Penggalian Situs Kumitir Berdasarkan Cerita Naskah Kuno, Seperti Apa?

Reporter

Ekskavasi situs di kebun tebu di Desa Kumitir, Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur, Agustus 2020. Di situs seluas total enam hektare itu diduga terkubur candi pendharmaan atau makam satu raja dari era Kerajaan Singasari dan Majapahit. FOTO/BPCB JAWA TIMUR

TEMPO.CO, Jakarta - Temuan talut (dinding tanggul) dan struktur bata di area seluas sekitar enam hektare di Desa Kumitir, Mojokerto, Jawa Timur, diduga berasal dari abad ke-14. Berdasarkan nama desa itu, ahli arkeologi menghubungkan situs Kumitir dengan kisah-kisah yang ada dalam sejumlah naskah kuno yang berasal dari masa Kerajaan Singasari dan Majapahit.

Wicaksono Dwi Nugroho, arkeolog dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur yang memimpin tim ekskavasi Situs Kumitir menerangkan bahwa nama Kumitir ada dalam Kidung Wargasari, Kitab Negarakrtagama dan juga Pararaton. "Apakah Kumitir di Wargasari adalah Kumeper di Pararaton? Kami duga begitu, Kumeper adalah Kumitir yang namanya masih dikenali hingga sekarang," katanya, Minggu 9 Agustus 2020.

Dia menuturkan bahwa nama Kumitir dalam Kidung Wargasari disebutkan sebagai nama daerah yang dilintasi atau disinggahi seorang pemuda bernama Wargasari bersama kekasihnya Narawati. Pemuda itu diminta neneknya untuk memperdalam ilmu agama kepada kakeknya di Majapahit.

Kitab Nagarakrtagama menyebut nama Kumitir sebagai tempat berdirinya sebuah bangunan suci pendharmaan berlatar agama siwa dengan arca yang indah. "Candi itu ada dua macam, sebagai tempat peribadatan atau pemujaan atau makam atau pendharmaan," kata Wicaksono menerangkan.

Anak-anak bermain di tumpukan batu bata kuno yang berserakan diduga bangunan peninggalan masyarakat zaman Majapahit di Dusun Bendo, Desa Kumitir, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto, 11 April 2017. Bangunan diduga pagar atau tembok dari batu bata kuno itu terpendam dalam tanah dan dijarah atau dibongkar beserta tanah setempat yang dikeruk untuk dimanfaatkan sebagai material urukan lahan. TEMPO/ISHOMUDDIN

Nagarakrtagama menulis makam itu milik Narasinghamurti yang meninggal setelah 1268 M, tidak lama setelah Raja Singasari ke-6 Wisnuwardhana. Dalam Pararaton, Narasinghamurti atau Mahesa Cempaka meninggal dan di-dharmakan di Kumeper atau yang diyakini Desa Kumitir saat ini. "Narasinghamurti itu keturunan dari jalur Hayam Wuruk dan Ken Dedes," kata Wicaksono.

Penggalian yang sekarang dilakukan, Wicaksono menjelaskan, bertujuan ingin menampakkan situs Kumitir. Tim arkeolog ingin membuktikan apakah benar tempat itu yang dimaksud dalam naskah-naskah kuno sebagai pendharmaan Narasinghamurti. Sejauh ini, dia menambahkan, "Sudah ditemukan struktur bata membentuk bangunan diduga makam di tengah area talut."






Simak Dulu Asal Usul Kota Madiun Sebelum Berwisata Ke Kota Pecel

7 hari lalu

Simak Dulu Asal Usul Kota Madiun Sebelum Berwisata Ke Kota Pecel

Selain memiliki panorama indah dan julukan yang cukup beragam, seperti Kota Pecel, Kota Sepur, atau Kota Sastra, ternyata Madiun memiliki sejarah kompleks


Yogyakarta Siapkan Pameran Keris Terbesar Akhir Pekan Ini, Ada Koleksi Langka Era Majapahit

10 hari lalu

Yogyakarta Siapkan Pameran Keris Terbesar Akhir Pekan Ini, Ada Koleksi Langka Era Majapahit

Pameran keris yang berbarengan dengan agenda Musyawarah Agung Senapati bakal memamerkan 77 koleksi tosan aji dari berbagai wilayah nusantara.


Ditemukan, Praktik Medis Amputasi Manusia Zaman Batu di Kalimantan

15 hari lalu

Ditemukan, Praktik Medis Amputasi Manusia Zaman Batu di Kalimantan

Pemilik rangka diperhitungkan bertahan hidup 6-9 tahun setelah amputasi.


Ekspedisi Batanghari, Menyusuri Jejak Peradaban Melayu

29 hari lalu

Ekspedisi Batanghari, Menyusuri Jejak Peradaban Melayu

Ekspedisi Batanghari yang diselenggarakan Ditjen Kemendikbudristek menyusuri kembali jejak peradaban Melayu.


Aneka Cerita Anak Muda Pelestari Candi

10 Juli 2022

Aneka Cerita Anak Muda Pelestari Candi

Sejumlah anak muda menyadari bahwa candi adalah warisan sejarah yang perlu dilestarikan.


Mengapa 1 Juli Dipilih Sebagai Hari Bhayangkara?

1 Juli 2022

Mengapa 1 Juli Dipilih Sebagai Hari Bhayangkara?

Tiap 1 Juli sejak 1954 diperingati sebagai Hari Bhayangkara. Sementara 19 Agustus 1945 terbentuknya Badan Kepolisian Negara. Ini alasannya.


Penyebab Harga Ayam Cemani Amat Mahal, Kerap Dihubungkan Mitos Mistis

19 Juni 2022

Penyebab Harga Ayam Cemani Amat Mahal, Kerap Dihubungkan Mitos Mistis

Ayam cemani memiliki bulu, tulang hingga daginmg berwarna serba hitam, kerap dihubungkan dengan mitos mistis. Mengapa ayam ini sangat mahal?


Kilas Balik Detik-detik Teror Bom di Candi Borobudur

16 Juni 2022

Kilas Balik Detik-detik Teror Bom di Candi Borobudur

Candi Borobudur pernah mengalami aksi teror bom pada 1985. Inilah detik-detik teror bom berdasarkan reportase majalah Tempo.


Rencana Tiket Naik Borobudur Batal, Arkeolog Dukung Pembatasan Jalan Terus

15 Juni 2022

Rencana Tiket Naik Borobudur Batal, Arkeolog Dukung Pembatasan Jalan Terus

Pembatalan tiket naik Borobudur disebutkan berdasarkan arahan Presiden Joko Widodo dalam Rapat Terbatas tentang Pariwisata di Istana.


Mengapa Relief Karmawibhangga di Kaki Candi Borobudur Ditutup?

11 Juni 2022

Mengapa Relief Karmawibhangga di Kaki Candi Borobudur Ditutup?

Candi Borobudur memiliki banyak relief, salah satunya adalah Karmawibhangga yang menceritakan tentang hukum sebab akibat.