Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Gempa Lombok, PVMBG Temukan Sesar Baru

image-gnews
Seorang ibu menggendong anaknya yang terluka akibat gempa bumi di dalam tenda kesehatan di halaman RSUD Tanjung, Lombok Utara, NTB, Jumat, 10 Agustus 2018. Berdasarkan data BNPB, pengungsi korban gempa bumi Lombok sebanyak 270.168 orang yang tersebar di sejumlah tempat membutuhkan bantuan seperti makanan, air, obat-obatan, tenda, dan selimut. ANTARA
Seorang ibu menggendong anaknya yang terluka akibat gempa bumi di dalam tenda kesehatan di halaman RSUD Tanjung, Lombok Utara, NTB, Jumat, 10 Agustus 2018. Berdasarkan data BNPB, pengungsi korban gempa bumi Lombok sebanyak 270.168 orang yang tersebar di sejumlah tempat membutuhkan bantuan seperti makanan, air, obat-obatan, tenda, dan selimut. ANTARA
Iklan

TEMPO.CO, Bandung - Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Kasbani, mengatakan, tim yang dikirim memeriksa dampak kerusakan akibat gempa Lombok yang terjadi 29 Juli 2018 dan 5 Agustus 2018 menemukan sesar baru.

Baca: Kitab Kuno Aceh Ramalan Gempa Dipamerkan, Sebut Gempa Lombok?
Baca: Badan Geologi Bikin Sumur Bor untuk Pengungsi Gempa Lombok

“Tim tanggap darurat menyebut sesar permukaan ini sebagai Sesar Naik Lombok Utara,” kata dia di kantornya, di Bandung, Senin, 13 Agustus 2018.

Kasbani mengatakan sesar tersebut baru teridentifikasi setelah memeriksa kerusakan yang terjadi akibat dua gempa Lombok masing-masing berkekuatan 6,4 Skala Richter dan 7 Skala Richter yang berselang hanya sepekan.

“Sesar Naik Lombok Utara ini berarah barat-timur membentuk zona sesar dengan sebaran utara-selatan. Diperkirakan masih berasosiasi dengan Sesar Naik Busur Belakang Flores (Flores Back Arc Thrusst),” kata dia.

Sesar tersebut dipetakan Tim Tanggap Darurat yang bekerja dua pekan, sehari setelah gempa Lombok pertama tanggal 29 Juli 2018 dengan kekuatan 6,4 Skala Richter. Tim meneruskan pemeriksaannya setelah gempa kedua selang sepekan kemudian yang menghantam Lombok pada 5 Agustus 2018 dengan kekuatan hingga 7 Skala Richter. “Sesar ini yang menyebabkan kerusakan parah di daerah yang dilaluinya,” kata Kasbani.

Kasbani mengatakan, jejak sesar yang muncul di permukaan itu berupa retakan tanah, serta tanah yang bergerak naik hingga setengah meter. “Sesar permukaan berarah barat-timur itu mengindikasikan gerakan naik dengan offset vertical di Desa Sambil Bengkol, Kayangan, dan Selengan bervariasi antara 2 cm hingga 50 cm,” kata dia.

Kasbani mengatakan kerusakan akibat gempa pertama yang menghantam Lombok pada 29 Juli 2018 berada di wilayah Kabupaten Lombok Timur. Kerusakan terkonsentrasi di Dusun Malempo di Desa Obel-Obel, Dusun Katapang di Desa Mandayin; keduanya di Kecamatan Sambelia, serta Desa Sajang di Kecamatan Sembalun.

“Di tiga lokasi itu ditemukan retakan tanah yang berarah barat-timur. Retakan ini yang menyebabkan kerusakan parah pada bangunan yang dilaluinya,” kata dia.

Sementara gempa kedua yang menghantam Lombok sepekan kemudian terkonsentrasi di Lombok Utara. Kerusakan berat akibat gempa dengan kekuatan 7 Skala Richter itu tersebar di Dusun Tampes Desa Selengan, Dusun Braringan, Desa Kayangan, Kecamatan Kayangan, dan Desa Sambik Bengkol Kecamatan Gangga.

