Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Guru Besar FKUI Sebut Turunnya Kasus Covid-19 Indonesia Bukan Karena Kekebalan

image-gnews
Petugas medis menyuntikkan vaksin covid-19 kepada pasien Orang dengan Gangguan Kejiwaan (ODGJ) mengikuti penyuntikan vaksinasi Covid-19 di Panti Sosial Bina Insan (PSBI) Bangun Daya 2, Cipayung, Jakarta Timur, Selasa, 14 September 2021. Sebanyak 180 ODGJ didaftarkan untuk mengikuti vaksinasi dosis 1 dan dosis 2. TEMPO / Hilman Fathurrahman W
Petugas medis menyuntikkan vaksin covid-19 kepada pasien Orang dengan Gangguan Kejiwaan (ODGJ) mengikuti penyuntikan vaksinasi Covid-19 di Panti Sosial Bina Insan (PSBI) Bangun Daya 2, Cipayung, Jakarta Timur, Selasa, 14 September 2021. Sebanyak 180 ODGJ didaftarkan untuk mengikuti vaksinasi dosis 1 dan dosis 2. TEMPO / Hilman Fathurrahman W
Iklan

TEMPO.CO, Jakarta - Satuan Tugas Penanganan Covid-19 melaporkan bahwa kasus harian di Indonesia per Selasa, 14 September 2021, hanya bertambah 4.128. Angka ini cukup jauh dari puncak tertinggi penambahan harian yang tercatat sebanyak 54 ribu kasus pada 16 Juni lalu.

Namun, benarkah sekarang orang Indonesia mendapatkan kekebalan alamiah bukan kekebalan karena vaksin sehingga kasus menurun? Menurut Guru Besar di Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Tjandra Yoga Aditama, penurunan kasus terjadi karena upaya pembatasan sosial yang sangat ketat.

“Tentu saja kekebalan bisa didapat secara alamiah atau akibat vaksin, tapi pembatasan sosial ketat yang menurunkan jumlah kasus, itu sudah terjadi di berbagai tempat di dunia,” ujar dia dalam acara virtual Kuliah Pakar Magister Sains Biomedis, Universitas YARSI, Jakarta, Rabu, 15 September 2021.

Jadi, Tjandra yang merupakan Direktur Pascasarjana Universitas YARSI, mencontohkan, di Wuhan, Cina, tempat di mana diduga pertama kali SARS-CoV-2 itu diidentifikasi, sempat mengalami lonjakan kasus yang tinggi. Namun, kata dia, kasusnya bisa menurun, dan saat itu masih belum ada vaksin sama sekali, termasuk belum ada kekebalan secara alami karena memang virus baru ditemukan.

Wuhan berhasil menurunkan kasus Covid-19 tahun lalu, itu karena lockdown atau pembatasan sosial ketat. “Jadi upaya protokol kesehatan 3M atau sekarang 5M dan 3T, plus vaksinasi itu jelas menurunkan kasus, tapi sebenarnya protokol kesehatan saja sudah cukup,” kata dia.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Protokol kesehatan yang dimaksud Tjandra adalah 3M yang terdiri memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak atau ditambahkan dengan menjauhi kerumunan, serta membatasi mobilisasi dan interaksi, menjadi 5M. Sedangkan 3T merupakan upaya menekan penyebaran virus Covid-19, testing, tracing, dan treatment.

Selain itu, Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara periode 2018-2020 itu juga menambahkan bahwa mungkin ada aspek kekebalan yang berpengaruh, tapi belum cukup besar. “Nah kalau pertanyaannya, bagaimana jika pembatasan sosial dilonggarkan? Kasusnya naik lagi atau tidak? Tentu saja bisa dibahas lebih lanjut lagi nantinya,” tutur Tjandra.

Tjandra juga menerangkan bahwa meskipun protokol kesehatan menjadi hal penting dalam menurunkan jumlah kasus, kekebalan baik secara alami atau karena vaksin masih dibutuhkan. “Itu juga menjadi penting,” ujar dokter spesialis paru konsultan itu.

Baca:
Covid-19 Global: Malaysia Kini Gantikan Posisi Indonesia Sumbang Kasus Terbanyak

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


KIKA Minta Kemendikbudristek Tuntaskan Masalah Pengangkatan Guru Besar Abal-Abal

8 jam lalu

Para politikus dan dosen berlomba mendapatkan guru besar dan profesor. Mereka melakukannya dengan cara culas: memakai jurnal predator dan bersekongkol dengan para asesor di Kementerian Pendidikan.
KIKA Minta Kemendikbudristek Tuntaskan Masalah Pengangkatan Guru Besar Abal-Abal

KIKA berharap Kemendikbudristek dapat menyelesaikan problem pengangkatan guru besar bermasalah, termasuk melibatkan tokoh politik dan kekuasaannya.


KIKA Catat Daftar Kasus Pelanggaran Kebebasan Akademik di 2023-2024

10 jam lalu

Ilustrasi jurnal ilmiah. Shutterstock
KIKA Catat Daftar Kasus Pelanggaran Kebebasan Akademik di 2023-2024

Sepanjang 2023 hingga 2024, KIKA mencatat ada 27 jenis kasus pelanggaran kebebasan akademik. Dosen, mahasiswa, kelompok masyarakat sipil jadi korban.


