Selasa, 21 Agustus 2018

Racun Kalajengking, Sumber Obat Baru yang Sangat Diminati

Reporter:
Editor:

Erwin Prima

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seekor kalajengking berjalan di wajah Nabeel Mussa, yang hobi memelihara kalajengking dan ular di Riyadh, Arab Saudi, 17 Januari 2017. REUTERS/Faisal Al Nasser

    Seekor kalajengking berjalan di wajah Nabeel Mussa, yang hobi memelihara kalajengking dan ular di Riyadh, Arab Saudi, 17 Januari 2017. REUTERS/Faisal Al Nasser

    TEMPO.CO, San Francisco - Racun kalajengking telah mendapatkan perhatian sebagai sumber obat baru. Racun ini berisi campuran bahan kimia biologis yang disebut peptida, beberapa di antaranya diketahui memicu kematian sel dengan membentuk pori-pori dalam membran biologis.

    Baca: Inilah Fakta di Balik Racun Kalajengking Jantan

    Kematian sel dapat berguna jika kita mampu menargetkan, misalnya, sel-sel tumor untuk dihancurkan secara otomatis, menurut laman The Conversation.

    Racun ini dapat memiliki efek yang sangat kuat. Misalnya, satu peptida kecil tertentu, yang dikenal sebagai TsAP-1, diisolasi dari kalajengking kuning Brasil (Tityus serrulatus), memiliki sifat anti-mikroba dan anti-kanker.

    Namun, memanfaatkan kekuatan semacam ini untuk manfaat klinis sejauh ini menantang karena racun ini membunuh sel tumor dan sel sehat. Salah satu metode untuk mengendalikan toksisitas tersebut adalah dengan menggunakan nanoteknologi untuk membangun kendaraan pengantar obat yang dibuat khusus.

    Jika berhasil, obat beracun dilepaskan untuk membunuh hanya jaringan yang tidak diinginkan dalam tubuh. Salah satu upaya tersebut telah dilakukan oleh Dipanjan Pan di University of Illinois di Urbana-Champagne.

    Sementara itu, kalajengking biru (Rhopalurus junceus) lebih dari sekadar endemik beracun di pulau Kuba, sebagaimana dilaporkan laman Scorpion Worlds. Ini adalah aktor utama penelitian yang saat ini sedang dilakukan untuk menemukan obat untuk kanker payudara, penyakit yang telah mengakhiri kehidupan jutaan wanita di dunia.

    Demetrio Rodríguez Fajardo dari Meksiko, yang baru berusia 17 tahun, menemukan protein dalam racun kalajengking ini untuk mengobati dan menyembuhkan kanker payudara. Temuan ini membuatnya mendapatkan banyak pengakuan tetapi juga menghasilkan banyak kontroversi. Sementara, kenyataannya, racun kalajengking adalah bagian dari obat alternatif Kuba sejak lama.

    Produsen obat Kuba Labiofam adalah pencipta obat penghilang rasa sakit dan anti-inflamasi yang dikenal sebagai Vidatox. Obat ini dibuat dari racun kalajengking biru untuk meningkatkan kesehatan pasien yang menderita kanker, sudah membantu lebih dari 65.000 orang. Para pencipta mengklaim butuh 15 tahun untuk menghasilkan obat itu.

    Mungkin perbedaannya adalah bahwa penemuan Meksiko pertama berfokus pada penyembuhan kanker payudara, sementara obat Kuba mengkhususkan diri dalam meningkatkan kualitas hidup pasien dengan berbagai jenis kanker hingga 85 persen.

    Baca: Presiden Jokowi: Kalau Mau Kaya, Cari Racun Kalajengking

    Di Madison, Wisconsin, cara-cara baru telah dikembangkan untuk mendapatkan obat-obatan yang mengobati penyakit seperti gagal jantung, di mana komponen utamanya adalah racun kalajengking. Mereka, mulai dengan analisis 15 spesies arakhnida ini, menemukan bahwa kalajengking kaisar adalah salah satu dari mereka yang berperilaku mendukung dalam percobaan.

    SCORPION WORLDS | THE CONVERSATION

    Lihat juga video: Enggan Jadi Dokter, Anak Muda Ini Malah Sukses Bikin Belasan Kafe Kopi



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Daftar Prestasi Defia Rosmaniar Peraih Emas Pertama Indonesia

    Defia Rosmaniar punya sederet prestasi internasional sebelum meraih medali emas Asian Games 2018.