“Daerah tersebut tersusun oleh endapan Kuarter berupa rombakan gunung api muda yang telah mengalami pelapukan dan endapan aluvial pantai. Karakteristik endapan Kuarter ini memperbesar efek goncangan gempa bumi,” kata Kasbani.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Kasbani mengatakan, gempa Lombok juga menimbulkan likuifaksi atau pelulukan tanah. Peristiwa likuifaksi tersebut diikuti dengan memancarnya air ke permukaan tanah. Jejak fenomena likuifaksi tersebut ditemukan tersebar di Kecamatan Gangga, Kayangan, dan Bayan.

“Likuifaksi menyebabkan kekuatan daya dukung tanah itu berkurang, sehingga tidak bisa memberikan dukungan yang kuat pada bangunan di atasnya, akhirnya bangunan roboh,” kata dia.

Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi, PVMBG, Sri Hidayati mengatakan, tiga penyebab kerusakan bangunan akibat gempa Lombok. “Satu goncangan. Ada gedung yang roboh, bisa disebabkan oleh goncangannya. Kedua oleh surface rupture (sesar permukaan) atau deformasi di permukaan dan bahaya ikutannya yaitu gerakan tanah, dan ketiga likuifaksi,” kata dia di Bandung, Senin, 13 Agustus 2018.

Sri mengatakan, retakan yang ditemukan bervariasi panjangnya. Salah satu yang terpanjang ditemukan di Desa Sambik Bengkol dengan panjang 370 meter. “Semua area yang dilalui itu, rumah-rumahnya roboh, rusak semua,” kata dia.

Gempa Lombok juga meninggalkan jejak pergeseran naik atau off-set vertikal . “Pergeseran vertikal itu dari yang 2 cm sampai 50 cm. Kita bisa melihat betapa kuatnya gempa Magnitudo 7 itu di daerah Lombok Utara dalam hal ini di Selengan, Sambik Bengkol, dan Desa Kayangan,” kata Sri.

Sri mengatakan, pemerintah daerah setempat diminta menghindari membangun di atas daerah yang retak serta jejak-jejak pergerakan sesar naik. “Daerah ini kalau nanti kita bangun lagi, di situ kemudian terjadi gempa lagi, kemungkinan akan mengalami kerusakan yang sama,” kata Sri.

PVMBG memberikan sejumlah rekomendasi dari hasil penelitian tim tanggap darurat tersebut, di antaranya meminta pemda setempat agar bangunan vital yang mengundang konsentrasi banyak orang agar mengikuti kaidah bangunan tahan gempa, menghindari membangun pada daerah seputaran lereng terjal, serta melarang membangun di atas zona pergeseran tanah dan retakan akibat gempa Lombok, serta pemda diminta merevisi RTRW di Lombok Timur dan Lombok Utara.

“Pemerintah Kabupaten Lombok Timur dan Lombok Utara agar segera merevisi RTRW berdasarkan peta kawasan rawan bencana geologi yang dikeluarkan Badan Geologi mencakup bencana gempa bumi, tsunami, gunung api, dan gerakan tanah,” kata Kasbani.

Simak artikel lainnya tentang gempa Lombok di kanal Tekno Tempo.co.

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Top 3 Tekno: Mengenal Hash Password, Gempa Batang, dan Viral #PrayforGorontalo

1 hari lalu

Ilustrasi Password. Kredit: the Register
Top 3 Tekno: Mengenal Hash Password, Gempa Batang, dan Viral #PrayforGorontalo

Topik tentang hash password, yaitu mengamankan password dengan mengubahnya jadi serangkaian karakter unik menjadi berita terpopuler Top 3 Tekno.


Gempa Datang Bikin Resah Warga Batang, Sesar Mana yang Aktif?

1 hari lalu

Gempa Magnitudo 3.0, pada Sabtu pagi, 13-Juli 2024. Pusat gempa berada di darat 6 km Barat Daya Batang. X/BMKG
Gempa Datang Bikin Resah Warga Batang, Sesar Mana yang Aktif?

Meski tak merusak seperti yang terjadi pada Ahad, 7 Juli, lalu, getaran gempa terkini membuat warga Batang dicekam kekhawatiran.


