Penemu Rompi Antikanker Kerja Sama dengan Jerman

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Bra Warsito untuk terapi kanker payudara

    Bra Warsito untuk terapi kanker payudara

    TEMPO.CO, Jakarta - Center for Tomography Research Laboratory (CTECH Labs) Edwar Technology meneken kerja sama riset kanker dengan Jerman, Austria, dan Israel. Laboratorium riset di bidang teknologi penemuan yang dipimpin Dr Warsito P. Taruno ini dikenal dengan temuan rompi antikanker. "Kerja sama ini meliputi riset, edukasi, dan pengembangan produk serta penyebaran," ujar Warsito dalam rilis tertulis yang diterima Tempo, Selasa, 1 Juli 2014.

    Menurut Warsito, kesepakatan kerja sama telah diteken pada 28 Juni lalu antara CTECH Labs Edwar Technology dengan Weber Medical. Kedua pihak sepakat dalam pemanfaatan teknologi Electro Capacitive Cancer Treatment (ECCT) untuk terapi kanker di jaringan klinik dan rumah sakit yang dimiliki oleh Weber Medical di seluruh dunia.

    ECCT adalah metode penyembuhan kanker dengan terapi listrik statis. Metode ini dipresentasikan di konferensi internasional tentang metode terapi kanker non-konvensional yang diselenggarakan oleh International Society of Laser Applications (ISLA) di Beverungen, Jerman, 27-29 Juni 2014.

    Warsito mengatakan ECCT adalah metode terapi kanker dengan prinsip pemberian medan listrik statis dari luar terhadap tubuh pasien yang mengidap kanker. Medan listrik itu membuat sifat kelistrikan sel kanker yang meningkat tinggi saat sel membelah menjadi terganggu. "Sehingga sel kanker gagal membelah dan mati," kata penemu rompi dan helm pembasmi kanker ini.

    Kerja sama ini, kata Warsito, mendasari kemitraan jangka panjang dan menyediakan akses untuk aplikasi riset secara luas. (Baca juga: Penemu Rompi Anti-Kanker Terganjal Izin Edar)

    Sementara itu, pendiri Asosiasi ISLA, Dr Mikhael Weber, mengungkapkan ketertarikan para peserta sangat luar biasa. "Ini adalah ide yang sangat brilian," kata penemu Weber Laser untuk terapi berbagai macam penyakit termasuk kanker. Teknologi ini dipakai di seluruh dunia termasuk di Indonesia.

    Konferensi dihadiri oleh sekitar 100 peserta dari 24 negara yang sebagian besar merupakan dokter spesialis terapi kanker dan berbagai penyakit langka lainnya dengan metode non-konvensional, seperti laser, gelombang ultrasonik, imunoterapi, dan sel punca. (Baca juga: Pro-Kontra Ahli Atas Bra Warsito)

    Weber mengatakan para peserta konferensi sangat antusias terhadap metode baru ECCT karena metode ini memberikan kontribusi yang sangat besar dalam upaya menyembuhkan pasien kanker. "Terutama dalam kondisi stadium akhir," katanya.

    JONIANSYAH

    Berita Lain:
    Politikus Ini Masih Sakit Hati kepada Demokrat
    Gunung Sinabung Meletus, Tidak Ada Korban Jiwa
    Manusia Takut Pada Sesuatu yang Mendekat


     

     

    Lihat Juga


    Newsletter


    Selengkapnya

    Grafis

    Pemerintah Longgarkan Aturan Memakai Masker

    Jokowi mengizinkan masyarakat lepas masker di ruang terbuka setelah melihat kondisi pandemi Covid-19 yang memenuhi nilai-nilai tertentu.