Mengapa Banyak Badai Ganas di Pasifik?  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mitch Dobrowner mengambil gambar dalam berbentuk foto pada sebuah badai hujan yang mengerikan di sebuah lahan kering di dekat Lordsburg, New Mexico pada tahun 2010. telegraph.co.uk

    Mitch Dobrowner mengambil gambar dalam berbentuk foto pada sebuah badai hujan yang mengerikan di sebuah lahan kering di dekat Lordsburg, New Mexico pada tahun 2010. telegraph.co.uk

    TEMPO.CO, JakartaSamudra Pasifik tercatat sebagai tempat yang paling banyak diwarnai badai mematikan. Akhir pekan lalu dua badai muncul dari bagian barat Pasifik, yaitu super siklon Phailin yang membuat India kebanjiran serta topan Nari yang menghantam Vietnam. Kini, 2.000 kilometer ke arah barat laut, topan Wipha sedang memukul wilayah Jepang.

    Para ahli cuaca mengatakan, saat ini garis badai di Pasifik barat mendekati puncak musimnya. Jadi, wajar jika muncul banyak badai di wilayah ini. Namun, tren musim badai tropis di Pasifik sebenarnya masih menunjukkan angka di bawah normal, meski sesekali muncul badai secara tiba-tiba.

    Di Pasifik barat, misalnya, angka rata-rata akumulasi energi siklon (ACE) baru mencapai 72 persen. Menurut pembuat model iklim Ryan Maue, yang menjalankan situs prakiraan cuaca WeatherBELL, akumulasi energi siklon adalah ukuran yang digunakan untuk memperhitungkan jumlah, kekuatan, dan durasi siklon tropis, baik yang individual maupun semua siklon untuk seluruh musim.

    "Siklon tropis adalah istilah yang luas digunakan untuk siklon, topan, dan badai," kata Maue, seperti dikutip dari laman Livescience, Rabu, 16 Oktober 2013.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Intoleransi di Bantul dan DIY Yogyakarta dalam 2014 hingga 2019

    Hasil liputan Tempo di DIY Yogyakarta, serangan terhadap keberagaman paling banyak terjadi di Bantul sepanjang 2014 sampai 2019.