Pemimpin TI di Indonesia Prioritaskan Hybrid Cloud

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang staff menunjukkan cara kerja piranti lunak cloud computing untuk mengoperasikan penerbangan, di booth Microsoft pada persiapan Pameran Komputer CeBit di Hanover, Jerman, Senin (5/3). REUTERS/Fabrizio Bensch

    Seorang staff menunjukkan cara kerja piranti lunak cloud computing untuk mengoperasikan penerbangan, di booth Microsoft pada persiapan Pameran Komputer CeBit di Hanover, Jerman, Senin (5/3). REUTERS/Fabrizio Bensch

    TEMPO.CO, Jakarta - Sebanyak 48 persen dari para pemimpin TI di Asia Pasifik memprioritaskan hybrid cloud dibandingkan public cloud ataupun private cloud untuk organisasi mereka.

    Data tersebut merupakan salah satu temuan dalam survei Microsoft Asia Pasifik yang melibatkan 1.200 pemimpin TI di 12 negara. Survei bertujuan memahami bagaimana mereka mengembangkan strategi infrastruktur TI untuk memenuhi kebutuhan bisnis digital.

    “Pemimpin TI berusaha menyeimbangkan kebutuhan TI, tuntutan anggaran, serta tuntutan untuk memodernisasi sistem yang dapat memenuhi tantangan masa depan digital,” ujar Yos Vincenzo, Cloud & Enterprise Business Group Lead, Microsoft Indonesia, dalam keterangannya, Rabu 18 Januari 2018.

    Baca:
    Xiaomi Akan Hadirkan Tiga Versi Xiaomi MI 6
    Bocoran Oppo Find 9, Bezel Tipis Tanpa Batas Tepi
    Peneliti Jepang Salin Sidik Jari dari Foto, Ini Bahayanya

    Survei juga menemukan bahwa saat ini 43 persen dari responden di Indonesia sudah menggunakan hybrid cloud. Angka ini diperkirakan akan mengalami peningkatan hingga 48 persen dalam 12-18 bulan ke depan. Adapun 30 persen lainnya menggunakan private cloud dan 27 persen memanfaatkan public cloud.

    Survei menunjukkan bahwa kecil kemungkinan responden meningkatkan investasi baik di solusi private cloud maupun public cloud karena permintaan akan pendekatan hybrid yang lebih terintegrasi semakin menguat.

    Mengadopsi strategi hybrid cloud menjadi langkah lanjutan bagi organisasi yang ingin mengambil manfaat dari kemampuan teknologi komputasi awan yang modern, tetapi ingin tetap mengelola aset tradisional mereka.

    “Departemen TI memiliki tantangan berat untuk menyeimbangkan kebutuhan digital bisnis saat ini dan masa depan. Cloud memiliki sejumlah perangkat baru yang beragam, yang memungkinkan terbentuknya manajemen yang lebih baik, melahirkan aplikasi yang cerdas, serta melakukan analisis yang canggih,” ujar Rizki Muhammad dari PT Serasi Autoraya.

    Meskipun 85 persen mengaku nyaman untuk menggunakan seluruh aplikasi bisnis mereka di public cloud, lebih dari setengah responden hanya menggunakannya untuk aplikasi mendasar seperti email dan aset online bagi pelanggan (website). Hanya 41 persen responden yang menggunakan cloud untuk pengembangan aplikasi dan operasi.

    Yos Vincenzo mengatakan terdapat empat area yang perlu ditingkatkan para pemimpin TI untuk mempercepat transformasi digital organisasi mereka. Pertama, manfaatkan alat-alat modern untuk mengelola peningkatan keamanan dan kompleksitas. Kedua, kuasai infrastruktur dengan alat manajemen piranti lunak yang mencakup public, private, dan multiple branded cloud.

    Langkah ketiga adalah berpindah ke hybrid cloud yang terintegrasi untuk mendapatkan manfaat terbaik dari public dan private cloud. Terakhir, tingkatkan beban kerja di cloud untuk berinovasi, mempersingkat waktu ke pasar, dan memaksimalkan potensi yang ditawarkan teknologi digital terbaru.

    “Komitmen Microsoft untuk memungkinkan transformasi digital adalah dengan menghadirkan Windows Server 2016 dan System Center 2016 di Indonesia,” ujar Yos Vincenzo.

    ERWIN Z


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Drone Pemantau Kerumunan dari Udara selama Wabah Covid-19

    Tim mahasiswa Universitas Indonesia merancang wahana nirawak untuk mengawasi dan mencegah kerumunan orang selama pandemi Covid-19.