Bagaimana Kondisi Tanah Tol Cipularang KM 72?

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas mengatur lalu lintas di lokasi jalan yang amblas di Tol Cipularang kilo meter 72, Purwakarta, Jawa Barat (24/1). Jalan ini akan ditutup sementara karena akan dilakukan perbaikan, pengendara dialihkan ke pintu keluar Tol Cikopo dan kembali masuk melalui pintu Tol Sadang. TEMPO/Aditya Herlambang Putra

    Petugas mengatur lalu lintas di lokasi jalan yang amblas di Tol Cipularang kilo meter 72, Purwakarta, Jawa Barat (24/1). Jalan ini akan ditutup sementara karena akan dilakukan perbaikan, pengendara dialihkan ke pintu keluar Tol Cikopo dan kembali masuk melalui pintu Tol Sadang. TEMPO/Aditya Herlambang Putra

    TEMPO.CO , Bandung:Peneliti dari Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Bandung Adrin Tohari mengatakan, fenomena di jalan tol Cipularang kilometer 72 bukan amblas melainkan sliding.  Lereng tanah bergerak meluncur ke bawah. "Kalau amblas cenderung hanya pergerakan turun vertikal,"  kata dia. Contoh jalan tol Cipularang yang amblas itu dulu pernah terjadi di kilometer 91,6 pada 2005.

    Menurut Adrin, ruas tanah jalan tol Cipularang antara KM 64 sampai 72 umumnya menggunakan konstruksi timbunan. Semula tanah asli di tempat itu berupa sawah dan aliran kali. Pembuat tol menimbun setinggi 40 meter untuk menopang badan jalan. Ia menduga kuat, lereng hasil timbunan tanah di sisi ruas tol KM 72+100 itu bagian dalamnya tergenang air hingga menyebabkan pelunakan lapisan tanah asli di dasar timbunan.

    Tanah asli itu merupakan tanah yang mudah mengembang ketika terkena air lalu bergerak meluncurkan lereng jalan tol.  Sebelum ruas tol tersebut dibangun, dibawahnya ada aliran kali dari sisi barat ke timur atau memotong ruas tol,  ujar peneliti yang beberapa kali menjadi investigator Jasa Marga untuk menyelidiki penurunan tanah di tol Cipularang.

    Genangan dari air kali itu diyakini akibat tidak berfungsinya sistem drainase di bawah timbunan.  "Bisa mampet akibat sedimentasi atau material yang terbawa air kali sehingga air lari ke tanah dan menggenang,"  ujar dia.

    Menurut Adrin, gorong-gorong tempat mengalirnya air dari kali yang lebarnya kurang dua meter itu harus diperiksa pengelola jalan dan dipelihara serius agar penurunan tanah tidak terulang. Pelemahan bagian kaki lereng jalan tol itu, kata Adrin, tidak bisa hanya diatasi dengan pemasangan tiang pancang, tetapi juga perbaikan saluran air permukaan di kaki lereng.  "Serta perlu dibangun jaringan selokan air di sisi lereng untuk mengurangi aliran air hujan ke dalam lereng," katanya.

    Jasa Marga dan pakar jalan dari ITB Ade Sjafrudin mengatakan jalan tol Cipularang KM 72 +100 mengalami amblas. "Kena air, tanahnya menjadi lunak atau tergerus, mudah terbawa air," ujar Ade, Sabtu, 25 Januari 2014. Perbaikannya dengan cara memasang konstruksi baru seperti tiang pancang atau pelat baja untuk meredam pergerakan tanah di bawahnya. Ruas jalan tol arah Jakarta ke Bandung di KM 72 +100 turun antara 12-60 sentimeter sepanjang 60 meter. Kejadian itu membuat PT Jasa Marga menutup sebagian ruas jalan tol Cipularang dari Jakarta menuju Bandung mulai Jumat siang, 24 Januari 2014.

    ANWAR SISWADI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.