Era Digital, Jumlah Pengangguran Meningkat  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana Pameran Indonesia Cellular Show (ICS) 2016 di JCC, Jakarta, 2 Juni 2016. Pameran yang telah digelar selama 13 kali tiap tahunnya ini mengusung tema sesuai dengan salah satu fokus pemerintah, yakni Digital Revolution atau revolusi digital. Tempo/Tony Hartawan

    Suasana Pameran Indonesia Cellular Show (ICS) 2016 di JCC, Jakarta, 2 Juni 2016. Pameran yang telah digelar selama 13 kali tiap tahunnya ini mengusung tema sesuai dengan salah satu fokus pemerintah, yakni Digital Revolution atau revolusi digital. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.COJakarta - Anggota Dewan Pakar Asosiasi Serikat Pekerja (Aspek) Indonesia, Kun Wardana Abyoto, menyatakan era digital akan menciptakan banyak pengangguran karena lapangan pekerjaan yang tercipta jumlahnya lebih kecil daripada lapangan pekerjaan yang hilang.

    "Statistik ILO mengatakan di era digital ada pekerjaan-pekerjaan yang menjadi hilang dan menciptakan pekerjaan baru tapi selisihnya sangat besar sehingga akan terjadi banyak pengangguran. Kita harus bisa melihat ke depan, kalau menunggu ini terjadi, akan ketinggalan," ujar Kun dalam seminar nasional "Memperjuangkan Kesejahteraan dalam Bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia" yang digelar Aspek Indonesia di Jakarta, Senin, 20 Februari 2017.

    Pengamatan yang dicatat Organisasi Buruh Internasional (ILO) itu, menurut Kun, telah melihat kecenderungan teknologi digital akan menguasai seluruh bidang pekerjaan.

    Kun mengatakan revolusi teknologi telah terjadi empat kali, yaitu pertama dengan penemuan mesin uap, kedua elektrifikasi, ketiga penggunaan komputer, dan keempat revolusi era digital.

    Sedangkan pengaruh era digital terhadap semakin banyaknya pengangguran disebabkan oleh penerapan robotisasi dan otomatisasi di perusahaan.

    Serikat pekerja dan pemerintah, kata Kun, harus dapat mencermati hal itu dan menyiapkan antisipasi yang dibutuhkan. 

    Kun mencontohkan di Cina, pemerintah memberlakukan kebijakan khusus larangan masuk untuk perusahaan berplatform digital, seperti Google, Amazon, dan Facebook, untuk melindungi perusahaan dalam negeri.

    "Di alibaba.com, kegiatan sale mereka bisa mengalahkan pendapatan Amazon selama setahun. Betapa besar pasarnya," ujarnya.

    Namun, untuk Indonesia, Kun mengakui masih susah melindungi pekerja dari kehilangan pekerjaannya karena belum memiliki teknologi yang memadai serta belum adanya kebijakan pemerintah yang mendukung seperti di Cina.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dituding Sebarkan Hoaks, Wartawan FNN Hersubeno Dipolisikan PDIP

    DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta resmi melaporkan Hersubeno Arief ke Kepolisian. Hersubeno dilaporkan atas dugaan pencemaran nama baik.