Selasa, 24 April 2018

Kisah Doktor Termuda Indonesia: Cerita di Balik Nama Grandprix

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Grandprix Thomryes Marth Kadja. Kredit: ResearchGate

    Grandprix Thomryes Marth Kadja. Kredit: ResearchGate

    TEMPO.CO, BandungDoktor termuda Indonesia dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Grandprix Thomryes Marth Kadja, punya cerita menarik tentang alasan orangtuanya memberikan nama yang terdengar aneh itu. Menurut lajang kelahiran Kupang, 31 Maret 1993 itu, nama tersebut berasal dari kesukaan ayahnya melihat balap motorcross di Kupang.

    "Dikasihlah nama itu dengan harapan saya bisa jadi motor penggerak keluarga dan masyarakat," kata Granprix, anak sulung dari tiga bersaudara itu, Jumat, 22 September 2017.

    Granprix juga bercerita tentang hobi membaca komik. Buku komik yang disenanginya adalah Crayon Sinchan karangan Yoshio Usui. "Sinchan tampaknya nakal, tapi cerdas," kata dia. Dia membaca komik itu sejak duduk di sekolah dasar. Grandprix bersekolah sejak usia lima tahun. Saat sekolah menengah atas ia masuk kelas percepatan (akselarasi). Ketika mulai kuliah di program studi Kimia Universitas Indonesia pada 2009, usianya 16 tahun.

    Lulus pada 2013, ia melanjutkan jenjang master pada program studi Kimia dengan beasiswa Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi. Beasiswa itu juga mempercepat masa studi hingga doktoral menjadi empat tahun dari normal enam tahun.

    Selama kuliah, Grandprix membagi waktu agar tak suntuk belajar. Ketika di kampus fokusnya pada riset dan banyak membaca artikel ilmiah. Sembilan jurnal ilmiah dari risetnya tentang kebaruan zeolit khusus untuk industri petrokimia juga dipublikasi selama studi pasca sarjana itu. "Saat kerja serius, waktunya libur main atau membaca buku komik Sinchan," kata Grandprix.

    Baginya, karakter Sinchan yang periang dan suka menolong itu menarik. Komik yang dikoleksinya itu juga dinilai sebagai penyeimbang rutinitas kesehariannya. Selain komik, pelepas suntuk studinya seperti wisata, main pingpong, bulutangkis, juga Play Station sepakbola.

    Grandprix menghasilkan riset zeolit sintesis yang unggul. Material yang khusus dinamakan ZSM-5 itu ditelitinya sejak duduk di bangku pendidikan master di ITB pada 2013-2015. Dia dinyatakan lulus menjadi doktor muda dalam sidang tertutup 6 September 2017. Sedangkan sidang terbukanya dihelat hari ini, Jumat, 22 September 2017, di komplek Rektorat ITB, Jalan Taman Sari Bandung. "Setelah ini saya mau melamar jadi dosen di ITB," katanya.

    Setidaknya, ada tiga keunggulan zeolit sintesis itu dari peneliti lajang kelahiran Kupang, 31 Maret 1993 itu.

    Zeolit merupakan batuan alami yang mengandung sejumlah mineral. Bahan itu umum dipakai untuk campuran semen, semen gigi, pasir untuk kotoran kucing peliharaan, maupun penyerap polutan lain. Namun zeolit yang digunakan Grandprix, jenis sintesis material alaminya harus diolah dulu untuk mendapatkan bahan kimia khusus untuk industri petrokimia.

    Zeolit sintesis buatannya berfungsi untuk konversi minyak bumi menjadi bahan bakar. Kini juga dipakai untuk mengolah limbah plastik menjadi bahan bakar, maupun biogasoline dari kelapa sawit. Pengolahan zeolit sintesis itu, kata doktor termuda Indonesia itu, umumnya memakan waktu empat hari dengan pemanasan di dalam reaktor baja bersuhu 150 derajat Celcius.

    ANWAR SISWADI


     

     

    Selengkapnya
    Grafis

    Penyelenggara Big Bad Wolf, Uli SIlalahi soal Hari Kartini 2018

    Penyelenggara Big Bad Wolf Uli SIlalahi, Putri Batik 2011 Mia Ismi Halida, dan Peneliti Mineral Processing LIPI Mutia Dewi bicara soal Kartini modern.