Pavel Durov, Sosok Unik dan Kontroversial Pencipta Telegram

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • CEO Telegram, Pavel Durov melakukan konverensi pers seusai melakukan pertemuan tertutup di Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jakarta, 1 Agustus 2017. Telegram juga menyediakan moderator yang bisa berbahasa Indonesia. TEMPO/Yovita Amalia

    CEO Telegram, Pavel Durov melakukan konverensi pers seusai melakukan pertemuan tertutup di Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jakarta, 1 Agustus 2017. Telegram juga menyediakan moderator yang bisa berbahasa Indonesia. TEMPO/Yovita Amalia

    TEMPO.CO, Jakarta - Baru-baru ini CEO Telegram, Pavel Durov, datang ke Indonesia untuk bertemu Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara. Tujuan kedatangannya untuk melakukan negosiasi agar Telegram tetap bisa digunakan oleh penggunanya di Indonesia.

    Baca: Rudiantara Jamu Pavel Durov Makan Siang, Menunya Sayur Genjer

    Setelah kedatangannya ke Indonesia, nama Pavel menjadi perbincangan di Indonesia. Siapa sebenarnya Pavel Durov?

    Durov yang kini berusia 31 tahun dikenal oleh masyarakat luas sebagai CEO Telegram, aplikasi pesan terenskripsi yang ia buat setelah jejaring social VKontakte. Saat ini Pavel banyak disebut sebagai “Mark Zuckerberg Rusia” atas kesuksesannya membuat situs dan aplikasi ternama di usia muda. Kini, aplikasinya telah digunakan oleh 100 juta pengguna.

    Durov lahir di Rusia, 10 Oktober 1984. Sejak di bangku sekolah, ia sudah memperlihatkan ketertarikannya pada teknologi. Ia sudah belajar coding dan pembuatan sistem computer. Kala itu, kode yang ia buat digunakan untuk mengejek guru yang tidak ia sukai.

    Tak hanya dirinya, kakak tertuanya yakni Nikolai Durov juga pintar dalam membuat coding. Mereka sering membuat karya bersama. Proyek pertama yang dibuat Durov bersama kakaknya adalah VKontakte. Ia memulai proyek tersebut setelah meninggalkan universitas di tahun 2006.

    VKontakte merupakan jejaring sosial berbahasa rusia yang bekerja mirip Facebook. Aplikasi tersebut sangat populer dan memiliki 350 juta pengguna. Vkontakte dibuat di Singer House, sebuah bangunan ikonik di pusat Saint Petersburg.

    Setelah VKontakte mengalami masalah dengan pemerintah, Durov menciptakan telegram, yang saat ini menjadi salah satu aplikasi dengan pengguna terbanyak di dunia.

    Tak hanya dikenal dari prestasinya, Durov juga dikenal dengan gaya hidupnya yang unik. Ia hanya mengenakan pakaian berwarna hitam, dan bepergian secara konsisten ke seluruh dunia. Setidaknya setiap beberapa bulan sekali ia akan berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya di seluruh dunia, sehingga membuatnya sulit ditemui.

    Durov juga dikenal dengan kontroversi. Ia diketahui pernah berhadapan dengan kelompok bersenjata The Kremlin. Tak hanya itu, ia pernah membuat kehebohan pada tahun 2012 dengan menerbangkan lebih dari £ 1.000 pesawat kertas yang terbuat dari uang ke kerumunan orang-orang dari jendela kantornya. Setiap pesawat kertas terbuat dari cek bank senilai £ 50.

    Hubungan Durov dengan Pemerintah Rusia juga tidak dapat dikatakan baik. Situs VKontakte yang ia buat dulunya digunakan sebagai sebuah sarana komunikasi oleh kelompok antipemerintah yang mendukung aktivis politik Alexei Navalny, seorang pengkritik Putin.

    Selain itu, pada tahun 2011 Durov pernah merespons permintaan pemerintah dengan cara tidak biasa. Saat itu pemerintah meminta Durov untuk lebih mengontrol situsnya. Tidak seperti respons orang-orang pada umumnya, Durov justru membagikan foto seekor anjing yang memakai hoodie biru sedang menjulurkan lidahnya. Pesannya kepada Kremlin jelas: Ia tidak mau melakukan apa yang diperintahkan.

    Baca: Telegram Diblokir, Pavel Durov Bertemu Rudiantara Membahas...

    Saat ini Pavel Durov termasuk pemuda kaya raya. Ia mendapatkan banyak penghasilan dari situs dan aplikasi yang dibuatnya. Ia dilaporkan memiliki kekayaan sekitar U$ 260 juta atau sekitar Rp 3,4 triliun.

    BUSINESS INSIDER | BIANCA ADRIENNAWATI | EZ


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lakon DPR, Jokowi, dan MK dalam Riwayat Akhir Kisah KPK

    Pada 4 Mei 2021, Mahkamah Konstitusi menolak uji formil UU KPK. Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden Jokowi juga punya andil dalam pelemahan komisi.