Hasil Riset: Air di Jakarta Terkontaminasi Mikroplastik

Reporter

Seorang ibu ingin mengisi air minum mereka di dekat pengelolaan limbah plastik di daerah Pulo Gadung, Jakarta Timur. Dari 21 sampel di kawasan Jabodatabek, 76 persen air ledeng dan air tanah terkontaminasi mikroplastik. (Orb Media)

TEMPO.CO, Jakarta - Hasil riset terbaru mengungkap, mikroplastik ditemukan di jaringan air ledeng dan sumur di negara-negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Hal itu terungkap dari analisis 159 sampel air ledeng dan air tanah dari sebuah studi yang dilakukan Orb Media bersama ilmuwan dari University of Minnesota dan State University of New York.

Secara ekslusif Tempo.co mendapatkan temuan tersebut dari Orb Media. Liputan ini dipublikasikan serentak di sejumlah media terkemuka di seluruh dunia,  termasuk The Guardian, hari ini.

Sebanyak 159 sampel tersebut berasal dari delapan wilayah di lima benua. Di antaranya, yaitu Jabodetabek, Indonesia (21 sampel); New Delhi, India (17 sampel); Kampala, Uganda (26 sampel). Juga di Beirut, Lebanon (16 sampel); Amerika Serikat (36 sampel); Kuba (1 sampel); dan, Quito, Ekuador (24 sampel), dan Eropa (18 sampel). Dari 159 sampel air keran yang diambil dari lima negara tersebut, 83 persen di antaranya mengandung partikel serat plastik mikroskopis (mikroplastik).



Persentase tingkat kontaminasi mikroplastik di seluruh dunia. (Orb Media)

Baca: Hasil Riset: Cokelat Bisa Bantu Obati Diabetes

Mayoritas mikroplastik yang ditemukan (99,7 persen) berukuran 0,1-5 milimeter. Itu berarti ukurannya bisa lebih kecil ketimbang kutu rambut (Pulex irritans) atau plankton Sagitta setosa, yang tidak bakal kelihatan dengan mata telanjang.

"Jumlah rata-rata per liternya mencapai 57 partikel atau sekitar 4,34 partikel per sampel air," tulis tim yang dipimpin Mary Kosuth, peneliti kesehatan lingkungan dari University of Minnesota, dalam studi berjudul "Synthetic Polymer Contamination in Global Drinking Water: Preliminary Report" itu.

Selama ini, negara di seluruh penjuru dunia menghasilkan 300 juta ton plastik setiap tahunnya. Itu setara dengan berat 46 Piramida Gizza. Lebih dari 40 persen plastik tersebut hanya digunakan sekali, kadang kurang dari satu menit, lalu dibuang.

Pemakaian yang singkat itu tidak sebanding dengan keberadaannya di lingkungan yang bisa bertahan selama berabad-abad. Sebuah studi memperkirakan lebih dari 8,3 miliar ton plastik telah dihasilkan sejak dekade 1950. Lambatnya proses pengolahan air limbah memungkinkan lebih banyak serat plastik terproduksi.

Plastik tersebut tidak bisa hancur. Tapi menjadi potongan-potongan mikroskopis yang dimakan ikan dan satwa laut lainnya dan dapat ditemukan di pasar-pasar ikan di Asia Tenggara, Afrika Timur, dan California. Ini mengilhami Orb Media untuk melihat keberadaan mikroplastik dalam saluran air ledeng dan air tanah

Baca: Hasil Riset: Kabin Pesawat Jadi Tempat Penyebaran Penyakit

Orb Media dan tim melakukan beberapa metode analisis untuk mengungkap keberadaan mikroplastik dalam saluran air keran dan sumur. Pertama, mereka mengumpulkan sampel dari berbagai lokasi, termasuk di Indonesia.

Tahap kedua, air disaring melalui saringan selulosa Whatman selebar 55 milimeter. Filter ini mampu menangkap keberadaan mikroorganisme sampai ukuran 2,5 mikronmeter. Botol yang telah kosong dibilas tiga kali dengan air yang sudah dideionisasi untuk menangkap partikel yang mungkin tertinggal dalam botol. Filter tersebut juga diberi pewarna pigmen rose bengal untuk membedakan bahan organik dan sintetis.

