Zaha Hadid di Mata Ridwan Kamil: Dia Arsitek Jenius  

Rabu, 31 Mei 2017 | 13:08 WIB
Zaha Hadid di Mata Ridwan Kamil: Dia Arsitek Jenius  
Zaha Hadid. iggy.net

TEMPO.CO, Bandung – Google Doodle tampil dengan tema khusus untuk merayakan Zaha Hadid. Perempuan asal Inggris kelahiran Irak, 31 Oktober 1950, ini merupakan arsitektur perintis gerakan neo-futuristik. Dia dikenal sebagai Ratu Kurva karena karya-karyanya yang, alih-alih memakai sudut-sudut tajam, malah memakai kurva dan gelombang.

Saat wafat pada 31 Maret 2016, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil sempat menyatakan merasa kehilangan dan berduka. “Dia jenius. Dunia arsitektur kehilangan tokoh besar. Dia kini yang terbaik di dunia,” kata Emil—sapaan karib Ridwan Kamil—yang juga sempat berprofesi sebagai arsitek, kala itu.

Baca: Zaha Hadid Meninggal, Ridwan Kamil Berduka

Sebagai sesama arsitek, Emil mengaku sangat mengidolakan wanita pemenang Pritzker Architecture Prize pada 2004 tersebut. Menurut dia, karya wanita keturunan Irak ini memiliki ciri khas. Dia juga punya teori yang mematahkan teori konvensional, yakni tidak menyukai sudut.

”Jadi, ke mana pun dia pergi, tidak ada patah. Makanya bentuk bangunannya sangat futuristik dan flowing. Ide itu datang dari imajinasi yang luar biasa,” ucap Emil.

Selain hasil karya, Emil mengagumi kisah perjalanan hidup arsitek perempuan berusia 65 tahun tersebut. Menurut dia, kisah hidupnya sebagai seorang imigran yang sukses patut ditiru.

Baca: Zaha Hadid Jadi Google Doodle: Arsitek Perempuan Si Ratu Kurva

Emil mengatakan Hadid seorang wanita istimewa di dunia arsitektur. Dia lahir di Irak, kemudian bermigrasi dan mengembangkan diri di Inggris. Di sana, dia meraih juara dunia di bidang arsitektur. “Mudah-mudahan dicontoh oleh orang-orang Indonesia. Untuk menjadi hebat, yang penting punya determinasi, semangat, dan kerja keras,” ucapnya.

Dari ratusan karya monumental Zaha Hadid, ada beberapa bangunan yang dikagumi oleh Emil, di antaranya Dongdaemun Plaza, Seoul, Korea, dan Guangzhou Opera House di Cina.

Zaha Hadid mengembuskan napas terakhir pada usia ke-65 tahun setelah terkena serangan jantung, Kamis pagi waktu setempat, 31 Maret 2016. Selama hidupnya, ia dikenal sebagai arsitek wanita pertama yang meraih penghargaan Pritzker dan dua kali menyabet penghargaan arsitektur paling bergengsi di Inggris, yaitu The Royal Institute of British Architects (RIBA) pada 2010 dan 2011.

Baca: 5 Karya Monumental Zaha Hadid, Ratu Kurva Arsitektur Dunia

Semasa hidupnya, Zaha terlibat merancang arena pusat olahraga air untuk digunakan Olimpiade 2012 di London. Selain itu, arsitek keturunan Irak-Inggris ini meninggalkan karya lainnya yang terkenal di dunia, seperti Museum Nasional Seni Abad 21 di Roma, Heydar Aliyev Center di Baku, pusat seni kontemporer Rosenthal di Cincinnati, dan gedung Opera House di Guangzhou.

Zaha dilahirkan di Baghdad pada 1950. Semasa muda, Zaha Hadid menempuh pendidikan ilmu matematika di Universitas Beirut sebelum memutuskan pindah ke London pada 1972.

PUTRA PRIMA PERDANA | AHMAD FAIZ | AMRI MAHBUB




Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan