Elon Musk Komentari Kesepakatan COP28: Jangan Kutuk Minyak dan Gas

Minggu, 17 Desember 2023 22:39 WIB

CEO SpaceX dan Tesla, dan Pemilik Twitter, Elon Musk. REUTERS/Gonzalo Fuentes

TEMPO.CO, Jakarta - Elon Musk mengatakan minyak dan gas tidak boleh dikutuk atau dihujat. Pernyataan tersebut disampaikan Musk saat berkunjung Italia dan berbincang dengan Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni.

"Kekhawatiran perubahan iklim dilebih-lebihkan dalam jangka pendek," kata Musk dikutip dari laporan Reuters.

CEO Tesla itu bahkan menyebut kalau gerakan lingkungan sudah keterlaluan dan menyebabkan masyarakat kehilangan kepercayaan pada masa depan.

Musk hadir di Italia pada Sabtu, 16 Desember 2023 dalam pertemuan yang diselenggarakan oleh Partai Saudara Italia. Selain membahas tentang minyak dan gas, Musk menyelipkan pandangannya akan pertemuan iklim COP28 di Dubai pekan lalu.

Musk mengomentari terkait ratusan negara menyepakati untuk mengurangi konsumsi bahan bakar fosil global. Menurut dia, langkah yang diambil tidaklah tepat. Sebab, sama saja dengan 'menjelek-jelekkan' minyak dan gas tanpa solusi yang jelas.

Advertising
Advertising

"Kita tidak boleh menjelek-jelekkan minyak dan gas dalam jangka menengah," kata Musk.

Walakin, ia tidak pula menyebut dirinya benci akan kesepakatan itu, sebab Musk menyebut ia adalah aktivis lingkungan. Namun keputusan dengan tergesa-gesa untuk menghentikan konsumsi minyak dan gas dinilai Musk terlalu berlebihan.

Tidak hanya Musk, penolakan datang dari OPEC. Organisasi negara penghasil minyak ini menolak segala negosiasi tentang penghentian penggunaan bahan bakar fosil di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perubahan Iklim PBB COP28 di Dubai. OPEC bahkan mengajak anggota dan sekutu mereka untuk menolak segala upaya dalam negosiasi.

OPEC mengendalikan hampir 80 persen cadangan minyak di dunia. Menurut laporan Reuters, para anggota OPEC sangat bergantung pada pendapatan minyak dan gas sebagai sumber utama penghidupan mereka.

Jika COP28 diputuskan sebuah kesepakatan untuk menghentikan penggunaan bahan bakar fosil, tentu saja kelompok ini bakal terdampak. Selain itu, OPEC terdiri dari negara-negara besar, misalnya sekutu mereka OPEC+ terdiri dari Rusia dan Kazakhstan.

"Bagi anggota OPEC lainnya, pangsa minyak dan gas bervariasi antara 16 persen dan 50 persen. Pendapatan ekspor minyak bersih OPEC mencapai 888 miliar dolar di tahun 2022, naik 43 persen dibandingkan tahun 2021," kata organisasi ini, Selasa, 12 Desember 2023.

Pendapatan yang cukup signifikan dari ekspor minyak tersebut menyebabkan banyak anggota dari OPEC yang enggan untuk ditetapkan penghapusan bahan bakar fosil secara bertahap. Mereka menilai bakal mengancam model perekonomian negara-negara penghasil minyak dan gas di kemudian hari.

Sekretaris Jenderal OPEC Haitham Al Ghais mengatakan, anggota OPEC dan sekutunya di COP28 harus menargetkan pengurangan emisi daripada penghapusan bahan bakar fosil itu sendiri. Ia menilai negara berkembang harus diizinkan untuk mengeksploitasi cadangan bahan bakar fosil mereka.

Haitam mengatakan permintaan minyak akan tumbuh menjadi 116 juta barel per hari pada 2045 dari 102 juta barel saat ini. "Diperlukan investasi yang sangat besar untuk memenuhi permintaan minyak dan gas saat ini dan di masa depan. Dengan mengirimkan sinyal kebijakan yang menghambat investasi bahan bakar fosil, maka bisa menyebabkan kelangkaan dan kenaikan harga energi," ujarnya.

Lebih lanjut, Haitam menilai kalau penghapusan penggunaan bahan bakar fosil akan berdampak pada hilangnya nilai cadangan minyak di beberapa negara. Penurunan permintaan dipastikan bakal terjadi dan menyebabkan banyak aset terbengkalai.

Meski begitu, dalam COP28, 200 negara telah bersepakat untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil. Kesepakatan yang dicapai di Dubai setelah dua minggu perundingan yang penuh perjuangan ini dimaksudkan untuk mengirimkan pesan yang kuat kepada para investor dan pembuat kebijakan. Pesan itu adalah bahwa dunia bersatu untuk berhenti menggunakan bahan bakar fosil, sesuatu yang menurut para ilmuwan merupakan harapan terbaik untuk mencegah bencana iklim.

