BMKG Gelar Ekspedisi untuk Teliti Fenomena Kemaritiman  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Layar Pemantau Peringatan Tsunami Indonesia pada simulasi Tsunami Drill International 2009 & Exercise IOWVE 2009, Jakarta, Rabu(14/10). Kegiatan ini melatih kesiagaan terhadap bencana gempa bumi dan tsunami. Foto: TEMPO/Subekti

    Layar Pemantau Peringatan Tsunami Indonesia pada simulasi Tsunami Drill International 2009 & Exercise IOWVE 2009, Jakarta, Rabu(14/10). Kegiatan ini melatih kesiagaan terhadap bencana gempa bumi dan tsunami. Foto: TEMPO/Subekti

    TEMPO.COJakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali menggelar Ekspedisi Indonesia Prima (Indonesia Program Initiative on Maritime Observation and Analysis) 2017 untuk meneliti berbagai fenomena kemaritiman.

    "Ekspedisi ini melakukan perbaikan buoy di Samudra Hindia, juga bermanfaat untuk mengetahui iklim ekstrem," kata Kepala BMKG Andi Eka Sakya di Dermaga Perikanan Muara Baru, Jakarta, Senin, 20 Februari 2017. 

    Ekspedisi kelautan itu digelar bersama oleh BMKG, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dan badan cuaca Amerika (National Oceanic and Atmospheric Administration-NOAA). Adapun ekspedisi yang berlangsung pada 20 Februari hingga 16 Maret 2017 ini menempuh dua rute, yaitu Jakarta, Samudra Hindia, Sabang, kemudian rute Sabang, Pidie, Selat Malaka, Jakarta. 

    Kegiatan ini akan dilengkapi dengan open ship dan miniworkshop yang dapat dikunjungi masyarakat umum pada saat kapal bersandar di Sabang.

    "Kami juga mengundang masyarakat untuk mengenal aktivitas kapal ini lewat miniworkshop," kata Andi.

    Indonesia Prima 2017 merupakan kelanjutan dari misi kerja sama sains dan teknologi kelautan sebelumnya bersama dengan Amerika selama tiga tahun terakhir.

    Kegiatan tersebut bertujuan melakukan perawatan dan pembaruan buoy/mooring laut ATLAS yang merupakan bagian dari program penelitian RAMA (Research Moored Array for African-Asian-Australian Monsoon Analysis and Prediction) dengan memasang rangkaian buoy mooring laut dalam. 

    RAMA sendiri merupakan program kerja sama penelitian multinasional dalam pembangunan data dasar kelautan untuk pemantauan dan prediksi sistem monsun, variabilitas iklim, dan interaksi antara laut dan atmosfer global, khususnya di sekitar benua Asia dan Samudra Hindia, serta menjadi bagian dari GOOS (Global Ocean Observing System) yang melengkapi kekosongan data laut di sekitar Benua Maritim Indonesia.

    Dalam ekspedisi kali ini, BMKG-NOAA-LIPI menggunakan kapal Baruna Jaya VIII dan akan membawa tiga pakar kelautan NOAA, 25 personel/peneliti BMKG dan P2O LIPI, serta 23 kru kapal dan teknisi. 

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Komentar Yasonna Laoly Soal Harun Masiku: Swear to God, Itu Error

    Yasonna Laoly membantah disebut sengaja menginformasikan bahwa Harun berada di luar negeri saat Wahyu Setiawan ditangkap. Bagaimana kata pejabat lain?