Gempa Lagi di Batang, Ini Data Kekuatan dan Lokasi Sumbernya

2 hari lalu

Gempa Magnitudo 3.0, pada Sabtu pagi, 13-Juli 2024. Pusat gempa berada di darat 6 km Barat Daya Batang. X/BMKG
Gempa Lagi di Batang, Ini Data Kekuatan dan Lokasi Sumbernya

Guncangan terkuat sama diperkirakan pada skala III MMI dibandingkan gempa merusak pada 7 Juli lalu.


Top 3 Tekno: BMKG Soal Ombak 4 Meter, Hujan di Gorontalo, dan Gempa Terkini

2 hari lalu

Ilustrasi BMKG
Top 3 Tekno: BMKG Soal Ombak 4 Meter, Hujan di Gorontalo, dan Gempa Terkini

Top 3 Tekno Berita Terkini pada Sabtu pagi ini, 13 Juli 2024, seluruhnya berhubungan dengan BMKG.


Info Gempa Terkini BMKG, 2 Gempa Darat Bisa Dirasakan Guncangannya

3 hari lalu

Ilustrasi gempa. REUTERS
Info Gempa Terkini BMKG, 2 Gempa Darat Bisa Dirasakan Guncangannya

Selain dua gempa itu, BMKG juga mengungkap antara lain gempa dari laut, 114 kilometer barat daya Sumur, Pandeglang, Banten.


Top 3 Tekno: Gempa M7,0 Kepulauan Sangihe, Viral #PrayforGorontalo, IKN Diduga Bakal Mangkrak

3 hari lalu

Seismograf gempa bumi. ANTARA/Shutterstock/pri
Top 3 Tekno: Gempa M7,0 Kepulauan Sangihe, Viral #PrayforGorontalo, IKN Diduga Bakal Mangkrak

Topik tentang gempa magnitudo 7,0 tercetus dari laut 373 kilometer arah barat laut Tahuna, Kepulauan Sangihe, menjadi berita terpopuler Top 3 Tekno.


Gempa M7,0 Tak Picu Tsunami dan Diperkirakan Tak Sampai Merusak Mindanao Selatan

4 hari lalu

Lokasi pusat gempa M7,0 di Kepulauan Sangihe, Sulut, pada Kamis pagi 11 Juli 2024. Foto : X
Gempa M7,0 Tak Picu Tsunami dan Diperkirakan Tak Sampai Merusak Mindanao Selatan

Belum bisa segera diketahui dampak dari gempa Magnitudo 7 (M6,7 menurut GFZ atau M7,1 menurut USGS) di Filipina Selatan pada Kamis pagi, 11 Juli 2024.


Gempa yang Guncang Enggano di Bengkulu Utara, BMKG: Aktivitas Lempeng Benua yang Dangkal

4 hari lalu

Lokasi pusat gempa di Bengkulu. Foto : BMKG
Gempa yang Guncang Enggano di Bengkulu Utara, BMKG: Aktivitas Lempeng Benua yang Dangkal

Setelah tadi malam, gempa kembali mengguncang wilayah pantai barat Sumatera, tepatnya Bengkulu Utara, pada Kamis subuh, 11 Juli 2024.


Gempa M7,0 Baru Saja Terjadi, Ini Lokasi dan Dampaknya Menurut BMKG

4 hari lalu

Ilustrasi gempa. geo.tv
Gempa M7,0 Baru Saja Terjadi, Ini Lokasi dan Dampaknya Menurut BMKG

BMKG mencatat gempa itu terjadi pada Kamis pagi ini, 11 Juli 2024, pukul 09.13 WIB atau 10.13 waktu setempat.


BRIN Anjurkan Peta Batimetri untuk Pengumpulan Data Prediksi Tsunami

4 hari lalu

Prototipe WaveXradar untuk pengukuran batimetri di sekitar area pantai. Radar bekerja hanya dengan gelombang elektromagnetik dari permukaan laut. (FOTO: TEMPO/ANWAR SISWADI)
BRIN Anjurkan Peta Batimetri untuk Pengumpulan Data Prediksi Tsunami

Hasil pemetaan topografi bawah laut atau batimetri bisa dimanfaatkan sebagai basis data prediksi bencana, terutama tsunami.