BPPTKG Jelaskan Status Siaga Merapi Nyaris Setahun dan Awan Panas Kian Jarang

Rabu, 3 November 2021 11:23 WIB

Gunung Merapi mengeluarkan lava pijar terlihat dari Turi, Sleman, DI Yogyakarta, Kamis 9 September 2021. Menurut data Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) periode pengamatan Kamis, 9 September 2021 pukul 00:00-06.00 WIB telah terjadi 11 kali guguran lava pijar dengan jarak luncur maksimal 1.500 meter ke arah barat daya. ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah

TEMPO.CO, Yogyakarta - Balai Penyelidikan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta menjelaskan tentang kemunculan awan panas guguran Gunung Merapi yang makin sering absen beberapa waktu terakhir.

Status Siaga untuk Gunung Merapi sendiri pada 5 November 2021 nanti genap setahun sejak dinaikkan statusnya pada 5 November 2020 silam.

Awan panas guguran Merapi sempat muncul terakhir pada tanggal 1 November 2021 pukul 23.25 WIB, tercatat di seismogram dengan amplitudo 40 milimeter dan durasi 150 detik serta jarak luncur 2.000 meter ke arah barat daya.

Kemunculan awan panas awal November itu setelah absen kembali dari periode pengamatan 22-28 Oktober 2021. "Aktivitas ekstrusi magma Gunung Merapi saat ini sebenarnya masih tinggi yang ditandai dengan tingginya aktivitas guguran lava," kata Kepala BPPTKG Hanik Humaida Selasa 2 November 2021.

Terkait awan panas, Hanik menyatakan bahwa kejadian awan panas utamanya dipicu ketika ada bagian kubah lava yang runtuh. Merapi pada periode erupsi ini untuk kali pertama dalam sejarah memiliki dua kubah lava yakni sisi barat daya dan tengah. "Awan panas itu terjadi akibat runtuhnya kubah lava dengan kandungan gas yang masih tinggi," kata Hanik.

Runtuhnya kubah lava, lanjut Hanik, dapat terjadi begitu saja karena gaya gravitasi atau dapat juga dipicu oleh faktor luar. "Seperti curah hujan yang tinggi di musim hujan," kata dia.

Advertising
Advertising

BPPTKG Yogyakarta meminta masyarakat untuk tetap tenang, namun tetap melaksanakan kesiapsiagaan. "Berdasarkan pemodelan, luncuran awan panas yang dihasilkan dari kubah lava barat daya saat ini apabila runtuh jarak luncuran maksimal lima kilometer," kata dia.

Catatan BPPTKG Yogyakarta, pada 1 November, selama periode enam jam yakni pukul 18.00-24.00 WIB, Merapi juga intens mengeluarkan puluhan lava pijar selain satu kali awan panas. "Teramati guguran lava pijar 27 kali jarak luncur maksimum 1500 meter ke arah barat daya," kata Hanik yang menyatakan status Merapi saat ini masih Siaga.

Baca:
Gunung Merapi Luncurkan Guguran Lava Pijar Sejauh 1,5 Kilometer

Selalu update info terkini. Simak breaking news dan berita pilihan dari Tempo.co di kanal Telegram “Tempo.co Update”. Klik https://t.me/tempodotcoupdate untuk bergabung. Anda perlu meng-install aplikasi Telegram terlebih dahulu.

Berita terkait

Sumbu Filosofi Yogyakarta Diakui UNESCO, Makna Garis Imajiner Gunung Merapi ke Laut Selatan

4 hari lalu

Sumbu Filosofi Yogyakarta Diakui UNESCO, Makna Garis Imajiner Gunung Merapi ke Laut Selatan

UNESCO akui Sumbu Filosofi Yogyakarta, garis imajiner dari Gunung Merapi, Tugu, Keraton Yogyakarta, Panggung Krapyak, dan bermuara di Laut Selatan.

