Amerika Pernah Gagal Bikin Kucing Mata-mata, Ini Kisahnya

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi kucing. Sxc.hu

    Ilustrasi kucing. Sxc.hu

    TEMPO.CO, Jakarta - Jika Iran kini diduga mewarisi proyek militer Soviet yang merancang tentara lumba-lumba pembunuh yang bisa melakukan serangan bom bunuh diri alias kamikaze, Amerika Serikat juga pernah mempunyai program yang mirip. Bedanya, Amerika 'merekrut' kucing untuk dijadikan mata-mata.

    Pada 1960-an, Central Intelligence Agency (CIA) merekrut agen lapangan yang tidak biasa yaitu seekor kucing. Dalam prosedur selama satu jam, seorang ahli bedah hewan mengubah kucing berbulu menjadi mata-mata elit: mesin pengintai yang hidup.

    Kucing itu ditanamkan mikrofon di saluran telinganya dan pemancar radio kecil di dasar tengkoraknya. Rangkaian antena kawat tipis juga ditenun d i balik bulu-bulu halus hewan domestik itu. Operation Acoustic Kitty, begitu rencana rahasia itu pernah dikenal. 

    Para pemimpin proyek berharap bahwa dengan melatih kucing untuk duduk dekat pejabat asing, mereka dapat menguping pembicaraan pribadi. Tapi, masalahnya, tim penelitinya mendapati kucing itu tidak bisa dilatih secara khusus dan tidak bisa lebih dekat dengan manusia seperti halnya anjing. 

    Untuk tes resmi pertamanya, staf CIA menggunakan Acoustic Kitty ke taman dan menugasinya menangkap percakapan dua pria yang duduk di bangku. Tes itu gagal, pasalnya kucing itu justru berjalan ke jalan yang membuatnya mati secara tragis, yakni tertabrak taksi.

    Setelah itu program ditinggalkan, dan CIA meninggalkan memo: Pemeriksaan akhir kami terhadap kucing terlatih, meyakinkan kami bahwa program ini tidak akan cocok dengan kebutuhan praktis yang sangat khusus.

    Operasi Acoustic Kitty, meskipun tidak sengaja, adalah ide visioner. Hari ini, pemerintah AS mencari hibrida mesin-hewan untuk melindungi negara dan warganya.

    Pada 2006, misalnya, Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA) memusatkan perhatian pada serangga-cyborg. "Bukti keberadaan mesin terbang skala kecil pada dasarnya berlimpah dalam bentuk serangga," ujar Amit Lal, seorang manajer program DARPA dan insinyur di Cornell University, Amerika Serikat, menulis dalam sebuah pamflet yang dikeluarkan lembaga tersebut kepada para calon peneliti.

    SALON | BBC 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona Wuhan Menjangkiti Kapal Pesiar Diamond Princess

    Jumlah orang yang terinfeksi virus korona Wuhan sampai Minggu, 16 Februari 2020 mencapai 71.226 orang. Termasuk di kapal pesiar Diamond Princess.