Roro Jonggrang Masih Jadi Topik Hangat Twitter  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sekjen PKS Taufik Ridho usai melaporkan KPK ke Bareskrim Mabes Polri, Jakarta, (13/05). PKS melaporkan atas 10 penyidik KPK yang telah menyita barang bukti mobil yang di duga milik Luthfi Hasan Ishaq dan Ahmad Fathanah. TEMPO/Dasril Roszandi

    Sekjen PKS Taufik Ridho usai melaporkan KPK ke Bareskrim Mabes Polri, Jakarta, (13/05). PKS melaporkan atas 10 penyidik KPK yang telah menyita barang bukti mobil yang di duga milik Luthfi Hasan Ishaq dan Ahmad Fathanah. TEMPO/Dasril Roszandi

    TEMPO.CO, Jakarta - Belakangan ini istilah Roro Jonggrang dan Tangkuban Perahu menjadi bahan diskusi menarik dan ramai dibicarakan di media sosial. Akun ‏@ndorokakung menyebutkan, "Hiburan pagi ini dipersembahkan oleh Roro Jonggrang :))"

    Keramaian ini bermula dari Sekretaris Jenderal Partai Keadilan Sejahtera Taufik Ridho yang mengeluarkan pernyataan di Rumah Polonia, markas tim Prabowo-Hatta, pada Ahad, 3 Agustus 2014 mengenai upaya pengumpulan bukti gugatan ke Mahkamah Konstitusi terkait dugaan kecurangan pemungutan suara.

    Alkisah, pernyataan ini bermula dari berita yang dimuat di situs pkspiyungan.org. Taufik mengatakan pengumpulan bukti kecurangan yang dilakukan tim Prabowo-Hatta tidak mudah dan membutuhkan waktu. "Ini tidak bisa dilakukan seperti Roro Jonggrang membuat Tangkuban Parahu (yang menurut legenda dilakukan hanya dalam waktu semalam)," ujarnya.

    Pernyataan Taufik ini langsung menyulut reaksi media sosial. Jika menilik legenda, Roro Jonggrang dan Tangkuban Perahu adalah hal yang berbeda. Keduanya memang memiliki kesamaan membangun candi dan bendungan sebagai persyaratan untuk memenuhi janji pernikahan dalam semalam. Namun, dongeng Roro Jonggrang tidak terkait Tangkuban Perahu.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tarik Ulur Vaksin Nusantara Antara DPR dan BPOM

    Pada Rabu, 14 April 2020, sejumlah anggota DPR disuntik Vaksin Nusantara besutan mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto