Pembuat Game Lokal Buka-bukaan Soal Pengalaman Bikin Startup

Jum'at, 17 Februari 2017 | 08:23 WIB
Pembuat Game Lokal Buka-bukaan Soal Pengalaman Bikin Startup
Tony Susanto. TEMPO/Artika Farmita

TEMPO.COJakarta - Tony Susanto mendirikan Natek Studio, perusahaan yang bergerak dalam bidang industri kreatif, dengan harapan dapat membantu para pengusaha rintisan agar tidak jatuh ke jurang bisnis. Ia telah banyak mendapat pengalaman pahit di dunia bisnis sejak 20 tahun lalu.

Sejak itu, Tony jatuh-bangun mempertahankan usahanya agar ekonomi keluarganya tetap tercukupi. Kini, ia mulai berkecimpung dalam dunia game development. “Dengan cara ini, saya percaya bisa berbagi pengalaman dengan cara lebih mudah dan murah,” ujar pria kelahiran Sidoarjo, 27 April 1978, itu awal pekan ini. 

Perusahaannya, antara lain, mengeluarkan The Profit, game bisnis berbayar yang bisa didapatkan di ponsel Android. Soal suka-duka membuka perusahaan startup di Indonesia, berikut ini wawancara Tempo dengannya.


Apa hal yang paling sulit dalam membuka start-up atau perusahaan rintisan?


Harus bisa bertahan untuk bisa membiayai kegiatan operasional. Harus putar otak untuk mendatangkan banyak pelanggan. Saya pernah mengalami ini waktu membuka bengkel pertama kali. Setelah cukup berhasil pada 2003, saya baru merambah industri kuliner. Berhasil berkembang, saya ekspansi lagi di industri lain. 


Kuncinya agar bisa bertahan?


Memaksa diri sendiri agar bisa mahir dalam banyak hal, dari ikut pelatihan hingga hadir dalam sesi sharing bisnis.


Apa saja kesalahan mendasar yang dilakukan pengusaha rintisan?


Rata-rata mereka membuka usaha hanya berdasarkan apa yang bisa mereka kerjakan atau hanya faktor ikut-ikutan. Mereka tak berusaha menganalisis apa yang dibutuhkan orang lain. Dalam bisnis, di mana ada permasalahan, di situlah ada peluang.

Masalah lainnya adalah tak mampu meramu model bisnis yang tepat. Bisnis harus ada cetak biru, seperti halnya sebuah bangunan. 


Setelah 15 tahun bermain di dunia bisnis makanan, otomotif, dan properti, kenapa sekarang Anda memilih bisnis pengembangan game? 


Ya, itu tadi. Saya melihat ada peluang di sini. Saya baru menggeluti dunia game development pada akhir 2015. 


Jadi, dengan permainan ini, Anda berusaha mengajarkan pola-pola bisnis?


Tak hanya dari game, tapi juga semua pengamalan yang saya bagi dalam business coach.

Inti dari semua bisnis adalah bagaimana kita bisa mensinergikan antara pemasaran, operasional, dan keuangan. Modal bisnis juga tidak kecil. Saya hanya mencoba membantu teman-teman pengusaha rintisan dengan cara yang lebih mudah dan murah. 


Apa harapan Anda ke depan terhadap pengembangan permainan The Profit? 


Ada banyak pengusaha kecil-menengah yang sukses, mampu bertahan lama dalam mengerjakan bisnisnya, dan bersaing dengan pihak asing.




Game The Profit.

Ke depan, kami dari manajemen The Profit juga akan membantu usaha kecil-menengah yang membutuhkan dana untuk membangun bisnisnya. Dana tersebut akan kami pinjamkan tanpa bunga dan bisa dikembalikan jika bisnisnya sudah berjalan lancar.

ARTIKS RACHMI FARMITA

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan