Berkat Yoghurt Kadaluarsa, Siswa MAN I Yogyakarta Jadi Juara

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO/ Nita Dian

    TEMPO/ Nita Dian

    TEMPO.CO, Jakarta - Siswa-siswi madrasah kembali menorehkan prestasi di bidang penelitian. Kali ini, siswa-siswi Madrasah Aliyah Negeri I Yogyakarta (MANSA) berhasil meraih medali emas dan perak pada Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2015 yang diselenggarakan oleh Direktorat Pembinaan SMA Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

    Ada dua tim MANSA yang meraih medali Olimpiade yang puncaknya tanggal 15 Oktober 2015 di Surabaya, sebut laman kemenag.go.id yang dikutip Selasa, 20 Oktober 2015.

    Peraih medali emas adalah Roqi Reflanska Bintang Mahardika (siswa kelas XII IPA I) dan Salma Jihan Noviarini (Siswi kelas XII IPA 2). Keduanya melakukan penelitian dengan tema “Yogurt dan Limbah Nata Sebagai Filter Kaca Helm Hidrofobik (anti basah)". Selain mendapatkan medali emas, mereka juga mendapatkan uang pembinaan sebasar Rp 15 juta.

    Roqi mengungkapkan bahwa penelitian ini tidak datang tiba-tiba. Pemilihan yogurt sebagai bahan juga tidak datang tiba-tiba. “Kami baca jurnal-jurnal penelitian. Kami juga mencari bahan-bahan yang murah, karena dalam penelitian ini kami menggunakan biaya mandiri dan bantuan dari Dikpora. Ketemulah dengan yogurt yang sudah kadaluarsa. Kami juga melakukan percobaan berkali-kali,” ungkap Roqi.

    Roqi juga mengungkapkan rasa senang dan haus atas kemenangan ini. “Nggak nyangka. Kami yang basic-nya di bawah naungan Kementerian Agama yang bercirikhaskan  agama Islam, turut bersaing dan bahkan bisa meraih gold medal di antara siswa-siswi SMA,” ujarnya.

    “Dari pengalaman ini, saya mendapatkan banyak pelajaran di antaranya jangan pernah minder,  tunjukkan kepada dunia bahwa Madrasah dapat bersaing. Ingat jangan pernah menyarah, tidak ada hasil yang menghianati usahanya dan tidak ada hasil tanpa doa yang panjang,” tambahnya.

    Adapun tim kedua adalah Hana Hanifah (siswi kelas XI MIA 1) dan Trixie Azharine A (siswi kelas XI MIA2). Mereka meraih medali perak dan uang pembinaan sebesar 12 juta. Penelitian mereka bertemakan “Pengaruh Pemberian Variasi Pakan terhadap Pertumbuhan Kutu Air (daphnia magna) Sebagai Pakan Alami.”

    “Awalnya teman saya, Trixie, waktu pulang kampung melihat pembudidayaan ikan. Ikan-ikan tersebut diberi makan dengan pelet ikan yang jumlahnya banyak. Dia berpikir kalau pakai pelet pasti butuh banyak. Nah, kenapa tidak menggunakan pakan alami yang berupa hewan dan dapat diperbanyak," kata Hana.

    Hana melanjutkan, "Lalu, di daerah saya ada banyak dan mudah dijumpai ampas kelapa yang sudah tidak dipakai. Setelah membaca jurnal dan penelitian, kami dapatkan informasi bahwa salah satu pakan alami ikan adalah kutu air (Daphnia magna) dan ampas kelapa ternyata bisa mengundang kutu air dan masih mengandung beberapa kandungan gizi. Oleh sebab itu kami mencoba untuk memperbanyak Daphnia dengan memberi variasi pakan dari limbah ampas kelapa yang difermentasi,” jelas Hana.    

    Penelitian yang dilakukan Hana dan Trixie ini dipersiapkan sejak bulan Januari dan dimulai penelitiannya sejak bulan Mei hingga Agustus. Hana juga mengungkapkan kekagetannya atas prestasi medali perak ini. “Nggak nyangka. Madrasah bisa bersaing dengan SMA, bahkan di tingkat nasional,” pungkasnya.

    Tradisi penelitian di MANSA sudah mulai terbangun dengan adanya program pembimbingan riset. Program pembimbingan ini berupa kajian rutin tiang minggu, lalu mengumpulkan ide-ide, selanjutnya pendampingan pembuatan proposal, workshop dan pendalaman mengenai karya tulis, pendampingan dalam progres penelitian, dan terakhir tahap pendampingan penulisan laporan.

    "Selama pendampingan ini, kami bekerja sama  dengan berbagi stakeholder, seperti UGM, UNY, UIN Sunan Kalijaga, Dinas Perizinan Kota Yogyakarta, Dikpora dan Sagasitas DIY,” jelas Nur Fathurrahman Ridwan, guru pembimbing dan sekaligus juga alumni MANSA angkatan 2009, yang kebetulan juga alumni Universitas Negeri Yogyakarta.

    Nur—sapaan akrab Nur Fathurrahman Ridwan—mengungkapkan bahwa anak-anak madrasah memiliki kegigihan dan pantang menyerah dalam penelitian.

    "Mereka lembur di laboratorium siang malam. Bahkan sampai ada yang tidak tidur. Mereka juga memiliki daya serap tinggi dalam membedah jurnal penelitian. Sangat antusias dalam berkonsultasi terutama dengan para dosen di universitas-universitas. Selain itu, mereka juga memiliki kemampuan verbal yang baik," ungkap Nur.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Drone Pemantau Kerumunan dari Udara selama Wabah Covid-19

    Tim mahasiswa Universitas Indonesia merancang wahana nirawak untuk mengawasi dan mencegah kerumunan orang selama pandemi Covid-19.