Moto G Ramaikan Pasar Ponsel Tanah Air

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Moto G

    Moto G

    TEMPO.CO, Jakarta - Ponsel pintar dengan segudang fitur canggih biasanya dihargai mahal. Rata-rata harganya di atas Rp 7 juta. Sedangkan ponsel pintar murah, fitur yang disadangnya sangat terbatas dan jauh dari pintar.

    Nah, Motorola, vendor teknlogi asal Amerika Serikat, mencoba menawarkan ponsel pintar dengan berbagai fitur di dalamnya dengan harga terjangkau. Maka lahir lah Moto G, ponsel murah dengan fitur seabrek.

    Motorola memperkenalkan Moto G untuk pasar Tanah Air di Jakarta pada Kamis, 5 Juni 2014. Harga jualnya cukup terjangkau, yakni Rp 1,949 juta untuk yang berkapasitas simpan 8 gigabita dan Rp 2,249 juta untuk kapasitas 16 gigabita.

    Yang menarik, tak seperti ponsel baru lain yang beredar di Indonesia, Moto G dijual secara eksklusif di toko online Lazada.co.id. Menurut Magnus Ekbom, CEO Lazada Indonesia, cara ini menciptakan standar baru dalam bisnis ponsel pintar di Indonesia.

    “Perkembangan bisnis e-commerce di Indonesia sangat pesat. Kami bangga dengan kesuksesan Moto G di Negara lain dan kami yakin kesuksesan serupa akan terjadi di Indonesia bersama Lazada,” ucap Ekbom.

    Meski harganya tergolong murah, Moto G menawarkan pengalaman premium bagi penggunannya dengan harga sepertiga dari ponsel papan atas.

    Beberapa fitur yang diusung ponsel ini antara lain layar seluas 4,5 inci, prosesor Qualcomm Snapdragon 400 terbaru dengan CPU quad-core, sistem operasi Android 4.4 KitKat, serta slot untuk dual kartu SIM.

    FIRMAN

    Berita lain:
    Al Quran Dibacakan untuk Pertama Kali di Vatikan
    Pendaki Tegal Hilang di Semeru Akhirnya Ditemukan
    CIA Akhirnya Punya Akun Facebook dan Twitter
    Kubu Prabowo Anggap Kampanye Negatif Menguntungkan
    Guru JIS Terduga Sodomi Ada di Daftar Deportasi
    Universitas Padjadjaran Favorit Peserta SBMPTN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rencana dan Anggaran Pemindahan Ibu Kota, Ada Tiga Warga Asing

    Proyek pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur dieksekusi secara bertahap mulai 2020. Ada tiga warga asing, termasuk Tony Blair, yang terlibat.