Riset Smart City di Indonesia, ITB Tambahkan Transformasi Digital

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengunjung mengamati informasi smart city saat berkunjung di Bandung Planning Gallery di Bandung, Rabu, 19 Juni 2019. ANTARA/M Agung Rajasa

    Pengunjung mengamati informasi smart city saat berkunjung di Bandung Planning Gallery di Bandung, Rabu, 19 Juni 2019. ANTARA/M Agung Rajasa

    TEMPO.CO, Bandung - Tim dari Pusat Inovasi Kota dan Komunitas Cerdas Institut Teknologi Bandung (ITB) akan menggelar kembali riset dan pemeringkatan Kota Cerdas (Smart City) di Indonesia. Waktunya selama empat bulan sejak Agustus hingga November 2021.

    ITB menggelar riset dan pemeringkatan Kota Cerdas itu rutin dua tahun sekali sejak 2015. Tapi, hasilnya, selama tiga kali riset dalam enam tahun ke belakang belum ditemukan ada kota di Indonesia yang benar-benar memenuhi kriteria cerdas. 

    "Umumnya masih menuju cerdas,” kata Kepala Pusat Inovasi Kota dan Komunitas Cerdas ITB, Suhono Harso Supangkat, di webinar, Senin 2 Agustus 2021.

    Suhono menambahkan, Riset Kota Cerdas Indonesia (RKCI) kali ini akan ditambah pemeringkatan berdasarkan transformasi digital. Alasannya, masih banyak kota yang beranggapan bahwa Kota Cerdas perlu banyak aplikasi sebanyak-banyaknya dan keberadaan pusat komando (command centre).

    “Itu memang perlu tapi tidak cukup, maka transformasi digital menjadi penting,” ujar Guru Besar dari Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB itu.

    Wakil Presiden Ma’ruf Amin dalam sambutannya mengatakan Smart City merupakan program jangka panjang untuk meningkatkan kualitas hidup warga kota yang berkelanjutan. Saat ini Smart City sudah menjadi konsep untuk menyelesaikan berbagai tantangan yang dihadapi kota.

    “Sudah menjadi kewajiban perguruan tinggi untuk menyediakan riset-riset inovatif untuk solusi masalah perkotaan,” katanya.

    Pemerintah, kata Ma'ruf, mendukung riset dan rating tranformasi digital oleh ITB itu. Diharapkan hasilnya bisa dimanfaatkan untuk menentukan arah dan tujuan pengembangan Kota Cerdas sesuai kebutuhan masyarakat dan sumber daya manusia yang ada.

    “Riset dan rating dilakukan dengan cermat agar menjadi acuan pengambilan kebijakan, evaluasi dan pengembangan tata kelola kota yang ideal di Indonesia,” ujar Ma’ruf meminta kepada tim periset Smart City di Indonesia dari ITB.

    Baca juga:
    Kementerian Sandiaga Uno Gelar Baparekraf Game Prime 2021 Online


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.