Mungkinkah Brontosaurus Kembali Lagi? Ini Kisahnya...

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Brontosaurus. Davide Bonadonna, Milan, Italy. Creative commons license CC- BY NC SA

    Ilustrasi Brontosaurus. Davide Bonadonna, Milan, Italy. Creative commons license CC- BY NC SA

    TEMPO.CO, Colorado - Brontosaurus kembali. Atau setidaknya akan kembali, menurut analisis kelompok penelitian yang meneliti pohon keluarga dinosaurus berleher panjang ini. Temuan tersebut terbit pada jurnal Peerj edisi 7 April 2015.

    Para peneliti menunjukkan bahwa dinosaurus bernama latin Apatosaurus excelsus ini memang berbeda dari genus Apatosaurus. Sebelumnya, sampai 1903, dinosaurus ini dimasukkan ke dalam genus Brontosaurus. "A. exelcus akan kembali menjadi Brontosaurus," kata Matthew Mossbrucker, direktur dan kurator di Morisson Natural History Museum, Colorado, seperti dikutip dari Live Science.

    Kembalinya nama dinosaurus ini berdasarkan kesepakatan bersama antara beberapa kelompok paleontolog, yang meneliti hewan berleher panjang ini sekali lagi. Di akhir penelitian, mereka sampai pada kesimpulan yang sama.

    Selama ini publik menganggap dinosaurus berleher panjang sebagai Brontosaurus. Tapi ternyata itu bukan nama sebenarnya. Pada 1903, genus tersebut dihapuskan dan digabung dengan Apatosaurus.

    Sementara nama Brontosaurus tetap bertahan dalam budaya populer, terlebih saat film Jurassic Park lahir, para ilmuwan juga masih sesekali melakukan penyelidikan terhadap pohon keluarga Apatosaurus tersebut. Bob Bakker, kurator dan paleontolog di Houston Museum of Natural Science, mengatakan pertimbangan revisi nama A. excelsus ke Brontosaurus sudah santer dibicarakan sejak 1990-an.

    "Kedua jenis tersebut harusnya tak pernah disamakan," ujar Bakker. Menurut dia, kedua spesies tersebut memang berbeda, terutama pada tulang belikat, kepala dan leher, yang memisahkan A. excelsus dari Apatosaurus lainnya. Tapi satu-satunya analisis sifat Apatosaurus, yang terbit dalam jurnal National Science Museum Monograph pada 2004, menjunjung tinggi konvensi penamaan oleh Riggs.

    Penelitian terbaru serentak oleh kelompok peneliti berbeda tak hanya meneliti Apatosaurus, tapi semua dinosaurus berleher panjang dalam keluarga Diplodocidae. Selain Apatosaurus, keluarga leher panjang ini juga mencakup Diplodocuses. Para peneliti memeriksa 477 ciri morfologi yang berbeda dari tiap spesimen individu yang disimpan di seluruh museum di Eropa dan Amerika Serikat.

    Emanuel Tschoop, pakar paleontologi dari Universidade Nova de Lisboa Portugal, mengatakan penelitian tersebut dimulai dari hal yang sederhana. Ide dasarnya, ujar dia, mengindentifikasi beberapa kerangka baru yang ada di sebuah museum di Swiss antara spesies satu dan lainnya. "Untuk melakukan ini kami juga harus merevisi taksonomi kelompok spesies," katanya.

    Tschoop dan rekan-rekan penelitiannya berkutat pada katalog perbedaan berbagai fitur tulang Diplodocidae dinosarus dan menggunakan metode statistik untuk mengukur perbedaan tiap dinosaurus. Dari titik ini mereka kemudian melanjutkan ke pemisahan spesimen menjadi individu spesies dan genera, atau kelompok lain yang terkait dengan spesies.

    Hasil yang paling provokatif ialah morfologi yang dimiliki A. excelsus. Tschoop menemukan banyak perbedaan antara genus Brontosaurus dan Apatosaurus, sehingga keduanya memang harus dipisahkan menjadi dua genera. Terutama, dia menjelaskan, Apatosaurus memiliki tulang leher yang lebih kuat dari Brontosaurus.

    LIVE SCIENCE | AMRI MAHBUB


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gaji Gubernur dan Perbandingan Luas Jawa Tengah dengan Malaysia

    Dalam Debat Pilpres 2019 pertama pada 17 Januari 2019, Prabowo Subianto menyinggung besaran gaji gubernur dengan mengambil contoh Jawa Tengah.