Pemerintah Tak Jadi Larang Klakson Telolet, tapi...  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah pelajar sekolah menuliskan pesan

    Sejumlah pelajar sekolah menuliskan pesan " Om Telolet Om " agar pengemudi bus membunyikan klakson di Jalan Sudirman, Bekasi, Jawa Barat, 21 Desember 2016. Fenomena " Om Telolet Om " yang menjadi "trending topic" di media sosial. ANTARA/Risky Andrianto

    TEMPO.CO, Jakarta - Klakson telolet yang mendadak jadi sensasi dunia menimbulkan berbagai macam pendapat, bahkan sempat pula ada kabar akan dilarang. Namun Kepala Badan Pengawas Jalan Tol Elly Adriani Sinaga mengatakan pengemudi hanya harus menyesuaikan volume klaksonnya.

    "Di PP Nomor 55 Tahun 2013 diatur bahwa bunyi klakson paling maksimal itu 118 desibel," ucap Elly kepada wartawan di Terminal Kalideres, Jumat, 23 Desember 2016.

    Elly berujar, setelah diukur, volume klakson telolet adalah 200 desibel. Jumlah tersebut hampir dua kali batas maksimal yang diperbolehkan.

    Meski demikian, Elly tidak menyebutnya akan dilarang. "Masyarakat kan dengar lagunya, itu yang dinikmati, tapi volumenya harus menyesuaikan PP," ujar Elly.

    Elly pun menjelaskan kekhawatiran Kementerian Perhubungan. Dia menuturkan desibel yang terlalu tinggi dikhawatirkan akan mengagetkan kerumunan orang. "Bisa saja kan di keramaian itu ada yang punya penyakit jantung," ucapnya.

    Selain itu, Elly memperingatkan, bunyi klakson yang terlalu bising jangan sampai membuat gaduh. "Bahkan bus yang di Sumatera itu sampai ditimpuki warga," kata Elly.

    BRIAN HIKARI | EZ

    Baca:
    Video: DJ Kelas Dunia Ramai-ramai Bikin Lagu 'Om Telolet Om'
    Ini Klub dan Atlet Eropa yang Ikut Demam 'Om Telolet Om'
    Pasang Klakson Telolet Impor, Harganya Rp 2,5 Juta


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Silang Pendapat tentang RUU PKS

    Fraksi-fraksi di DPR berbeda pendapat dalam menyikapi Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual atau RUU PKS. Dianggap rumit.