Rabu, 20 September 2017

Tim ITB Jadi Kampiun Kontes Desain Chip di Jepang

Sabtu, 14 Maret 2015 | 12:39 WIB
Ilustasi Microchips. REUTERS

Ilustasi Microchips. REUTERS.

TEMPO.CO, Bandung- Tim Ethersound Ganeca dari Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB menjadi kampiun di ajang Large Scale Integration (LSI) ke-18 pada kategori Smart Info Media di University of the Ryukyus, Okinawa, Jepang. Di babak final, tim ITB tersebut mengalahkan 11 finalis, dengan karya desain chip berjudul Ultrasonic Sensor Based Contactless Theremin Using Pipeline CORDIC as Tone Generator in FPGA.

Tim mahasiswa STEI ITB itu beranggotakan Bagus Hanindhito, Hafez Hogantara, dan Annisa Istiqomah Arrahmah. Menurut dosen pembimbing tim, Nur Ahmadi, karya inovasi mereka memukau dewan juri. "Di final, mahasiswa S-1 ITB itu mengalahkan tim mahasiswa S-2 dari Chiba University yang berada di peringkat kedua," kata dia lewat surat elektronik kepada Tempo, Sabtu, 14 Maret 2015.

Theremin merupakan instrument musik elektronik yang dapat dimainkan tanpa harus menyentuhnya. Instrumen ini, kata Nur, pada dasarnya memanfaatkan dua antena dalam mendeteksi posisi relatif tangan untuk mengendalikan frekuensi dan amplitude. Tim Ethersound Ganeca mengajukan ide mengganti antena dengan sensor ultrasonik untuk mendeteksi posisi tangan. "Desain tersebut diimplementasikan pada board FPGA dan dapat bekerja dengan baik," katanya.

Tim Sangkuriang, finalis lain dari STEI ITB, juga berhasil meraih penghargaan Fighting Spirit Award atas karyanya yang berjudul Design and Implementation of CORDIC Algorithm in All-Digital FM Modulator-Demodulator. Tim yang terdiri dari Antonius Perdana Renardy, Ashbir Aviat Fadila, Naufal Shidqi berhasil membuat sistem FM (Frequency Modulation) digital berbasis CORDIC.

FM adalah proses pengubahan frekuensi suatu gelombang pembawa sehingga mampu membawa suatu informasi. FM ini banyak digunakan pada penyiaran musik atau suara, sistem radio dua arah, radar, dan lain-lain. Pada presentasinya, Tim Sangkuriang mendemokan karyanya dengan mengirimkan suatu musik dan menerima kembali musik yang sama melalui board FPGA.


LSI Design Contest merupakan kontes desain chip tahunan yang diselenggarakan University of the Ryukyus, Jepang. Pesertanya berasal dari tim mahasiswa universitas di Asia. Tantangan pada lomba tahun ini, kata Nur, bagaimana mendesain hardware untuk perhitungan fungsi trigonometrik dan membuat aplikasinya.

Dari 80 lebih desain yang masuk, terpilih 12 tim yang melaju ke babak final. Indonesia mengirimkan dua tim dari ITB, begitu juga dengan Vietnam, sisanya berasal dari Jepang. Dewan jurinya para professor dari University of the Ryukyus, Tokyo University, Osaka University dan perwakilan perusahaan seperti Synopsys, Gigafirm, dan Electronic Device Industry News. Juara 1 dipilih berdasarkan kriteria Academic Excellence, Industrial Applicable, dan New Innovation, serta berhak mendapat penghargaan dari jurnal ternama Jepang IEICE.

ANWAR SISWADI


Selengkapnya
Grafis

Libur Nasional 2018 dan Waktu Cuti yang Cocok Kita Ambil

Libur Nasional 2018 dan Waktu Cuti yang Cocok Kita Ambil

Tempat-tempat yang patut dikunjungi saat libur nasional tahun 2018, tamasya semakin asyik bila kita memperpanjang waktu istirahat dengan mengambil cuti.