Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Viral Efek Samping Vaksin AstraZeneca, Guru Besar FKUI Sebut Manfaatnya Jauh Lebih Tinggi

image-gnews
Vaksin AstraZeneca menjadi satu di antara vaksin yang digunakan banyak negara termasuk Indonesia dalam melawan pandemi virus corona. Sarah Gilbert juga melepas hak paten dalam proses produksi vaksin tersebut, sehingga harga vaksin bisa lebih murah. Sarah dan sejumlah ilmuwan yang terlibat dalam pembuatan vaksin telah dianugrahi gelar kebangsawanan oleh Ratu Elizabeth II tahun ini. REUTERS
Vaksin AstraZeneca menjadi satu di antara vaksin yang digunakan banyak negara termasuk Indonesia dalam melawan pandemi virus corona. Sarah Gilbert juga melepas hak paten dalam proses produksi vaksin tersebut, sehingga harga vaksin bisa lebih murah. Sarah dan sejumlah ilmuwan yang terlibat dalam pembuatan vaksin telah dianugrahi gelar kebangsawanan oleh Ratu Elizabeth II tahun ini. REUTERS
Iklan

TEMPO.CO, Jakarta - Beberapa waktu lalu viral di media sosial tentang efek samping vaksinasi AstraZeneca menyebabkan pembekuan darah hingga cedera otak permanen. Kondisi ini pun direspons banyak pihak dan membuat masyarakat enggan melakukan vaksinasi Covid-19. Padahal menurut ahli, dampak positif dari vaksin AstraZeneca lebih tinggi dalam menangkal virus dibanding efek sampingnya.

"Manfaat vaksinasi untuk melindungi seseorang dari Covid-19 jauh lebih tinggi daripada berbagai kemungkinan efek sampingnya yang mungkin ada dan terjadi sangat jarang," kata Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Profesor Tjandra Yoga Aditama kepada Tempo, Minggu, 5 Mei 2024.

Pada 2021 lalu European Medicines Agency (EMA) telah mengungkap efek samping dari vaksinasi AstraZeneca. Menurut Tjandra, penelitian yang berjudul AstraZeneca Covid-19 Vaccine ini mendapati kesimpulan bahwa vaksinasi bisa membuat penggumpalan darah dan trombosit darah rendah. Namun, kasus terjadinya akan sangat langka dan manfaatnya lebih banyak untuk menangkal Covid-19.

Ditambah lagi World Health Organization atau WHO pada 19 Maret 2021 pernah mengeluarkan dokumen ihwal vaksinasi AstraZeneca memiliki manfaat dan potensi yang luar biasa untuk mencegah infeksi dan mengurangi kematian di dunia. Instruksi dari WHO itu, kata Tjandra, membuat segenap instansi pemerintahan dan rumah sakit menganjurkan masyarakatnya menggunakan vaksinasi AstraZeneca.

Berbagai dasar penelitian ilmiah kesehatan yang telah mengungkap vaksinasi AstraZeneca itu membuat Tjandra sepakat supaya masyarakat tidak takut untuk divaksin, terlebih dengan hadirnya banyak informasi dan pemberitaan yang mengungkap tentang efek samping vaksinasi AstraZeneca tersebut.

Bahkan Tjandra menilai viralnya isu vaksinasi AstraZeneca di tahun ini bukanlah sesuatu hal yang mengagetkan, sebab pada tiga tahun lalu dunia juga pernah dibuat heboh oleh kemunculan narasi efek samping AstraZeneca. "Hal ini sebenarnya sudah dibicarakan sejak 2021, waktu vaksin ini mulai digunakan," ucap Tjandra.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Asal Mula AstraZeneca Viral Lagi Tahun Ini

Pada 2023 perusahaan farmasi AstraZeneca digugat oleh seorang pasien cedera otak akibat divaksin dua tahun sebelumnya. Ia bernama Jamie Scoot - bukan orang Indonesia - dan gugatan dilayangkan ke pengadilan. Pada saat digugat, AstraZeneca sempat membantah dan mengklaim kalau vaksin yang diproduksinya tidak menyebabkan efek samping.

Selanjutnya isu ini mereda dan tidak lagi terekspos. Lalu pada 2 Mei lalu muncul pemberitaan dari The Telegraph yang mengabarkan bahwa AstraZeneca mengakui kalau vaksin yang diproduksinya membuat efek samping berupa pembekuan darah.

Pengakuan itu sudah diberikannya lewat dokumen hukum dan diserahkan ke Pengadilan Tinggi Inggris pada Februari lalu. Namun perusahaan farmasi ini menegaskan bahwa temuan kasusnya sangat langka.

Pilihan Editor: ITB Naikkan UKT Mahasiswa 2024, Segini Perkiraan Besarannya

Iklan

Berita Selanjutnya



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Covid-19 Varian Baru Mewabah di Australia, Lebih Mudah Menular

11 jam lalu

Pelanggan mengantre di luar apotek Western Sydney untuk membeli alat Tes Antigen Cepat setelah pandemi penyakit coronavirus (COVID-19) di Sydney, Australia, 5 Januari 2022. REUTERS/Jaimi Joy/File Photo
Covid-19 Varian Baru Mewabah di Australia, Lebih Mudah Menular

Covid-19 varian baru melanda Australia. Disebut lebih menular dibandingkan varian sebelumnya.


