Survei: Gaya Berjalan Pengaruhi Mood Seseorang  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dengan memegang pinggulnya anak perempuan bergaya saat berjalan di catwalk memperagakan pakaian dari merek Lilica Ripilica dalam acara Sao Paulo Fashion Show di Sao Paulo, Brasil (3/4). AP/Andre Penner

    Dengan memegang pinggulnya anak perempuan bergaya saat berjalan di catwalk memperagakan pakaian dari merek Lilica Ripilica dalam acara Sao Paulo Fashion Show di Sao Paulo, Brasil (3/4). AP/Andre Penner

    TEMPO.COOntario - Suasana hati seseorang rupanya dapat mempengaruhi cara berjalan. Posisi bahu yang turun saat sedih atau gaya berjalan yang agak melonjak saat sedang senang bisa disebut sebagai contoh. Sekarang peneliti telah menunjukkan fakta sebaliknya. Mood seseorang akan berubah jika gaya berjalannya ikut diganti.

    "Kami ingin melihat apakah cara berjalan mempengaruhi mood seseorang," kata anggota penelitian, Nikolas Troje, mahasiswa master dari Queen’s University, Kanada, seperti dikutip dari Sciencedaily, Rabu, 22 Oktober 2014. 

    Dalam studi ini, subyek penelitian diminta berjalan dalam gaya yang tertekan. Mereka harus menggerakkan lengan dan bahu mereka dengan terpaksa. Menurut penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Journal of Behavior Therapy and Experimental Psychiatri ini, mereka mengaku mengalami suasana hati yang buruk dibanding saat berjalan dengan gaya yang lebih bahagia. (Baca: Cara Mudah Mengelola Marah)

    Troje dan rekan penelitiannya kemudian menunjukkan daftar kata bernuansa positif dan negatif kepada peserta penelitian, seperti "cantik", "takut", dan "cemas". Kemudian, mereka diminta untuk berjalan di atas alat treadmill sambil diukur gaya dan bahasa tubuh mereka. Jarum pada alat pengukur pun menunjukkan tingkat kebahagiaan dan kemurungan para peserta penelitian.

    Setelah berjalan di treadmill, para peserta diminta untuk menuliskan kata-kata sebanyak yang mereka ingat dari daftar sebelumnya. Perbedaan tiap peserta menunjukkan bahwa gaya berjalan depresi benar-benar menciptakan suasana hati yang lebih tertekan. (Baca juga: Anda Mudah Depresi jika Kekurangan Zat Ini)

    Penelitian ini, menurut Troje, didasari pada pemahaman manusia tentang bagaimana suasana hati dapat mempengaruhi memori. Secara klinis, pasien depresi diketahui dapat mengingat peristiwa negatif lebih banyak daripada positif. "Saat itu terjadi, mereka akan menjadi lebih buruk," ujar dia.

    Troje mengklaim penelitian ini berkontribusi dalam membuka misteri bagaimana otak mengubah rangsangan sensoriknya menjadi informasi. Selain itu, juga untuk menambah referensi pembelajaran manusia melalui e-learning antara sesama manusia.

    AMRI MAHBUB

    Berita Lainnya:
    Hari Senin Rasa Sabtu Gara-gara Jokowi
    Jokowi Batal Umumkan Kabinet Hari Ini
    Pilih Menteri, Gerindra Kritik Jokowi Libatkan KPK


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspada, Penyakit Yang Terabaikan Saat Pandemi Covid-19

    Wabah Covid-19 membuat perhatian kita teralihkan dari berbagai penyakit berbahaya lain. Sejumlah penyakit endemi di Indonesia tetap perlu diwaspadai.