Tahap terakhir, filter ini diperiksa di bawah mikroskop Leica EZ4W yang bisa menangkap benda mikroskopis sampai 0,1 milimeter. Voila! Mikroplastik tampak di sana.


Mary Kosuth sedang menganalisis sampel air yang terkontaminasi mikroplastik di laboratorium University of Minnesota. (Orb Media)

Selanjutnya: Mikroplastik di Indonesia






Mahasiswa Telkom University Rancang Toilet Cerdas untuk Pantau Kesehatan

1 hari lalu

Mahasiswa Telkom University Rancang Toilet Cerdas untuk Pantau Kesehatan

Tim mahasiswa Telkom University menawarkan kebaruan dari pengembangan aplikasi dan penggunaan toilet.


ZTE Gandeng UGM untuk Dukung Pengembangan SDM

8 hari lalu

ZTE Gandeng UGM untuk Dukung Pengembangan SDM

ZTE akan memberikan dukungan dalam pengembangan sumber daya manusia melalui pemberian beasiswa program magister untuk mahasiswa UGM.


Perlunya Riset Kolaboratif Tembakau Alternatif, Ini Tujuannya

10 hari lalu

Perlunya Riset Kolaboratif Tembakau Alternatif, Ini Tujuannya

Pemerintah, akademisi, lembaga riset, pelaku usaha bisa berkolaborasi melakukan riset dengan topik yang relevan terhadap produk tembakau alternatif.


Pakar Sebut Serangan Phising Mulai Sasar Data Riset Universitas

18 hari lalu

Pakar Sebut Serangan Phising Mulai Sasar Data Riset Universitas

Nama institusi pendidikan atau universitas terkenal kerap digunakan sebagai daya tarik untuk mendistribusikan halaman phishing.


Bintang Baru di Jagat Literasi Muncul dari NAD Academy 2022

31 hari lalu

Bintang Baru di Jagat Literasi Muncul dari NAD Academy 2022

Komunitas literasi Nulis Aja Dulu meluncurkan #NADAcademy2022 sebagai inkubasi para penulis mudauntuk menghasilkan karya-karya terbaik mereka.


ITB dan Pertamina cs Kembangkan Teknologi Diesel Biohidrokarbon dan Bioavtur

43 hari lalu

ITB dan Pertamina cs Kembangkan Teknologi Diesel Biohidrokarbon dan Bioavtur

ITB, Pertamina, dan PT Rekind mendesain pabrik percontohan teknologi biohidrokarbon dan bioavtur.


Top 3 Tekno Berita Hari Ini: Kebutuhan Riset Sorgum, Xiaomi Mix Fold 2

47 hari lalu

Top 3 Tekno Berita Hari Ini: Kebutuhan Riset Sorgum, Xiaomi Mix Fold 2

Topik tentang pengembangan riset sorgum sebagai tanaman pangan alternatif menjadi berita terpopuler Top 3 Tekno Berita Hari Ini.


Inovasi Teknologi BRIN dalam Menghadapi Covid-19

27 Juli 2022

Inovasi Teknologi BRIN dalam Menghadapi Covid-19

Teknologi hasil karya peneliti BRIN tersebut diharapkan mampu memproteksi fasilitas publik.


Tim Unpad dan Australia Gunakan Metode Baru Riset Vaksin Booster Covid-19

27 Juli 2022

Tim Unpad dan Australia Gunakan Metode Baru Riset Vaksin Booster Covid-19

Hasil pemeriksaan di laboratorium Unpad, Bandung, akan distandarkan dengan hasil laboratorium pemeriksaan di Australia.


Tes Darah Lebih Baik dalam Menemukan Kanker Payudara Dini daripada Mammogram

26 Juli 2022

Tes Darah Lebih Baik dalam Menemukan Kanker Payudara Dini daripada Mammogram

Tes Trucheck dengan tepat mengidentifikasi 92 persen kanker payudara atau sekitar lima poin persentase lebih tinggi daripada mamografi.