E-Rokok, Lebih Berbahaya atau Mengurangi Perokok?  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • rokok elektronik/Milano

    rokok elektronik/Milano

    TEMPO.CO, California - Studi ilmiah baru-baru ini menunjukkan bahwa rokok elektronik atau e-rokok benar-benar membantu orang berhenti merokok. Namun, efeknya tak begitu besar. Malah beberapa perokok berat meragukan keampuhan e-rokok.

    Penelitian yang berbuah opini kontroversial ini menyatakan e-rokok bisa "mematikan" kebiasan merokok tembakau dan dapat menyelamatkan ribuan nyawa. Satu-satunya hal yang diacu oleh para pemakai perangkat tanpa asap ini, yaitu tak ada aturan apa pun ketika mengisap e-rokok.

    "Orang-orang cenderung selalu menggunakannya," kata Nathan Cobb, asisten profesor di Divisi Paru-paru dan Tindakan Kritis di Georgetown University School of Medicine, seperti dikutip dari Livescience, Senin, 20 Oktober 2014.

    E-rokok merupakan sebuah perangkat bertenaga baterai yang dapat mengubah cairan nikotin menjadi uap. Tetapi perangkat ini tak mengandung tembakau atau sesuatu yang menghasilkan asap. Penelitian menunjukkan, rokok elektronik mengandung lebih sedikit bahan kimia daripada rokok biasa. "Hanya, pengaruhnya pada kesehatan belum jelas," kata Cobb.

    Masalahnya, Cobb menambahkan, e-rokok menjadi semacam "terapi nikotin gelap". Maksudnya, rokok ini sama dengan metode nicotine replacement therapies (NRT) lainnya, seperti patch, permen karet, atau semprotan hidung. Tapi tak seperti metode NRT lain, dia menambahkan, e-rokok tak diatur oleh Food and Drug Administration (FDA). (Baca juga: Ketahui 5 Hal Penting Soal Rokok Elektronik)

    Cobb menyamakannya dengan membeli TV di pasar gelap. "Anda tak tahu apakah TV itu akan bekerja. Atau, bahkan, Anda tak tahu apakah TV itu akan meledak atau tidak," ujarnya.

    Artinya, menurut Cobb, menggunakan rokok elektronik sama saja mencoba untuk berhenti merokok tanpa tahu efek apa yang diberikan. Dia beranggapan, "Anda diberikan jaminan yang belum jelas," ujarnya. Karena itu, Cobb menyarankan untuk mencoba NRT yang sudah populer dan diatur.

    E-rokok memang dianggap memiliki tarif yang lebih murah daripada metode NRT lainnya. Dalam jurnal New England Journal of Medicine pekan lalu Cobb menulis, "Negara-negara miskin menggunakan e-rokok dalam jumlah besar."

    Penelitian lain yang diterbitkan di jurnal Cancer mengungkapkan bahwa pasien kanker yang mencoba berhenti merokok menggunakan e-rokok—yang sebenarnya lebih tergantung dengan nikotin—dua kali lebih mungkin untuk tetap merokok dibandingkan pasien yang berhenti tanpa menggunakan e-rokok.

    Lantas, Cobb menyarankan perlu penelitian lebih lanjut mengenai e-rokok. Karena popularitas rokok elektonik ini, kata dia, jumlah perokok di Amerika Serikat berkurang tiga kali lebih banyak dibandingkan yang memakai NRT lain.

    "E-rokok berpotensi besar membantu para perokok untuk berhenti merokok," ujar Stanton Glantz, profesor bidang pengendalian tembakau di University of California, San Francisco.

    Para ahli lain setuju penelitian lebih komprehensif perlu dilakukan agar para profesional medis dapat membuat kebijakan tentang posisi e-rokok. Michael Steinberg, Direktur Program Ketergantungan Tembakau di Robert Wood Johnson University Hospital di New Jersey, menganggap terlalu dini mengklaim e-rokok efektif dalam mengurangi jumlah perokok.

    "Para peneliti harus mulai dengan membandingkan e-rokok untuk obat nikotin," kata dia. Masalahnya, Steinberg mengatakan, belum ada bukti yang cukup untuk membuat kebijakan terhadap e-rokok.

    AMRI MAHBUB

    Berita Lainnya:
    Pawai di HI, Waria Minta Jokowi Hapus Diskriminasi
    Jokowi Presiden, Ini Harapan KPK Soal Korupsi
    Mirip Jokowi, Pria Ini Jadi Sasaran Selfie


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Forbes: Ada Perempuan Indonesia yang Lebih Berpengaruh Daripada Sri Mulyani

    Berikut sosok sejumlah wanita Indonesia dalam daftar "The World's 100 Most Powerful Women 2020" versi Forbes. Salah satu perempuan itu Sri Mulyani.