Inilah 4 Mitos Soal Gerhana Bulan dan Matahari

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Fase Puncak Gerhana Bulan Penumbra terlihat dari Denpasar, Bali, 23 Maret 2016. Gerhana Bulan Penumbra terjadi ketika bulan melintas di wilayah bayangan gelap kabur bumi (penumbra) yang membuat bulan seolah tidak mengalami gerhana. ANTARA/Fikri Yusuf

    Fase Puncak Gerhana Bulan Penumbra terlihat dari Denpasar, Bali, 23 Maret 2016. Gerhana Bulan Penumbra terjadi ketika bulan melintas di wilayah bayangan gelap kabur bumi (penumbra) yang membuat bulan seolah tidak mengalami gerhana. ANTARA/Fikri Yusuf

    TEMPO.CO, Jakarta - Masyarakat Indonesia bisa menikmati gerhana bulan parsial nanti mulai, mulai pukul 22.50 sampai, Selasa, 8 Agustus 2017, pukul 03.50. Menariknya, gerhana bulan ini kerap kali dikaitkan dengan berbagai jenis mitos. Salah satunya, dalam budaya Indonesia, yakni bulan dimakan Batara Kala.

    Baca: Gerhana Bulan Malam Ini Berlangsung Sekitar 6 Jam

    1. Bulan Disantap Batara Kala
    Dalam mitologi Jawa, Batara Kala (Kalaharu) adalah raksasa jahat yang sangat kuat. Dia selalu membunuh manusia, terutama anak-anak, dan semua orang takut padanya. Diam-diam dia terbang ke surga dan mencuri beberapa tetes air tirta amertasari, air keabadian. Batara Surya (Dewa Matahari) dan Batara Candra (Dewa Bulan) mengetahuinya dan segera melaporkan ke Batara Guru.

    Batara Guru memerintahkan Batara Wisnu (Dewa Pemelihara Alam) untuk merebut kembali tirta amertasari. Kemudian Batara Wisnu mengambil senjata ampuhnya yaitu Chakra.
    Ketika Batara Kala meminum Tirta Amertasari dan baru sampai ke kerongkongannya, Batara Wisnu keburu menebas batang leher Batara Kala dengan Chakra.

    Baca: Waktu yang Pas untuk Melihat Gerhana Bulan Nanti Malam

    Batang tubuh Batara Kala melayang jatuh ke bumi, menjelma menjadi lesung kayu. Sementara kepalanya melayang diangkasa, tetap hidup abadi karena telah terlanjur meminum tirta amertasari. Dalam waktu-waktu tertentu, kepala tersebut memakan bulan.

    2. Pantangan Bagi Perempuan Hamil
    Di Indonesia, gerhana bulan maupun gerhana matahari, merupakan pantangan bagi perempuan hamil. Gerhana dianggap memancarkan efek negatif bagi perempuan hamil tersebut.

    Karena itu, perempuan yang sedang hamil diharuskan tetap berada di dalam rumah selama gerhana berlangsung. Kalaupun memaksa, niscaya bayi yang dikandung akan lahir cacat. Entah itu bayi akan buta atau memiliki bibir sumbing.

    Baca: Gerhana Bulan Nanti Malam Bisa Dilihat dengan Mata Telanjang

    Kenyataannya, itu hanya mitos belaka yang dikarang sebelum ilmu pengetahuan belum semaju seperti sekarang. Tidak pernah ada bukti ilmiah terkait hal ini.

    3. Makanan Terpapar Racun
    Di India, saat gerhana matahari atau gerhana bulan berlangsung, banyak orang akan menolak makan. Mereka juga menjauhi makanan yang belum dimasak.

    Hal tersebut dilakukan atas dasar kepercayaan, makanan yang dimasak saat gerhana terpapar racun. Mitos ini juga tumbuh di Jepang yang meyakini gerhana sebagai pertanda penyebar racun.

    Baca: Catat: 7 Agustus 2017 Ada Gerhana Bulan Parsial di Indonesia

    Racun akan menyebar melalui sumur. Karena itu, malam sebelum atau sehari sebelum terjadi gerhana, warga akan ramai-ramai menutup sumur mereka untuk mencegah air tanah terkontaminasi racun.

    4. Tanda Dewa Marah
    Lain lagi dengan kepercayaan masyarakat Yunani kuno. Gerhana, khususnya gerhana matahari, dipercaya sebagai tanda kemarahan Dewa. Gerhana dipercaya sebagai tanda mulainya bencana di bumi. Sebutan gerhana atau "eclipse" pun berasal dari bahasa Yunani kuno "Ekleipsis" yang berarti "ditinggalkan".

    Baca: Gerhana Bulan Akan Lewati Indonesia pada 7 Agustus 2017

    Simak berita menarik lainnya tentang gerhana bulan hanya di kanal Tekno Tempo.co.

    AMRI MAHBUB


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tarif Baru Ojek Online di Tiap Zonasi yang Berlaku 18 Juni 2019

    Kementerian Perhubungan telah menetapkan tarif baru ojek online berdasarkan pembagian zona. Kemehub mengefektifkan regulasi itu pada 18 Juni 2019.