesawat ke-100 di Indonesia. Bagaimana dengan di dunia?