Baca Selengkapnya

Monyet Ekor Panjang Muncul di Pemukiman Sleman yang Berjarak 10 KM dari Gunung Merapi

7 hari lalu

Monyet Ekor Panjang Muncul di Pemukiman Sleman yang Berjarak 10 KM dari Gunung Merapi

Memasuki bulan kemarau awal Mei ini, warga di Dusun Rejodani, Sariharjo, Ngaglik, Sleman Yogyakarta dikagetkan dengan kemunculan sejumlah monyet ekor panjang

Baca Selengkapnya

Nekat Susuri Jalur Jip Lava Tour, Mobil Wisatawan Terjebak di Sungai Lereng Merapi

21 hari lalu

Nekat Susuri Jalur Jip Lava Tour, Mobil Wisatawan Terjebak di Sungai Lereng Merapi

Sebuah mobil berjenis sport utility vehicle (SUV) milik wisatawan terjebak di jalur jip wisata Lava Tour sungai Kalikuning lereng Gunung Merapi, Sleman Yogyakarta pada Minggu 21 April 2024.

Baca Selengkapnya

Kirab Bergada hingga Jathilan Iringi Warga Lereng Merapi Budi Daya Sorgum

21 hari lalu

Kirab Bergada hingga Jathilan Iringi Warga Lereng Merapi Budi Daya Sorgum

Iringan kesenian lokal itu sebagai harapan sorgum yang baru pertama kali dibudidayakan di lereng Merapi itu bisa memberikan manfaat.

Baca Selengkapnya

Cerita dari Kampung Arab Kini

22 hari lalu

Cerita dari Kampung Arab Kini

Kampung Arab di Pekojan, Jakarta Pusat, makin redup. Warga keturunan Arab di sana pindah ke wilayah lain, terutama ke Condet, Jakarta Timur.

Baca Selengkapnya

Aktivitas Gunung Semeru Semakin Intens, Warga Diminta Waspadai Awan Panas, Guguran Lava dan Lahar

27 hari lalu

Aktivitas Gunung Semeru Semakin Intens, Warga Diminta Waspadai Awan Panas, Guguran Lava dan Lahar

Badan Geologi masih mempertahankan status aktivitas Gunung Semeru berada di Level III atau Siaga dengan penambahan rekomendasi.

Baca Selengkapnya

Libur Lebaran Hampir Selesai, Sleman Siapkan Sederet Event untuk Dongkrak Jumlah Wisatawan

29 hari lalu

Libur Lebaran Hampir Selesai, Sleman Siapkan Sederet Event untuk Dongkrak Jumlah Wisatawan

Sleman menggelar sejumlah atraksi, mulai dari kesenian tradisional hingga pentas musik pada 13 hingga 15 April 2024.

Baca Selengkapnya

Pasar Takjil Lereng Gunung Merapi Disiapkan Jadi Embrio Festival Kuliner Libur Lebaran

44 hari lalu

Pasar Takjil Lereng Gunung Merapi Disiapkan Jadi Embrio Festival Kuliner Libur Lebaran

Pasar takjil di Kaliurang lereng Gunung Merapi akan diubah menjadi Festival Kuliner Kaliurang selama libur Lebaran.

Baca Selengkapnya

Begini Penampakan Gunung Semeru Pagi Ini Setelah Erupsi dan Luncurkan Awan Panas Guguran

44 hari lalu

Begini Penampakan Gunung Semeru Pagi Ini Setelah Erupsi dan Luncurkan Awan Panas Guguran

Gunung Semeru menampakkan tubuh utuhnya yang berwarna perak kebiru-biruan pada Sabtu pagi.

Baca Selengkapnya

Banyak Jalur Rawan di Sleman Yogyakarta, Jembatan Lereng Merapi Diusulkan Dihapus dari Google Maps

45 hari lalu

Banyak Jalur Rawan di Sleman Yogyakarta, Jembatan Lereng Merapi Diusulkan Dihapus dari Google Maps

Pemudik dan wisatawan diminta cermat memilih jalur yang aman saat ke Sleman, Yogyakarta, tak semata mengandalkan Google Maps.

Baca Selengkapnya