Truk Proyek Bikin Viral, Komodo Tak Selalu Hidup di Pantai

Reporter:
Editor:

Zacharias Wuragil

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sebuah truk pembawa material dihadang oleh seekor komodo di Lph Buaya, Pulau Rinca. Kredit: Antara/HO

    Sebuah truk pembawa material dihadang oleh seekor komodo di Lph Buaya, Pulau Rinca. Kredit: Antara/HO

    TEMPO.CO, Jakarta - Foto komodo yang berhadap-hadapan dengan truk proyek pengembangan destinasi wisata Taman Nasional Komodo di Pulau Rinca, Nusa Tenggara Timur, viral di media sosial dan pamor di media massa. Sebagian kalangan membantah gestur si komodo menghadang truk. Sebaliknya, disebut menyambut truk dengan baik.

    Entah mana yang benar. Tapi artikel ini hendak mengangkat satu fakta dalam kehidupan komodo di habitat liarnya yang mungkin tak banyak dikenali masyarakat. Fakta itu tentang dua fase hidup kadal terbesar di dunia itu yang 'hijrah' dari hewan arboreal atau di atas pohon menjadi melata di darat alias terestrial.

    Seperti telah diketahui, komodo dragon (Varanus komodoensis) hanya bisa ditemukan atau endemik di kepulauan Komodo, Flores, Rinca dan Padar di Nusa Tenggara Timur. Di habitatnya, komodo dewasa mudah ditemukan berkeliaran--ataupun berdiam--di lantai savana. Mereka menyukai area dataran rendah yang terbuka dengan ilalang dan semak, atau di pantai, bantaran sungai kering dan bukti batu.

    Tapi di manakan anakan komodo? Komodo belia yang baru menetas ternyata bersifat arboreal dan hidup di dalam hutan hingga usia kira-kira delapan bulan. Mereka butuh berada di sana untuk menghindari menjadi santapan komodo dewasa yang tak kenal mana anak baru menetas di antara populasinya, mana mangsa.

    Tubuh anakan juga jauh lebih kecil dan ramping daripada yang dewasa, memungkinkan mereka tinggal di atas pohon. Pada usia delapan bulan, mereka umumnya menjadi terlalu berat untuk tetap hidup di pohon, lalu mengubah dietnya dan menjadi terestrial.

    Begitu dewasa, komodo bisa tumbuh sampai bobot 165 kilogram dan panjang tubuhnya bisa lebih dari tiga meter. Tubuh kekarnya seragam tertutup sisik seluruhnya.

    Kadal raksasa komodo di Taman Nasional Komodo. Dok. Kemenparekraf

    Sebagai pemburu, satwa ini bertenaga dan bisa siluman mengandalkan indera penciumannya. Komodo juga menggunakan lidahnya yang panjang dan bercabang untuk mencecap udara dan mendeteksi kondisi lingkungan sekitarnya.

    Baca juga:
    Taifun Molave Berdampak ke Cuaca di Indonesia? Ini Penjelasan BMKG

    Hewan ini bisa menghabiskan berjam-jam diam menunggu santapan yang berharga dalam jarak jangkauan sebelum melancarkan serangan mematikan menggunakan barisan giginya yang tajam dan beracun.

    Jadi, apakah diam si komodo yang viral hendak menghadang atau menyambut?

    ANIMAL DIVERSITY | SMITHSONIAN NATIONAL ZOO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Diego Maradona dan Tangan Tuhan

    Sosok Diego Maradona yang kontroversial tidak dapat dipisahkan dari gol yang disebut-sebut orang sebagai gol Tangan Tuhan.