Teknologi Georadar Diuji Coba untuk Lahan Gambut

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Hutan Gambut yang telah terbakar. TEMPO/Robin Ong

    Hutan Gambut yang telah terbakar. TEMPO/Robin Ong

    TEMPO.CO, Jakarta - Indonesia sering kali dituding sebagai salah satu negara penyumbang emisi karbon terbesar di dunia dari kerusakan lahan gambut. Dari luas hutan Indonesia yang mencapai 132,5 juta hektare, sekitar 17-21 juta hektare d iantaranya adalah lahan gambut yang tersebar di 14 provinsi.

    Namun, pakar Himpunan Ilmu Tanah Indonesia (HITI) Basuki Sumawinata menjelaskan, cadangan karbon di lahan gambut dan kedalaman gambut belum diukur secara akurat akibat penggunaan metode pengukuran yang kurang tepat. Padahal, pengukuran cadangan karbon di lahan gambut memiliki kesulitan tertentu, terutama mengenai permukaan yang bergelombang dan kedalaman gambut yang bervariasi.

    "Selama ini pengukuran cadangan karbon masih banyak menggunakan alat bor yang tidak akurat jadi tidak bisa diukur Indonesia menyumbang sekian emisi karbon," kata Basuki dalam diskusi "Penerapan Teknologi Georadar dalam Mendukung Pengelolaan Hutan Lestari" yang diselenggarakan Masyarakat Penulis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, di Jakarta, Selasa, 29 Oktober 2013.

    Akurasi semakin tidak presisi jika pengukuran kedalaman hanya dilakukan pada titik tertentu untuk kemudian dianggap mewakili satu hamparan gambut. Dia mengingatkan alat bor sejatinya bukan untuk mengukur kedalaman gambut melainkan melihat sifat-sifat gambut di bawah permukaan air tanah.

    Metode tak akurat jadi senjata..

    Sayangnya, meski akurasinya kurang tepat, pengukuran cadangan karbon lahan gambut di Indonesia saat ini umumnya masih menggunakan metode tersebut. Data yang tak akurat itu kemudian dijadikan senjata untuk menyerang Indonesia dengan menuding Indonesia sebagai negara pengemisi karbon karena memanfaatkan gambut demi kepentingan pembangunan.

    Dengan alasan kelemahan metode itulah, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) tengah menguji coba penggunaan teknologi Ground Penetrating Radar (GPR) atau yang biasa disebut georadar untuk mengukur kedalaman lahan gambut. Georadar memiliki resolusi tertinggi dari semua metode geofisika untuk pencitraan bawah permukaan dengan resolusi sampai skala sentimeter.

    Pakar Georadar Gambut dan Perekayasa Utama BPPT, Agus Kristiyono mengungkapkan, dibandingkan dengan metode geolistrik dan bor, pengukuran kedalaman gambut akan lebih detail dan akurat degan teknologi georadar. Sebenarnya, teknologi georadar sudah banyak digunakan untuk meneliti obyek di bawah permukaan tanah, terutama pada sektor pertambangan. "Teknologi georadar lebih akurat dan detil dalam pengukuran data karena setiap 2,4 sentimeter ada data yang direkam," ujarnya.

    Sejak akhir Agustus 2013 lalu, BPPT melakukan uji coba pengukuran kedalaman gambut dengan teknologi georadar selama satu minggu. Peralatan georadar terdiri dari dua komponen utama yaitu peralatan pemancar gelombang radar (transmitter) dan peralatan penerima pantulan gelombang radar (tranceiver). Kedalaman lahan gambut dalam bisa diukur dengan frekuensi rendah, begitupun sebaliknya.

    Tim pengukuran yang terdiri atas sembilan orang dari kalangan akademisi, pemerintah, dan bisnis menguji coba georadar selama satu minggu di lahan gambut yang berada di daerah konsesi HTI milik PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP). Hasil akhirnya kini sedang dalam proses pengolahan, namun data yang dihasilkan sementara berbentuk data grafis.

    Sudah dipakai Malaysia...

    Pakar georadar dari Himpunan Gambut Indonesia Mahmud Raimadoya menyatakan, teknologi ini sudah digunakan di sejumlah negara, termasuk Malaysia. Hanya saja, di Indonesia penggunaan teknologi ini relatif baru karena harga alat yang cukup mahal. Satu unit georadar harganya mencapai Rp 1,5 miliar yang bisa didapat melalui impor. Saat ini pun, uji coba di Indonesia masih menggunakan peralatan georadar sederhana dengan antena frekuensi tunggal.

    "Dengan teknologi ini kita bisa merekam dan menguur kedalaman gambut, dan nantinya sekaligus bisa mengukur cadangan karbon sehingga datanya terverifikasi. Dan dengan ini pula posisi kita di mata internasional lebih kuat, menghilangkan ketidakpastian data pengukuran emisi karbon," kata Mahmud.

    Dibandingkan dengan hutan biasa, hutan gambut lebih mampu menyimpan karbon pada biomassa tanaman, di bawah hutan gambut, lapisan gambut, dan lapisan tanah mineral di bawah gambut. Penyimpanan tersebut meyebabkan lahan gambut dan biomassa tanaman menyimpan karbon dalam jumlah tertinggi. Pembukaan hutan yang terus terjadi selama beberapa dekade terakhir dituding telah merusak lahan gambut yang berpitensi menyimpan karbon.

    Teknologi georadar diharapkan dapat menjadi salah satu alat yang dapat diandalkan untuk pengelolaan hutan gambut melalui pengukuran kedalaman gambut secara akurat dan cepat. Hanya satu kelemahan teknologi ini, yakni georadar tidak bisa dioperasikan saat hujan atau banjir.

    ROSALINA

    Topik Terhangat:
    Suap Bea Cukai | Buruh Mogok Nasional | Suap Akil Mochtar | Misteri Bunda Putri | Dinasti Banten


    Berita Terpopuler:
    Detik-detik Menegangkan Penangkapan Heru
    Soal Lurah Susan, Menteri Gamawan Pasrah 
    Kekayaan Prabowo Lebih dari Rp 1,6 Triliun 
    Tolak Ahok, PPP Dinilai Mirip Anak Kecil 
    Polisi Penangkap Heru Teman Sekelas di SMA  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemendikbud, yang Diperhatikan Saat Murid Belajar dari Rumah

    Solusi menghambat wabah Covid-19 diantaranya adalah belajar dari rumah dengan cara menghentikan sekolah biasa dan menggantinya dengan sekolah online.