Heboh Berlian Muncul dari Perut Bumi, Ini Cara Menambangnya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang karyawan memegang berlian biru tanpa cacat internal di rumah lelang Sotheby, London, Inggris, 15 Maret 2016. Berlian seberat 10,10 karat ini diperkirakan akan laku hingga Rp460 miliar pada lelang 5 April mendatang di Hongkong. REUTERS

    Seorang karyawan memegang berlian biru tanpa cacat internal di rumah lelang Sotheby, London, Inggris, 15 Maret 2016. Berlian seberat 10,10 karat ini diperkirakan akan laku hingga Rp460 miliar pada lelang 5 April mendatang di Hongkong. REUTERS

    TEMPO.CO, Vancouver - Banyak orang dan perusahaan melakukan penggalian untuk menemukan berlian. Memang, mineral langka ini dihasilkan pada tekanan dan temperatur tinggi di kedalaman 140-190 kilometer di bawah permukaan bumi.

    Masalahnya, bagaimana mineral terkeras ini bisa naik ke permukaan bumi? Jawabannya ada dalam eksperimen yang dibuat Kelly Russell, ahli vulkanologi dari University of British Columbia Vancouver, Kanada.

    "Berlian didorong mendekati permukaan oleh gas karbon dioksida," kata Russell. Prosesnya mirip munculnya gelembung gas setelah membuka tutup botol minuman berkarbonasi.

    Di perut bumi, tekanan menjadi sangat tinggi, yang membuat karbon dioksida terikat bersama batuan membentuk batuan karbonat. Kelly menggunakan batuan yang kaya akan karbonat ini sebagai sampel pada percobaan di laboratorium.

    Dia menaburkan mineral bernama orthopyroxene pada sampel. Setelah menunggu sekitar 20 menit, karbon dioksida pada batuan mulai meletup. "Gelembung terbentuk tepat di depan mata kami," ujar Russell, yang mengaku kaget.

    Eksperimen ini mendekati apa yang terjadi di perut bumi. Lapisan mantel atas (7-400 km di bawah permukaan) mengandung 15-27 persen mineral orthopyroxene . Akibatnya, mineral ini mudah berinteraksi dengan batuan karbonat yang terdapat pada kedalaman 140-190 km.

    Ketika hal itu terjadi, karbon dioksida terlepas dari material cair mendorong magma ke lapisan lebih atas dengan kecepatan 14 km per jam. Semakin mendekati permukaan, kandungan orthopyroxene semakin tinggi, sehingga membuat magma didorong semakin cepat. Perhitungan Russell menunjukkan magma terangkat dari kedalaman 120 km hanya dalam waktu 3-8 jam.

    Teori dorongan oleh karbon dioksida ini sejalan dengan yang terlihat di lapangan. Berlian sebagian besar ditemukan bercampur dengan batuan kimberlite yang padat. Batuan ini muncul di permukaan setelah terjadi erupsi akibat perubahan tekanan di perut bumi.

    Menurut James Head, ahli geologi dari Brown University, eksperimen Russell ini mengisi kekosongan pada peristiwa erupsi kimberlite . "Teori baru ini menjamin berlian menembus kerak bumi, lalu menyebar ke cincin dan kalung di seluruh dunia," kata Head.

    SCIENCEMAG | AMRI MAHBUB


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemendikbud, yang Diperhatikan Saat Murid Belajar dari Rumah

    Solusi menghambat wabah Covid-19 diantaranya adalah belajar dari rumah dengan cara menghentikan sekolah biasa dan menggantinya dengan sekolah online.