Unair Minta Guru Besar Tidak Tulis Gelar di Luar Kepentingan Akademik, Rektor: Bentuk Sakralisasi

2 hari lalu

Rektor Unair M. Nasih sebut guru besar tidak perlu tulis gelar di luar kepentingan akademik, Jumat, 19 Juli 2024. Foto: Hanaa Septiana/TEMPO
Unair Minta Guru Besar Tidak Tulis Gelar di Luar Kepentingan Akademik, Rektor: Bentuk Sakralisasi

Nasih juga menyarankan penilaian guru besar harus lebih kuat dan disaring lagi.


Skandal Guru Besar, Rektor Unair Sarankan Penilaian dengan Digitalisasi

2 hari lalu

Rektor UNAIR Prof Nasih saat acara Tasyakuran Dies Natalis ke-68 UNAIR. Foto: PKIP UNAIR
Skandal Guru Besar, Rektor Unair Sarankan Penilaian dengan Digitalisasi

Kecurangan yang terjadi diakibatkan karena proses penilaian guru besar masih melibatkan manusia atau orang.


Rektor UII Ogah Pakai Titel, Minta Gelar Akademik Tak Ditulis di Dokumen Kampus

3 hari lalu

Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta Fathul Wahid. Tempo/Pribadi Wicaksono
Rektor UII Ogah Pakai Titel, Minta Gelar Akademik Tak Ditulis di Dokumen Kampus

Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Fathul Wahid tak ingin adanya jabatan profesor menambah jarak sosial di lingkungan kampusnya.


Pernyataan Akademik Paguyuban Profesor Jabar-Banten Kritik Aturan Soal Profesor Kehormatan

3 hari lalu

Para politikus dan dosen berlomba mendapatkan guru besar dan profesor. Mereka melakukannya dengan cara culas: memakai jurnal predator dan bersekongkol dengan para asesor di Kementerian Pendidikan.
Pernyataan Akademik Paguyuban Profesor Jabar-Banten Kritik Aturan Soal Profesor Kehormatan

Paguyuban Profesor Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah Jawa Barat dan Banten membuat pernyataan akademik terkait masalah penetapan dosen dalam jabatan akademik guru besar atau profesor. Ketua Umum Paguyuban tersebut, Eddy Jusuf Supardi mengatakan, pihaknya mendesak pemerintah untuk segera memperbaiki ketentuan peraturan perundang-undangan dan proses penetapan profesor sesuai hakikatnya.


Asosiasi Profesor Minta KPK Usut Skandal Guru Besar

3 hari lalu

Ilustrasi wisuda. shutterstock.com
Asosiasi Profesor Minta KPK Usut Skandal Guru Besar

API berencana mengirim surat ke KPK untuk segera mengusut kebijakan dan praktik pengabaian aturan dalam proses pengangkatan guru besar.


Joe Biden Positif Covid-19

3 hari lalu

Presiden AS Joe Biden saat bertemu dengan Presiden Joko Widodo atau Jokowi ketika melakukan pembicaraan mengenai keamanan regional dan transisi energi ramah lingkungan, di Ruang Oval Gedung Putih di Washington, AS, 14 November 2023. REUTERS/Leah Millis
Joe Biden Positif Covid-19

Di tengah kegiatannya berkampanye, Joe Biden menemukan dirinya positif Covid-19. Dia sekarang karantina mandiri di rumahnya di Delaware.


Asosiasi Profesor Minta Mendikbud Hentikan Proses Pengangkatan Guru Besar yang Langgar Aturan

4 hari lalu

Para politikus dan dosen berlomba mendapatkan guru besar dan profesor. Mereka melakukannya dengan cara culas: memakai jurnal predator dan bersekongkol dengan para asesor di Kementerian Pendidikan.
Asosiasi Profesor Minta Mendikbud Hentikan Proses Pengangkatan Guru Besar yang Langgar Aturan

Guru Besar hanya boleh disandang untuk dosen yang aktif bekerja sebagai pendidik di perguruan tinggi.


11 Dosen FH Rekayasa Syarat Guru Besar, Unsur Pimpinan ULM Jadi Anggota Tim Pencari Fakta

4 hari lalu

Para politikus dan dosen berlomba mendapatkan guru besar dan profesor. Mereka melakukannya dengan cara culas: memakai jurnal predator dan bersekongkol dengan para asesor di Kementerian Pendidikan.
11 Dosen FH Rekayasa Syarat Guru Besar, Unsur Pimpinan ULM Jadi Anggota Tim Pencari Fakta

Wakil Rektor I Bidang Akademik ULM, Iwan Aflanie, mengatakan tim terdiri dari lima orang yang berasal dari unsur pimpinan, tim pengawas, dan admin.


Skandal Rekayasa Guru Besar Mencuat, Ini Sanksi bagi Pemalsu Gelar Profesor

4 hari lalu

Pejabat Publik dengan Gelar Guru Besar Janggal
Skandal Rekayasa Guru Besar Mencuat, Ini Sanksi bagi Pemalsu Gelar Profesor

Guru Besar atau profesor merupakan gelar tertinggi bagi dosen yang aktif mengajar. Jika ditemukan ada yang memalsukan gelar ini, ada sanksi pidana.