COP21 Paris: Vietnam akan Gelontorkan US$1 Juta

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktivis lingkungan membentuk rantai manusia untuk membuat pesan harapan dan perdamaian di depan Menara Eiffel di Paris, Prancis, 6 Desember 2015. Selain membentuk logo perdamaian mereka juga membentuk pesan bertuliskan 100% terbarukan, untuk mengingatkan para peserta Konferensi Perubahan Iklim Dunia 2015 (COP21) akan pentingnya energi terbarukan bagi dunia. AP/Michel Euler

    Aktivis lingkungan membentuk rantai manusia untuk membuat pesan harapan dan perdamaian di depan Menara Eiffel di Paris, Prancis, 6 Desember 2015. Selain membentuk logo perdamaian mereka juga membentuk pesan bertuliskan 100% terbarukan, untuk mengingatkan para peserta Konferensi Perubahan Iklim Dunia 2015 (COP21) akan pentingnya energi terbarukan bagi dunia. AP/Michel Euler

    TEMPO.CO, Paris-Vietnam berjanji akan turut berkontribusi dalam menggelontorkan dana adaptasi dan mitigasi perubahan iklim sebesar US$ 1 juta untuk periode 2016-2020.

    "Vietnam juga akan meningkatkan kinerja dalam menangani perubahan iklim," kata Perdana Menteri Vietnam, Nguyen Tan Dung, dalam pidatonya di Konferensi Perubahan Iklim ke-21 Paris (COP21 Paris), Senin, 7 Desember 2015. Komitmen ini menjadikan Vietnam menjadi negara berkembang pertama yang menyumbangkan dananya demi kepentingan perubahan iklim. Hingga saat ini sudah ada 43 negara yang menjanjikan dukungan dana.

    Tan Dung mengatakan, upaya yang lebih besar akan diambil dalam memenuhi kewajiban Vietnam di bawah Protokol Kyoto. Meskipun Vietnam memiliki keterbatasan sumber daya, tapi dia optimistis Vietnam dapat menerapkan strategi nasional dan rancangan kerja dalam menanggapi perubahan iklim. "Tentunya dengan langkah konkret dan bantuan negara-negara maju,"ujarnya.

    Vietnam berkomitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 8 persen pada 2030 dan 25 persen dengan dukungan internasional. Ini mereka sampaikan dalam Intended Nationally Determined Contribution (INDC). Angka tersebut berdasarkan hitungan dari kebutuhan dan ancaman yang ditimbulkan oleh naiknya permukaan air laut ke Delta Meking.

    Sebelumnya sudah ada empat negara Eropa bersedia menyediakan dana sebesar US$ 500 juta untuk membantu negara berkembang dalam rangka pengurangan emisi karbon. Keempat negara tersebut, yaitu Swedia, Norwegia, Jerman, dan Swiss. Dana tersebut akan dikelola oleh lembaga Fasilitas Aset Karbon Transformatif bentukan World Bank. Lembaga ini akan mengelola dana itu dalam bentuk proyek pengurangai efek gas rumah kacan, termasuk kampanye nasional. Misalnya, adaptasi pengurangan energi fosil ke energi baru-terbarukan.

    "Bersama negara berkembang kami akan menemukan cara untuk mengurangi karbon," kata Presiden World Bank, Jim Yong Kim, di COP21 Paris. Kim mengatakan, inisiatif ini adalah salah satu cara untuk menjaga lingkungan demi keberlangsungan hidup manusia. Rencananya, kata dia, dana akan digelontorkan pada awal 2016. Bank Dunia menargetkan investasi mitigasi perubahan iklim sebesar US$ 2 miliar.

    Sebelas negara donor juga telah berjanji untuk mengumpulkan US$ 250 juta untuk mendukung program mitigasi dan adaptasi negara-negara yang paling rentan terkena imbas perubahan iklim. Ke-11 negara tersebut adalah Kanada, Denmark, Finlandia, Perancis, Jerman, Irlandia, Italia, Swedia, Swiss, Inggris, dan Amerika Serikat. Mereka mengumumkan komitmen mereka melalui Least Develop Countries Fund (LDCF), dana mitigasi dan adaptasi perubahan iklim yang dikelola oleh Global Environtment Facility (GEF).

    Menanggapi komitmen tersebut, Ketua GEF, Naoko Ishii, menyatakan bahwa dana menjadi salah satu unsur penting dalam perubahan iklim. "Untuk mengisi program-progam menjaga lingkungan, seperti teknologi terbarukan dan program reduksi emisi karbon," ujarnya.

    AMRI MAHBUB (PARIS)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.