Presiden COP28 Sultan al-Jaber menyebut kesepakatan itu “bersejarah.” Ia menegaskan keberhasilan dari kesepakatan itu adalah implementasinya.

"Kita adalah apa yang kita lakukan, bukan apa yang kita katakan,” ujarnya pada sidang pleno yang dihadiri banyak orang di pertemuan puncak tersebut. “Kita harus mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mengubah perjanjian ini menjadi tindakan nyata," kata Al-Jaber.

REUTERS

Pilihan Editor: Pertama Kalinya Negara-negara Sepakat Pangkas Bahan Bakar Fosil di COP28

Berita terkait

PT Sunindo Pratama Raup Laba Bersih Rp 33,4 Miliar di Kuartal Pertama 2024

1 hari lalu

PT Sunindo Pratama Raup Laba Bersih Rp 33,4 Miliar di Kuartal Pertama 2024

Laba bersih meningkat 68,6 persen secara tahunan (yoy).

Baca Selengkapnya

Starlink Masuk Indonesia, Akan Ancam Penyedia Internet Lokal?

2 hari lalu

Starlink Masuk Indonesia, Akan Ancam Penyedia Internet Lokal?

Starlink bakal meramaikan persaingan dalam bisnis jasa Internet di Indonesia, namun Menkominfo menjamin tak merusak pasar pemain lokal.

Baca Selengkapnya

Luhut Punya Kabar Baru Soal Rencana Investasi Tesla di Indonesia

2 hari lalu

Luhut Punya Kabar Baru Soal Rencana Investasi Tesla di Indonesia

Selain Indonesia, ada negara-negara lain yang membujuk Tesla untuk berinvestasi.

Baca Selengkapnya

Cerita Pemuda Asal Bandung Gunakan Starlink: Unlimited dan Lebih Stabil

3 hari lalu

Cerita Pemuda Asal Bandung Gunakan Starlink: Unlimited dan Lebih Stabil

Melalui situs resminya, Starlink mematok harga layanan internet sebesar Rp 750 ribu per bulan.

Baca Selengkapnya

Terpopuler: Perjalanan Bisnis Sepatu Bata hingga Tutup Pabrik, Kawasan IKN Kebanjiran

3 hari lalu

Terpopuler: Perjalanan Bisnis Sepatu Bata hingga Tutup Pabrik, Kawasan IKN Kebanjiran

Terpopuler: Perjalanan bisnis sepatu Bata yang sempat berjaya hingga akhirnya tutup, kawasan IKN kebanjiran.

Baca Selengkapnya

Layanan Internet Starlink Sudah Bisa Dipesan, Biaya Langganan Rp750 Ribu per Bulan

4 hari lalu

Layanan Internet Starlink Sudah Bisa Dipesan, Biaya Langganan Rp750 Ribu per Bulan

Perusahaan penyedia jasa telekomunikasi dan layanan internet milik Elon Musk, Starlink mulai menawarkan layanannya untuk masyarakat di Indonesia.

Baca Selengkapnya

Pertamina Hulu Energi: Produksi Migas 1,04 Juta Barel per Hari Triwulan I-2024

4 hari lalu

Pertamina Hulu Energi: Produksi Migas 1,04 Juta Barel per Hari Triwulan I-2024

Hingga Maret 2024, Pertamina Hulu Energi juga mencatatkan kinerja penyelesaian pengeboran tiga sumur eksplorasi.

Baca Selengkapnya

Izin Operasi Starlink Rampung, Kominfo: Kecil Peluang Masuk Jakarta

5 hari lalu

Izin Operasi Starlink Rampung, Kominfo: Kecil Peluang Masuk Jakarta

Kominfo akhirnya mengizinkan masuknya layanan Starlink ke Indonesia. Bukan untuk kota besar, Starlink didorong masuk ke wilayah terisolir.

Baca Selengkapnya

Luhut Sebut Starlink Milik Elon Musk Diluncurkan di RI Dua Pekan Lagi, Akan Diumumkan di Bali

6 hari lalu

Luhut Sebut Starlink Milik Elon Musk Diluncurkan di RI Dua Pekan Lagi, Akan Diumumkan di Bali

Menteri Luhut menyebutkan layanan internet berbasis satelit Starlink bakal diluncurkan dalam dua pekan ke depan atau pertengahan Mei 2024.

Baca Selengkapnya

Gedung Putih Minta Rusia Dijatuhi Sanksi Lagi karena Kirim Minyak ke Korea Utara

6 hari lalu

Gedung Putih Minta Rusia Dijatuhi Sanksi Lagi karena Kirim Minyak ke Korea Utara

Gedung Putih menyarankan agar Rusia dijatuhi lagi sanksi karena diduga telah secara diam-diam mengirim minyak olahan ke Korea Utara

Baca Selengkapnya