Luncurkan Seri C2, Realme Optimistis Hadapi Samsung dan Redmi

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Realme C2 (Realme)

    Realme C2 (Realme)

    TEMPO.CO, Jakarta - Merk ponsel asal Cina, Realme, yakin sanggup bersaing dengan merek yang lebih dulu hadir di Indonesia untuk segmen ponsel entry level, antara lain Samsung dan Redmi dari Xiaomi.

    Adu Spek Realme C2, Samsung Galaxy A10 dan Redmi 7

    "Ponsel Realme C1 mendapatkan umpan balik yang bagus dari pasar dan masyarakat. Kami ingin memperbaiki seri di entry level ini," kata Direktur Pemasaran Realme Asia Tenggara, Josef Wang, saat peluncuran Realme C2 dan Realme 3 Pro di Depok, Jawa Barat, Rabu  malam, 8 Mei 2019.

    Realme baru saja meluncurkan Realme C2, penerus Realme C1, yang akan bersaing dengan Samsung Galaxy A10 dan Redmi 7 di segmen harga ponsel di bawah Rp2.000.000. Wang percaya diri bahwa produk mereka, Realme C2, dapat menjadi ponsel  pilihan di kalangan anak muda karena spesifikasi C2 lebih unggul dari C1.

    Manajer Produk Realme Indonesia, Felix Christian pada kesempatan yang sama juga yakin mereka dapat menjadi entry level king, rajanya ponsel murah, di segmen tersebut dengan Realme C2.

    Menurut Felix, kali ini mereka bukan hanya mengunggulkan spesifikasi ponsel, namun, juga memberikan layar yang lebih baik serta rancangan ponsel yang menarik minat konsumen.

    Realme hadir di Indonesia kurang dari setahun yang lalu, saat ini mereka memiliki lebih dari 600.000 pengguna di Indonesia, sementara secara global angkanya berjumlah lebih dari 7.000.000 pengguna.

    Produk mereka saat ini dijual di lebih dari 12.000 toko ritel yang tersebar di seluruh Indonesia, namun, saat ini Realme baru memiliki satu toko yang hanya menjual produk-produk mereka di Medan.

    Realme berencana membuka toko eksklusif di Jakarta dalam waktu dekat dan akan memperluasnya ke kota-kota lain


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rencana dan Anggaran Pemindahan Ibu Kota, Ada Tiga Warga Asing

    Proyek pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur dieksekusi secara bertahap mulai 2020. Ada tiga warga asing, termasuk Tony Blair, yang terlibat.