Jelang PIN Polio 2024, Dokter Ingatkan Pentingnya Anak Divaksin

1 hari lalu

Petugas kesehatan meneteskan vaksin polio kepada seorang anak saat pelaksanaan Sub Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio di Puskesmas Tambakrejo, Semarang, Jawa Tengah, Senin 15 Januari 2024. Kementerian Kesehatan menggelar Sub PIN Polio 2024 secara serentak di tiga provinsi yakni Jawa Tengah, Jawa Timur dan DIY dengan putaran pertama di bulan Januari dan putaran kedua pada Februari mendatang sebagai upaya menanggulangi kejadian luar biasa (KLB) polio. ANTARA FOTO/Makna Zaezar
Jelang PIN Polio 2024, Dokter Ingatkan Pentingnya Anak Divaksin

Dokter anak menyebut pentingnya orang tua mengikutkan anak di PIN polio 2024 untuk mencegah penyakit yang bisa menyebabkan kelumpuhan itu.


Aliansi Akademisi Desak Pemerintah Cabut Gelar Guru Besar yang Terbukti Gunakan Cara Curang

1 hari lalu

Para politikus dan dosen berlomba mendapatkan guru besar dan profesor. Mereka melakukannya dengan cara culas: memakai jurnal predator dan bersekongkol dengan para asesor di Kementerian Pendidikan.
Aliansi Akademisi Desak Pemerintah Cabut Gelar Guru Besar yang Terbukti Gunakan Cara Curang

Aliansi Akademisi Indonesia Peduli Integritas Akademik meminta pemerintah segera mencabut gelar guru besar yang terbukti menggunakan cara curang.


Jadi Guru Besar Lewat Jalur Instan, Pengamat Pendidikan: Ingin Dapat Privilage, tapi Karya Tidak Jelas

2 hari lalu

Para politikus dan dosen berlomba mendapatkan guru besar dan profesor. Mereka melakukannya dengan cara culas: memakai jurnal predator dan bersekongkol dengan para asesor di Kementerian Pendidikan.
Jadi Guru Besar Lewat Jalur Instan, Pengamat Pendidikan: Ingin Dapat Privilage, tapi Karya Tidak Jelas

Banyak kampus merestui pengangkatan gelar guru besar, meski tidak sesuai prosedur.


Kemendikbudristek Bilang Tim Investigasi Sedang Selidiki Gelar Guru Besar Abal-Abal di ULM

2 hari lalu

Para politikus dan dosen berlomba mendapatkan guru besar dan profesor. Mereka melakukannya dengan cara culas: memakai jurnal predator dan bersekongkol dengan para asesor di Kementerian Pendidikan.
Kemendikbudristek Bilang Tim Investigasi Sedang Selidiki Gelar Guru Besar Abal-Abal di ULM

Kemendikbudristek telah turun untuk investigasi dugaan rekayasa persyaratan menjadi guru besar oleh sebelas dosen ULM.


Sri Mulyani Bungkam saat Ditanya Kenaikan Harga Obat di Indonesia

2 hari lalu

Menteri Keuangan Sri Mulyani. TEMPO/Nandito Putra
Sri Mulyani Bungkam saat Ditanya Kenaikan Harga Obat di Indonesia

Menteri Keuangan Sri Mulyani tidak bersedia menjelaskan harga obat di Indonesia terus meningkat.


Riuh Skandal Guru Besar, Aliansi Akademisi Indonesia Duga Ada Konspirasi

2 hari lalu

Ilustrasi wisuda. shutterstock.com
Riuh Skandal Guru Besar, Aliansi Akademisi Indonesia Duga Ada Konspirasi

Aliansi menilai semakin banyak pejabat dan politikus yang diduga berhasil memperoleh guru besar dengan cara tidak benar.


Pentingnya Vaksin Polio sehingga Tak Boleh Dilewatkan

2 hari lalu

Petugas kesehatan meneteskan vaksin polio pada mulut anak balita saat pelaksanaan Sub Pekan Imunisasi Nasional (Sub PIN) Polio di Kota Madiun, Jawa Timur, Senin 19 Februari 2024. Imunisasi itu merupakan putaran kedua yang menyasar  kepada sekitar 18 ribu anak hingga usia delapan tahun di wilayah tersebut untuk memberikan kekebalan pada anak sekaligus upaya menanggulangi Kejadian Luar Biasa (KLB) polio menyusul penemuan kasus lumpuh layu di Pamekasan, Sampang Jawa Timur serta Klaten Jawa Tengah beberapa waktu lalu, dilaksanakan pada 19-25 Februari. ANTARA FOTO/Siswowidodo
Pentingnya Vaksin Polio sehingga Tak Boleh Dilewatkan

Dokter mengatakan bila orang tua tidak memberikan vaksin polio pada anak dikhawatirkan adanya penurunan perlindungan terhadap penyakit polio.


Istilah yang Populer Saat Pandemi Covid-19, mulai Anosmia, Long Covid, hingga Komorbid

3 hari lalu

Tenaga medis memeriksa tekanan oksigen kepada pasien Covid-19 di ruang ICU Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tipe D Kramat Jati, Jakarta, 8 Juli 2021. TEMPO / Hilman Fathurrahman W
Istilah yang Populer Saat Pandemi Covid-19, mulai Anosmia, Long Covid, hingga Komorbid

Apa itu Anosmia, Long Covid, dan Komorbid yang sangat akrab di telinga pada masa pandemi Covid-19?