Ilmuwan Pecahkan Misteri Jamur Bersinar dalam Kegelapan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jamur bioluminescent bersinar dalam kegelapan. Kredit: Mashable

    Jamur bioluminescent bersinar dalam kegelapan. Kredit: Mashable

    TEMPO.CO, Brasilia - Puluhan spesies jamur yang bersinar dalam kegelapan tumbuh di seluruh dunia. Tapi detail tentang apa yang membuat mereka bersinar begitu cerah belum terpecahkan.

    Dalam sebuah studi baru, para ilmuwan mengatakan mereka akhirnya bisa menjelaskan apa yang membuat jamur bioluminescent bersinar. Mereka menggambarkan proses "percampuran enzim" yang menyebabkan perubahan intensitas dan warna emisi cahaya jamur-jamur itu.

    Baca: Warga Bengkulu Temukan Habitat Baru Bunga Rafflesia Arnoldii  

    Para peneliti, yang berasal dari Rusia, Brasil, dan Jepang, mempublikasikan temuan mereka di jurnal Science Advances, sebagaimana dikutip Mashable, Kamis 27 April 2017.

    Bioluminescence ada dalam berbagai organisme, termasuk ikan laut dalam, kunang-kunang, dan glowworms. Pada bulan Maret, kelompok ilmuwan lain menemukan bukti solid pertama fluoresensi pada amfibi, yang ditemukan pada kodok pohon Amerika Selatan.

    Dari sekitar 100.000 spesies jamur, sekitar 80 diketahui bioluminescent. Beberapa di antaranya memancarkan cahaya hijau dari dalam untuk menarik kumbang, lalat, tawon, dan semut, yang pada gilirannya membantu membuka spora jamur dan menyebarkan jamur di kanopi hutan, menurut penelitian tahun 2015.

    Baca: Begonia Nephrophylla, Bunga Jenis Baru Asal Maluku

    Zinaida Kaskova dan rekan-rekannya menganalisis ekstrak dua jamur untuk studi mereka: Neonothopanus gardneri, jamur fluoresen asli Brasil, dan Neonothopanus nambi, jamur beracun yang ditemukan di hutan hujan di Vietnam selatan.

    Dalam kebanyakan kasus bioluminescence, organisme hidup memancarkan cahaya ketika molekul yang disebut "luciferin" - dari bahasa Latin lucifer, yang berarti pembawa cahaya – bercampur dengan mitra enzimnya "luciferase."

    Ketika luciferin dan luciferase bercampur dengan energi dan oksigen atmosfir, ini memicu reaksi kimia. Hasilnya adalah oxyluciferin, yang melepaskan energi ringan untuk "menenangkan diri" ke kondisi energi terendahnya.

    Baca: Rafflesia Arnoldii Mekar di Bukit Barisan Bengkulu

    Penelitian sebelumnya mencirikan kombinasi luciferin-luciferase pada serangga bioluminescent, bakteri, dan mamalia laut. Tapi penelitian Rabu 26 April 2017 adalah yang pertama yang menjelaskan hal ini pada jamur.

    Kaskova, seorang peneliti di Institut Kimia Bioenergi Akademi Sains Rusia, mengatakan bahwa dia dan timnya mampu menentukan struktur oxyluciferin di dalam jamur.

    Mereka menemukan bahwa jamur luciferase mungkin "tidak memilih-milih" karena dapat berpotensi berinteraksi dengan beberapa turunan dari molekul luciferin pada jamur.

    Temuan mereka bisa membuka jalan bagi para ilmuwan untuk memanfaatkan bioluminesensi pada jamur. Ilmuwan sudah menggunakan molekul neon untuk melacak sel dan protein dalam penelitian biologis. Ini bisa menambahkan alat lain untuk teknologi analisis dan pencitraan.

    MASHABLE | ERWIN Z


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman dan Nyaman Liburan Lebaran Idul Fitri 1442 H

    Ada sejumlah protokol kesehatan yang sebaiknya Anda terapkan kala libur lebaran 2021. Termasuk saat Salat Idul Fitri 1442H