Vira Shanty, CDO Lippo Digital Group: Data Scientist Langka

Reporter:
Editor:

Amri Mahbub

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Vira Shanty, Chief Data Officer Lippo Digital Group (OVO). (Facebook/Vira Shanty)

    Vira Shanty, Chief Data Officer Lippo Digital Group (OVO). (Facebook/Vira Shanty)

    TEMPO.CO, Jakarta - Kebutuhan akan data scientist (ahli data) kian tinggi, mengingat tuntutan bisnis digital yang kian merangkak naik. Hal itu juga didorong oleh perkembangan ke depan terhadap tren perusahaan yang dikendalikan data (data-driven company).

    Berikut penuturan Vira Shanty, Chief Data Officer Lippo Digital Group (OVO), akan perihal kebutuhan ahli data saat ini saat ditemui awal Februari ini. Shanty termasuk perempuan langka yang menggeluti bidang ini.

    Bagaimana perkembangan big data?
    Kayaknya tahun ini hampir semua ramai-ramai masuk. Kalau saya lihat, dulu awalnya yang cukup mature masuk ke big data di mana-mana mulainya telco (telekomunikasi) duluan. Habis itu, perbankan. Perbankan tahun lalu rata-rata mereka sudah mulai siap-siap melakukan reformasi ke area data.

    Bagaimana dengan start-up?
    Start-up dengan pertumbuhan bisnis yang cepat, jadi mereka didukung datanya juga. Konglomerasi juga, dari hasil diskusi dengan beberapa perusahaan lain, tahun ini mereka mulai menggarap.

    Berarti pemainnya akan semakin banyak?
    Menurut saya, semua sudah melihat value dari data dan kebutuhan organisasi masing-masing. Hampir semua perusahaan ke depannya akan menjadi data-driven company.

    Bagaimana tantangan big data saat ini?
    Mungkin yang menantang adalah belum banyak juga yang masuk ke dunia big data yang terbilang cukup berhasil. Ini cukup menantang untuk melakukan implementasi di bidang itu.

    Masalahnya di mana?
    Dari beberapa diskusi, yang kami lihat hampir semua itu rata-rata tidak terlalu fokus di use case, fokusnya lebih ke arah teknologi. Jadi, mereka belum tentu benar-benar memahami bahwa value data mereka itu bisa ditransformasikan untuk memberi value lebih ke perusahaan masing-masing. Tapi lebih cenderung memikirkan teknologi apa yang tepat.

    Bagaimana seharusnya perusahaan melihat hal ini?
    Nanti, semakin banyak mereka ketemu dengan berbagai opsi teknologi yang luar biasa banyak, biasanya ini (use case) jadi isu. Padahal big data itu, kalau mau sukses, harus fokus ke use case.

    Kemudian masalah resources dengan keahlian yang tepat untuk mengimplementasikan big data. Teknologi one thing, use case yang paling utama, kemudian resources yang tepat.

    Selama ini mereka yang mengolah big data belum mumpuni?
    Sebenarnya tergantung use case dan objective masing-masing apa yang mau dihasilkan, setiap organisasi pasti tujuannya beda-beda. Skill set yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan tadi juga bermacam-macam.

    Perusahaan yang menggunakan big data dengan tujuan akhir hanya untuk business reporting, skill set-nya cukup orang-orang yang punya kemampuan di business intelligence (BI). Namun, jika tujuannya yang monetisasi dan menghasilkan produk inovasi dari big data, orang yang mempunyai kemampuan di BI tidak cukup lagi, skill set-nya benar-benar harus sesuai dengan objective perusahaan, kemudian use case yang mau dihasilkan.

    Bagaimana dengan pasokan sumber dayanya?
    Sekarang bisa dibilang cukup langka. Banyak perusahaan yang mulai masuk ke area big data, sehingga demand-nya tinggi banget, tapi resources-nya sebenarnya tidak mencukupi dari demand.

    Hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia, di negara lain juga begitu, karena soalnya hype banget, semua orang berbicara big data. Apalagi jika orang berbicara data scientist, itu job yang benar-benar cukup langka.

    Simak artikel menarik lainnya tentang data scientist hanya di kanal Tekno Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.