Kapan Pertama Kali Autopsi Dilakukan?

Reporter:
Editor:

S. Dian Andryanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas Brigade Mobil Polda DIY berjaga di Instalasi Kedokteran Forensik, RSUD Dr. Sardjito, kabupaten Sleman, Yogyakarta, Sabtu (23/3). Autopsi yang dilakukan oleh tim gabungan dari RSUD Dr. Sardjito dan tim Kedokteran dan Kesehatan Polda DIY ini bertujuan untuk meneliti penyebab utama kematian empat tahanan titipan di Lapas II B Cebongan Sleman dan menjadi salah satu bukti penting pengungkapan kasus penyerbuan oleh segerombolan orang bersenjata pada Sabtu (23/3) dini hari. TEMPO/Suryo Wibowo

    Petugas Brigade Mobil Polda DIY berjaga di Instalasi Kedokteran Forensik, RSUD Dr. Sardjito, kabupaten Sleman, Yogyakarta, Sabtu (23/3). Autopsi yang dilakukan oleh tim gabungan dari RSUD Dr. Sardjito dan tim Kedokteran dan Kesehatan Polda DIY ini bertujuan untuk meneliti penyebab utama kematian empat tahanan titipan di Lapas II B Cebongan Sleman dan menjadi salah satu bukti penting pengungkapan kasus penyerbuan oleh segerombolan orang bersenjata pada Sabtu (23/3) dini hari. TEMPO/Suryo Wibowo

    TEMPO.CO, Jakarta - Muhammad Hatta, Zulfan, dan Srimulyani dalam penelitiannya berjudul “Autopsi Ditinjau dari Perspektif Hukum Positif Indonesia dan Hukum Islam” menyebutkan bahwa autopsi pertama kali dilakukan pada abad ke-3 oleh pakar autopsi dari Yunani bernama Erasistratus dan Herophilus.

    Pada abad ke-13, Raja Frederik II dari Jerman memperkenalkan autopsi untuk kepentingan perkembangan pendidikan ilmu kedokteran. Autopsi untuk keperluan hukum kemudian diperkenalkan oleh Bartholomeo Devarignana pada tahun 1320 di Bologna, Italia.

    Amri Amir dalam bukunya berjudul “Autopsi Medikolegal” mengatakan bahwa pada abad ke-13 dan 14, autopsi dijadikan sebagai suatu disiplin ilmu yang wajib dipelajari oleh setiap mahasiswa Fakultas Kedokteran di seluruh dunia. Pengembangan ilmu anatomi melalui teknik autopsi kemudian dilakukan oleh Giovanni Morgagni pada 1682-1771. Karena perannya tersebut yang begitu penting dalam dunia pendidikan kedokteran, maka Giovanni dijuluki sebagai bapak Ilmu Anatomi dunia.

    Pada abad ke-17, para pakar hukum di negara-negara Eropa mulai berpikir pentingnya ilmu autopsi untuk membuktikan penyebab hilangnya nyawa korban. Pemikiran ini kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh dokter dengan mengembangkan ilmu kedokteran untuk dapat membuktikan kesalahan pelaku kejahatan melalui ilmu autopsi.

    Hasil autopsi tersebut kemudian dapat dijadikan sebagai alat bukti yang disampaikan oleh saksi ahli dalam suatu pengadilan. Penggunaan autopsi dalam pengadilan selanjutnya disebut dengan istilah Official Medicine, State Medicine, Medical Police dan Medical Jurisprudence. Sedangkan dalam dunia praktisi hukum, ilmu kedokteran yang digunakan untuk keperluan penegak hukum di pengadilan disebut dengan Medicolegal Science.

    NAUFAL RIDHWAN ALY 

    Baca: Cari Tahu Istilah Autopsi dan Forensik dalam Kasus-kasus Kriminal


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Yang Perlu Diketahui Tentang Kemenangan Indonesia di Thomas Cup 2020

    Kemengan Jonatan Christie di Thomas Cup 2020 menandai kemenangan Tim Merah Putih. Sejumlah catatan ditorehkan oleh regu yang menang atas Cina ini.