Versi Baru Virus Flu Babi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Panik Flu Babi di India/AP Photo/Rajanish Kakade

    Panik Flu Babi di India/AP Photo/Rajanish Kakade

    TEMPO Interaktif, Beijing - Setelah beberapa bulan nyaris tak terdengar perkembangannya, gelombang kedua flu A (H1N1) atau lebih dikenal dengan flu babi menyerang kembali. Kini virus H1N1 tak lagi jinak. Beberapa virus telah bermutasi menjadi bentuk yang lebih ganas.

    Pekan lalu, Cina melaporkan delapan pasien yang terinfeksi virus flu babi yang telah bermutasi. Meski demikian, bentuk virus baru itu masih bisa ditangkal oleh obat flu dan vaksin.

    Virus flu memang mudah bermutasi, dan para ilmuwan terus mengawasi tanda-tanda perubahan bentuk virus flu tersebut untuk mengantisipasi munculnya virus yang lebih berbahaya atau lebih mudah menular.

    Shu Yuelong, Direktur Chinese National Influenza Center, menyatakan kepada kantor berita Xinhua News Agency bahwa virus mutasi yang ditemukan di Cina itu adalah kasus "terisolasi" dan tidak resistensi terhadap obat, serta dapat dihindari dengan vaksin. Namun, laporan itu tidak mengungkap detail kasus virus mutasi tersebut, baik kapan kasus itu terdeteksi atau apakah pasien meninggal.

    Para pakar penyakit di Cina mengatakan, meski mutasi itu belum mencapai tingkat berbahaya dan resistan terhadap Tamiflu, Cina harus waspada terhadap segala bentuk mutasi atau perubahan perilaku virus flu A karena virus flu burung H5N1, yang jauh lebih mematikan, bersifat endemi di negara itu.

    Zhong Nanshan, Direktur Guangzhou Institute of Respiratory Diseases, di Provinsi Guangdong mengatakan keberadaan kedua jenis virus di Cina itu harus diwaspadai karena dapat bercampur dan menjadi virus hibrida yang berbahaya, kuman yang dipersenjatai dengan kemampuan membunuh yang jauh lebih tinggi dan dapat menular antarmanusia dengan mudah.

    "Cina berbeda dengan negara lain. Di Cina, H5N1 telah ada sejak lama, sehingga, jika ada 'perkawinan' antara H1N1 dan H5N1, itu berarti bencana. Virus flu baru hasil percampuran itu akan sama mematikannya dengan flu burung, dan mudah menular, seperti flu babi," kata Zhong. "Ini sesuatu yang harus dimonitor, baik perubahan maupun mutasi virusnya. Itu sebabnya mengapa laporan tingkat kematian harus amat transparan."

    Zhong menyatakan bahwa ada kemungkinan kasus kematian akibat flu babi di Cina lebih banyak daripada yang dilaporkan, karena sejumlah pejabat setempat diduga menyembunyikan kasus terduga flu babi. "Beberapa petugas kesehatan lokal ragu-ragu dan enggan mengetes pasiennya dengan pneumonia parah, karena ada sejumlah peraturan yang menyatakan, makin banyak kematian akibat H1N1, berarti upaya pencegahan dan kontrol di daerah itu kurang efektif," kata Zhong.

    Namun, kasus virus mutasi tak hanya terjadi di Cina. Prancis, Inggris, dan Norwegia juga melaporkan adanya kematian akibat virus mutan flu babi. Health Surveillance Institute Prancis menyatakan dua pasien di dua rumah sakit berbeda yang terinfeksi mutasi flu babi meninggal pekan lalu. "Mutasi ini dapat meningkatkan kemampuan virus mempengaruhi saluran pernapasan, terutama jaringan paru-paru," kata institut itu. "Pada salah satu pasien, mutasi itu juga diikuti mutasi lain, yang membantu resistensi terhadap oseltamivir.

    Munculnya serangan gelombang kedua flu H1N1 ini, yang diikuti penemuan kasus virus yang telah bermutasi di sejumlah negara, membuat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sibuk meredam keresahan. Mereka menyatakan bahwa virus yang telah bermutasi itu baru ditemukan pada beberapa orang saja.

    Kepala Penasihat Flu untuk Direktorat Jenderal WHO, Keiji Fukuda, menyatakan perubahan bentuk virus yang kebal terhadap Tamiflu memang telah ditemukan pada 75 orang di seluruh dunia. Dua cluster, di unit kanker di Duke University Medical Center di North Carolina dan sebuah rumah sakit di Wales, Inggris, terjadi di antara pasien yang sistem kekebalan tubuhnya amat lemah karena tekanan pengobatan kanker. Sumsum tulang beberapa pasien tersebut sengaja diambil agar dapat menjalani proses penyuntikan sel punca darah, padahal sumsum tulang adalah produsen sel darah putih, yang memerangi infeksi.

    Pasien dalam kondisi seperti itu cenderung mengembangkan virus resisten ketika diobati dengan Tamiflu, tapi strain mutan itu tampaknya tidak menyebar dengan mudah pada orang dengan imunitas normal, seperti para pekerja rumah sakit. "Kami belum mengetahui semua jawabannya, tapi kelihatannya kami belum melihat adanya pergeseran besar," kata Fukuda.

    Meluasnya resistensi Tamiflu adalah masalah serius pada virus flu musiman, namun belum ditemukan pada virus flu babi H1N1. Fukuda juga mengatakan bahwa para ilmuwan WHO belum bisa memastikan tingkat ancaman yang disebabkan oleh mutasi terpisah, yang membantu virus tersebut mencapai paru-paru. Peristiwa itu ditemukan di Norwegia, Ukraina, Brasil, Cina, Jepang, Meksiko, dan Amerika Serikat, baik dalam kasus ringan maupun serius.

    Para pakar masih harus melihat apakah mutasi tersebut, yang diberi nama virologi sebagai D222G atau D225G, semakin umum dijumpai, dan seberapa sering virus mutan itu menimbulkan penyakit yang jauh lebih parah.

    Jumat lalu, laboratorium medis nasional Inggris melaporkan bahwa satu isolat dari Ukraina menunjukkan perubahan mutasi yang sangat besar sehingga vaksin flu babi yang ada sekarang kemungkinan tak mampu menghadangnya dengan baik.

    Fukuda memperingatkan bahwa virus flu dapat bermutasi begitu cepat, jutaan kali lipat lebih cepat daripada mutasi pada binatang. Bahkan dia mengibaratkan perubahan bentuk virus flu seperti melaporkan perubahan cuaca.

    L TJANDRA DEWI | REUTERS | AP | NYTIMES


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Obat Sakit Perut Alami

    Berikut bahan alami yang kamu perlukan untuk membuat obat sakit perut alami di rumah.